Hadirkan Mekkah-Madinah Ke dalam Hatimu

(Liputan Sinau Bareng Grebeg Suran di Baturan, Colomadu, Karanganyar, 1 September 2019)

Kalender Hijriyah diberi nama Hijriyah karena diambil dari peristiwa penting dalam sejarah umat Islam, yakni pindahnya Nabi Muhammad dari Mekkah menuju Madinah. Hari berlangsungnya perpindahan itu ditetapkan sebagai tanggal pertama dalam penanggalan kalender Hijriyah.

Hal itu berarti bahwa penentuan kalender Hijriyah bukan berdasarkan sosok atau kriteria lain yang bersifat alam, melainkan berdasarkan peristiwa.

Peristiwa berarti dinamika atau gerak. Maka, demikianlah hijrah yang berarti berpindah. Kita kemudian bisa memaknai Hijriyah sebagai berarti hidup yang hijrah terus-menerus. Hijriyah berarti ora mandeg, bergerak terus, berijtihad terus-menerus.

Maka, acara seperti Grebeg Suran yang dimaksudkan menyambut tahun baru 1 Suro/1 Muharram, titik tekannya perlu digeser menjadi bukan sekadar memperingati, tetapi mengawali masuk satu putaran tahun baru Hijriah. Sebab, memperingati lebih terasa sebagai seremoni, tetapi mengawali bertitik tekan pada kesadaran dan internalisasi.

Jangan lupa pula, dan ini mungkin tak pernah kita lihat kaitannya sebelumnya, mengingat hijrah Kanjeng Nabi dari Mekkah ke Madinah juga perlu disertai kesadaran bahwa dua kota ini adalah kota di mana Dajjal tidak dapat masuk ke dalamnya. Karena itu, hadirkanlah Mekkah dan Madinah ke dalam hatimu, agar Allah Robba haadzal bait menjamin dan memberikan keamanan bagi hidupmu.

Inilah sedikit dari pesan-pesan yang disampaikan Mbah Nun berkaitan dengan topik Grebeg Suran tadi malam.

Getaran Thala’al Badru ‘Alaina

Selain tiga poin di atas, tentu saja banyak sebaran yang juga dapat kita ambil. Tetapi saya cukup merasa diajak mencicipi bagian dari hijrah Nabi Muhammad yaitu ketika orang-orang Anshor atau penduduk Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad. Mereka melantunkan thala’al badru ‘alaina min tsaniyyatil wada’. Semalam thala’al badru ini dihadirkan KiaiKanjeng dan bibir Mbah Nun menjadi pintu terucapnya syair-syair itu dengan cukup menggetarkan hati.

Rasanya seperti kurang sempurna memang memeringati Hijrah Kanjeng Nabi tanpa melantunkan thala’al badru ‘alaina ini. Bahkan Mbah Nun berkata kemudian, “Selama (melantunkan) thala’al badru ‘alaina tadi, saya punya cita-cita, kalian dan saya matinya pas kiamat. Sebab pas kiamat itu enak, karena sudah ngalami era Dajjal berlalu, kemudian era Yakjuj Makjuj, dan seterusnya dan puncaknya nanti Kanjeng Nabi rawuh, dan kita menyambutnya dengan thala’al badru ‘alaina min tsaniyyatil wada’ wajabas syukru ‘alaina ma da’a lillahi daa’.

Kita perlu menghidupkan imajinasi kita, kita perlu menghidupkan perasaan kita, kita perlu menghidupkan kepekaan kita. Dalam Sinau Bareng, suara dan kehadiran Mbah Nun cukup efektif membantu kita ke sana. Sehingga, hati kita tidak kering. Syaikh Nursamad Kamba pernah menyitir at-Thahannuwi yang mendefinisikan agama secara sangat bagus. Agama adalah suasana keilahian yang mendorong manusia mencari kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Jadi, suasana keilahian itulah indikator beragama. Suasana keilahian adalah suasana yang mendorong manusia untuk lebih banyak melakukan kebaikan, kebijaksanaan, dan akhlak yang terpuji. Hati dilatih untuk lebih lembut dan diisi dengan kecenderungan-kecenderungan yang mendekatkannya kepada Tuhan. Dengan perspektif dua kata ini, suasana keilahian, kiranya kita bisa sinau dari dan tentang Sinau Bareng.

“Perdamaian” Ibu-Ibu Panitia

Genset yang mati sudah bisa diganti sehingga lampu dan sound bisa kembali seperti sediakala, suasana terus berlanjut, di antaranya dengan diajaknya jamaah kepada menikmati lagu. Mbah Nun minta ibu-ibu Panitia yang ikut berada di panggung untuk ikut mempersembahkan. Mbak Yuli dan Mbak Nia membantu mereka. Salah satu nomor yang dibawakan adalah Perdamaian-nya Nasyida Ria Semarang. Tapi ternyata ibu-ibu ini tak hanya piawai berqasidah, karena sesudahnya mereka memilih manyanyikan lagu Barat, apa ya judulnya, yang ada kalimatnya I Don’t Know Why itu. Kita memang suka bikin stereotip yang bikin sempit pandangan dan salah sangka.

Giliran berikutnya ada Bapak-Bapak dari warga Baturan yang menyumbangkan lagu “Falling In Love With You”, dan Pak Lurah membawa kita kembali ke nusantara lewat lagu Koes Plus “Jo Podho Nelongso.” Semua ditata dengan memberikan waktu pula kepada perwakilan tiga kelompok, yang menjawab tiga pertanyaan Mbah Nun tentang: perbedaan tahun Masehi dan Hijriah; perbedaan antara negeri Madinah dengan sistem-sistem politik sesudah mas Rasulullah; dan perbedaan antara khalaqa dan ja’ala.

Seperti kita lihat bersama jawaban mereka relatif bagus-bagus, dan kita bisa menikmati keindahan grogi-groginya Rafi, yang adalah mahasiswa UMS di depan Mbah Nun, berbicara di depan Mbah Nun, tapi jawaban-jawaban dia bergerak di track yang benar. Hasilnya, dia dapat bonus dirangkul Mbah Nun.

Demikianlah sebagian suasana yang saya rasakan (dan tentu tak mampu saya gambarkan secara representatif) detail suasana Sinau Bareng Grebeg Suran tadi malam, tapi wujud suasana yang lengkap: gembira, khusyuk, akrab, khidmat berpikir, mencintai, dll dalam Sinau-Sinau Bareng; saya berharap semua itu adalah suasana keilahian.

Buku Cak Nun