Generasi Baru

Mukadimah Suluk Pesisiran Mei 2019

Di tengah ramainya peradaban pasar seperti sekarang terjadi, sesekali perlu rasanya menengok agak kekiri, pada pendapat sosiolog berhaluan bergerian yang menganalisa bahwa generasi yang terlahir belakangan bukan generasi yang terbaik namun bisa jadi merupakan generasi yang beruntung.

Anggapan tersebut boleh jadi cermin realitas, bisa jadi adalah kiasan yang berbentuk kritik halus pada keadaan yang tengah terjadi di masyarakat.

Generasi terlahir belakangan atau nyaring disebut genarasi milenial dianggap beruntung karena generasi ini telah melihat berbagai macam kerusakan yang dicetak oleh generasi yang mendahuluinya dengan lebih lengkap, didukung oleh teknologi, terbuka akses informasi serta dari pengamatan empiris. Secara naluriah generasi yang lebih baru pasti tidak ingin melakukan hal serupa.

Karenanya, mereka akan berusaha untuk terus menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya. Pemetaan dan penyelesaian masalah yang dihadapipun secara intuitif yang lebih efektif dan taktis daripada seniornya yang kerap limbung dan mudah terkena cultural shock syndrome.

Tumbuhnya generasi baru diharapkan menggeser pemahaman yang menempatkan Manusia sebagai objek dan sasaran political will. Digiring, dimobilisasi, dicacah, dikapling-kapling sedemikian rupa sehingga yang tersisa hanya ambisi untuk berkuasa dan saling menguasai.

Generasi baru, tidak sibuk menilai karakter orang lain hingga lupa diri bahwa masih banyak kekurangan dan ketidak sempurnaan. Kehadiran satu satu sama lain bukan hanya berhenti untuk saling menguasai namun lebih pada menjaga dan menyempurnakan rantai kehidupan sehingga perputarannya tak hanya mandeg di satu sisi bagian saja.

Perputaran yang menyeluruh inilah yang bisa jadi adalah bentuk riil dari konsep Rahmatan Lil Alamin. Gerak putarannya bisa jadi kekanan, ke kiri, keatas bawah, elips atau membundar tidak jadi persoalan, yang terpenting masing-masing yang terlibat didalamnya bergerak, menjaga kestabilan masing-masing dengan kemampuan mempercepat atau memperlambat secara mumpuni.

Generasi Baru diangkat sebagai tema Majelis Suluk Pesisiran pada bulan Mei 2019 ini tentu bukan ditujukan untuk merubah kita sekonyong-konyong menjadi baik sebagai manusia dalam komunitas yang seratus persen ala malaikat, namun upaya nyicil memperkuat dan menyempurnakan pondasi yang telah ada, teguh dalam kuda-kuda yang sudah terpancang.

Buku Cak Nun