Fiina Gelembung Terbesar Kita

Di antara hal yang bisa sama-sama kita nikmati dalam Sinau Bareng adalah cara Mbah Nun memberikan ragam contoh mengenai seyogianya hubungan manusia dengan al-Qur’an. Maksudnya, bagaimana kita merespons dan coba menangkap pesan atau makna-makna di balik ayat. Dari sini, kita dapat mencatat, ketika sebuah ayat sampai pada kita, reaksi yang muncul dari kita dapat menggambarkan hubungan batin kita dengan al-Qur’an itu sendiri.

Dalam majelis Sinau Bareng, Mbah Nun menjadi contoh tentang hubungan itu. Sangat sering kita melihat bagaimana ayat-ayat al-Qur’an memantik gairah intelektual maupun emosional pada diri Mbah Nun. Pada saat bersamaan, kita juga melihat bahwa ayat-ayat tidak diucapkan sebagai dalil-dalil untuk menceramahi orang atau menilai orang yang sejatinya hanya di tangan Allah hak itu ada; dan lain-lain sejenis yang Anda semua telah mengerti.

Dalam beberapa Sinau Bareng, Mbah Nun menyitir ayat al-Qur’an berbunyi walladzina jaahadu fiina lanahdiyannahum subulana. (Dalam penafsiran Mbah Nun: dan mereka yang bersungguh-sungguh di dalam Kami, maka niscaya Kami tunjukkan jalan-jalan Kami). Pada saat mengulas ayat ini, saya melihat ada pancaran passion yang kuat pada diri Beliau, ada pula terlihat eureka karena baru saja sebuah pemahaman ditemukan, atau juga keterpesonaan memancar dari wajah beliau terhadap ayat itu, bahkan pada satu kata tertentu yang mengandung suatu makna yang sangat penting.

Pada ayat itu, kata yang menurut beliau kunci adalah fiina yang secara harfiah berarti di dalam Kami (Allah). Mbah Nun terkesan dengan komposisi fii dan na. Fii yang lazimnya dipakai untuk digabung dengan nama tempat, waktu, atau kata bentukan, tapi tidak pernah langsung melekat pada (dhomir) subjek. Tetapi kata fiina memberi contoh bagi jenis yang terakhir yang jarang itu. Kata fiina ini jadinya mendapat perhatian khusus dari Mbah Nun, dan segera mengantarkan kepada pemaknaan bahwa kalau kita sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, tanpa birokrasi yang rumit atau sarana yang macam-macam, sudah langsung berada di dalam Allah.

Nalar kita akan cenderung mengatakan semestinya di antara kata “dalam” dan “Allah” ada satu kata lagi misal “di dalam kasih-sayang Allah”, “di dalam naungan Allah”, dan lain-lain. Dengan cepat pula, Mbah Nun menangkap redaksi yang khusus ini bukan tanpa maksud. Bagi Mbah Nun, maksud itu terasa gamblang: Allah sangat menghargai orang yang bersungguh-sungguh. Lewat ayat ini pula, Mbah Nun menunjukkan pada kita bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh mengerjakan fadhilah-nya tempatnya sangat jelas di depan Allah. Ini hal-hal sehari-hari bukan? Mengerjakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, menjalankan peran dan fungsi dengan semaksimalnya, ternyata Allah memberi tempat khusus. Tapi kita tak pernah membawa ayat ini ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Tanpa kita sadari kita menjauhkan ayat-ayat al-Qur’an dari hidup keseharian kita.

Tidak hanya itu. Kata fiina juga segera membuat Mbah Nun loading dan connect dengan satu rumusan perspektif yang pernah sebelumnya Beliau sampaikan yakni mengenai gelembung-gelembung dalam kehidupan. Ada gelembung keluarga, gelembung bangsa/tanah air, gelembung agama, dan gelembung lainnya. Ketika itu, kita semua diajak belajar mengenai cinta. Intinya, tidak bisa kita mengatakan cinta kita kepada keluarga adalah 20 persen, kepada tanah air 30 persen, lalu kepada agama 50 persen. Yang benar adalah kepada keluarga kita mencintai 100 persen, kepada tanah air 100 persen, dan kepada agama 100 persen. Maka, tidak bisa cinta kita kepada tanah air diperlawankan atau dipertandingkan dengan cinta kita kepada Allah. Demikian pula tak bisa dipertandingkan antara Pancasila dengan Islam.

Kita hidup di dalam gelembung-gelembung, dengan struktur gelembung yang besar/luas mengandungi gelembung yang lebih kecil, dan gelembung terbesar yang mengandungi semua gelembung itu adalah Kami (Allah). Di mata Mbah Nun, ata fiina langsung klop dengan perspektif gelembung yang memang cocok dengan fii, yaitu di dalam gelembung. Berulang-kali dalam Sinau Bareng belakangan ayat ini Mbah Nun sebut dengan penekanan pada kata fiina dikaitkan dengan ihwal jaminan Allah kepada orang yang sungguh-sungguh dan tentang gelembung kehidupan.

Namun, apa yang ingin saya catat di sini adalah kita mendapatkan contoh sangat banyak di dalam Sinau Bareng tentang hidupnya suatu hubungan antara diri manusia dengan al-Qur’an melalui Mbah Nun di mana hubungan-hubungan itu ditandai oleh passion, curiosity, gairah, semangat penggalian, kelekatan, dan lain-lain kualitas terhadap al-Qur’an. Sementara saya sering menjumpai diri saya berkebalikan: kalau pas harus menghapalkan ayat-ayat al-Qur’an itu tak ubahnya menghapalkan kunci jawaban untuk menghadapi ujian sekolah. Itu masih sering lupa-lupa. Umur makin bertambah, tapi hubungan dengan al-Qur’an masih gitu-gitu aja. Tak kunjung dewasa dan matang.

Buku Cak Nun Majalah Sabana