Hadiah Nubuwah di Akhir Zaman

Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, Yogyakarta, 17 Oktober 2019

“Maiyah ini adalah hadiah dari Allah untuk anda semua.” Semoga pembaca yang budiman bisa merasakan hal seperti yang saya rasakan ketika mendengar kalimat tersebut diucapkan oleh Mbah Nun pada malam 17 Oktober 2019 M kali ini, di Mocopat Syafaat. Rasa apa ya namanya? Lega, tapi seperti mau nangis. Dasar cengeng. Atau mungkin perasaannya pembaca bisa berbeda, juga tidak apa. Namanya perasaan tidak bisa dipaksakan. Apa bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan ketika kamu membuka pintu sebuah rumah, yang di mana di situlah dulu kamu menghabiskan masa kecilmu? Entahlah, saya merasakannya seperti itu. Dasar rindu. Nakal.

Kata hadiah, bukankah terdengar seperti kata “hidayah”? Sesuatu yang sebagai penerima kita tidak tahu kapan, atas dasar apa, atau dengan alasan kenapa kita diberi? Alasan pastinya, hanya pihak pemberi yang tahu. Dan selalu ya memang cuma-cuma, minim nilai transaksi di dalamnya.

Wiridan SJW (Segala Jaman Warrior) Maiyah di Akhir Zaman

Pada mulanya adalah malam di Kasihan, Tamantirto, Bantul, planet Bumi (atau begitulah manusia pada budaya ini menamakan diri planet mereka). Tepatnya pada wilayah kesadaran Maiyah. Manusia-manusia kinasih berkumpul di jalur barisan nubuwah itu. Ba’da sholat Isya, Mas Ramli menempati posisi di panggung untuk melantunkan ayat-ayat suci mensucikan. Deresan Al-Qur’an dan kemudian tetaburan shalawat, semburat shalawat serta gelimang broadcast melalui sinyal rohani mengirimkan Al-Fatihah kepada para pendahulu, kepada seluruh makhluk maupun kepada segala keberadaan di berbagai arah, pada berbagai kemungkinan serta di segala penjuru waktu. Kepada semua yang kita cintai. Dan wabilkhusus kepada gurunda kita Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Tak lama berselang. Kawan-kawan dari NM dan RMS, di antaranya ada Mas Fauzi dan Mas Angga menempati panggung untuk membawakan sesi diskusi pembuka. Dan kali ini ada amanat khusus, yakni dipraktikkannya Wirid Akhir Zaman dengan dibimbing oleh para pengampu panggung tadi. Wiridan ini sudah dimuat di web kita dan beberapa selebaran disebar. Bisa dibilang, ini adalah sesi pengijazahan wiridan walau sepertinya di Maiyah jarang juga ada ijazah ala lelaku spiritual yang didramatisir dan diserem-seremin secara mistis. Kita bisa menolak untuk kelegen dalam nypiritual tapi kita sebagai manusia perlu mengakui bahwa dalam hidup tetap dan hampir pasti ada yang kita sakralkan dalam hati.

Bagaimanapun Mbah Nun adalah orang tua kita, atau tepatkah kita sebut sebagai orang tua kolektif? Apapun itu, saya menafsirkan wiridan ini adalah bentuk cinta dari Mbah Nun kepada para SJW Maiyah. Lho koq SJW? Nanti memang ada bahasan yang menyinggung soal fenomena SJW serta pasukan pendengung yang berisik. Tapi itu nanti. Kalau di universe medsos, yang namanya SJW selalu merupakan penyingkatan dari Social Justice Warrior. Di sini saya mengartikannya sebagai Segala-Jaman-Warrior. Ini terinspirasi pada saat ketika Mbah Nun mengatakan “Manusia Maiyah adalah manusia all-season, manusia segala zaman.” Saya memang mengartikannya dengan sedikit menyalahi kaidah berbahasa yang benar. Padahal konon ini adalah bulan bahasa.

Tepatlah kiranya pada sesi diskusi pambuko ini, fenomena-fenomena yang sedang marak di sekitar kita pada waktu berlakangan dibahas dengan penuh mesra dan cukup serius. Tentu saja fenomena kekinian yang cukup erat dengan keseharian kita.

Ini adalah bulan Oktober 2019 M, dan yang ingin saya katakan adalah, tahun 2019 ini cukup banyak fenomena yang menarik. Dan masyarakat species manusia sedang dalam gejolak yang teramat. Bulan lalu para pemuda dari berbagai lapisan di Yogyakarta berkumpul di Gejayan dalam sebuah aksi yang dinamakan “Gejayan Memanggil” dan kemudian disusul “Gejayang Memanggil II” banyak hal baru di dalam ini. Sementara baru beberapa hari yang lalu salah satu bintang film seri Friends, Jennifer Aniston baru saja membuat akun Instagram, yang langsung menuai kerinduan para penggemar serial ini dulunya. Saya ikut turun ke jalan Gejayan dan saya juga, sebagaimana kebanyakan anak muda seangkatan, adalah penggemar serial Friends yang langsung antusias (baca: hampir jejeritan) ketika mengetahui Jennifer Aniston membuat akun Instagram. Nah itu apa hubungannya? Kan ndak ada.

Dunia semakin riuh dan mungkin memang sepanjang sejarah species manusia, dunia selalu riuh. Tapi selalu ada yang berjalan di sirothol kesunyian dan titian kasunyatan. Pembaca yang budiman bisa coba melihat jadwal kegiatan Mbah Nun dan KiaiKanjeng selama sebulan lalu sampai bulan ini, tak pernah berhenti berjalan. Sangat padat, sangat serius membangun  keutuhan, kelengkapan serta kejangkepan setiap unsur manungso dan kamanungsan.

Tak lama berselang, setelah pengijazahan wirid akhir zaman. Mas Helmi memasuki area panggung dengan ditemani oleh Mas Fahmi. Mas Fahmi adalah koordinator simpul, juga penulis yang sangat aktif di web kita bersama ini, lulusan Gontor, suka pakai topi. Komplit, hanya sayangnya masih belum berevolusi sempurna karena masih jadi suporter tim sepakbola. Mbok sudah, tidak usah lagi ada suporter dan olahraga sepakbola di dunia. Saya kan ndak suka. Dasar egois saya.

Kolaborasi cimaik antara NM-RMS serta duet Mas Helmi dan Mas Fahmi membawa kita pada diskusi-diskusi yang tambah seru dan mengena. Mas Helmi membawa pada bahasan mengenai kehidupan beragama manusia modern, sedangkan Mas Fahmi membantu kita agar tidak terlalu salah paham mengenai fenomena buzzer alias pendenggung di medsos serta fenomena SJW dalam artian yang banyak beredar di medsos juga.

Jiwa telah dibasuh oleh wirid dan akal telah dipacu dengan diskusi. Shalawat Badar melantun, Mbah Nun hadir disambut tatapan rindu dari para jamaah.

Kemesraan Nubuwah Lintas Zaman, Lintas Galaxy 

Sejak sangat mula ketika berada di panggung, Mbah Nun langsung menyibak tirai kemesraan. Betul-betul sejak awal, sejak salam. Ketika mengucapkan salam pada para anak-cucu Jamaah Maiyah, Mbah Nun sempat utarakan bahwa tanpa diucapkan pun sesungguhnya doa salam dari Mbah Nun sesungguhnya selalu mengalir tanpa henti setiap waktu dan selalu ikut dalam aliran darah anak-anak dan cucu-cucu. Ya, kita-kita ini. Dan Mbah Nun sampaikan juga bahwa semua yang hadir, seluruh JM ini sesungguhnya adalah “anak asuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW”. Apa yang lebih mesra dari cinta yang dialirkan menuju pada muara cinta kasih. Apa yang lebih terasa seperti shalawat dibandingkan ini?

Ada sedikit haru ada sesekali candaan jenaka “Setidak jelas-tidak jelasnya Mustofa (Pak Mustofa W Hasyim) ngomong, lebih tidak jelas lagi Republik Indonesia,” kata Mbah Nun. Dari haru kemudian pecah tawa. Jadi bertambah cinta. Pada masa catatan ini dibuat, masih ada satu entitas beku bernama negara dengan konsep nation-state. Ini adalah pesan untuk barisan jalur nubuwah di masa depan, yang lahir ratusan, ribuan atau ratusan ribu tahun setelah zaman ini. Mungkin saat era kalian, bentuk negara sudah tidak ada karena tampaknya sebentar lagi memang trend ini akan selesai. Saya harap pada masa kalian itu, komunikasi lintas planet atau antar galaxy sudah menjadi kenyataan. Dan begitu, tetaplah bertahan dalam keteguhan jalur nubuwah dengan kemesraan-kemesraannya.

Catatlah bahwa beginilah Majelis Maiyah selalu berjalan. Sesekali ada obrolan ini-itu, membercandai negara bukan karena benci atau mengkritik apa-apa. Kita hanya menjadikannya pembicaraan yang wajar. Negara masa tidak boleh ditertawakan? Kalau tuhan saja tidak perlu dibela, kenapa negara jadi terlalu sakral belakangan ini? Kami hidup pada masa yang sangat terbulak-balik akal pikiran serta skala prioritas perjuangannya. Kalian masa kininya adalah masa depan kami, janganlah mengulangi kesalahan ini. Soal skala prioritas ini sekali lagi Mbah Nun mengingatkan kita dengan mengatakan “Kita harus bikin manajemen dan skala prioritas yang tepat dalam ini”.

Soal Wirid Akhir Zaman, Mbah Nun jelaskan bahwa yang paling utama bukanlah bentuk bacaan wiridnya, bukan jumlah berapa kali dia dibaca tapi yang paling pertama dan utama adalah soal kesungguhan hati kepada Allah Swt.

Mungkin ada pertanyaan yang muncul. Kalau ini adalah wirid akhir zaman? Apakah dia masih akan berlaku di masa depan? Saya merasa masih. Karena sesungguhnya setiap zaman selalu melahirkan perspektif akhir zamannya sendiri-sendiri. Setiap zaman adalah akhir sekaligus juga pembuka bagi zaman baru. Sebuah zaman jelas akan berakhir manakala segala hal yang semestinya cair, dipadat-padatkan, dibekukan hingga buntu. Kebuntuan mengarah pada keterpecah-belahan. Dan kata peringatan di toko alat masak dan alat makan “memecahkan berarti membeli.” Menyatukan adalah perjuangan.

Buku dan Merchandise