Exodus

Mukadimah SabaMaiya Januari 2019

Dikisahkan di kitab suci bahwa Nabi Musa AS beserta pengikutnya dari Bani Israil yang berjuang melawan kezaliman. Mereka terjebak di antara dua kematian. Maju dihadang laut merah, diam atau mundur bakal dihabisi serdadu Fir’aun. Lalu Tuhan pun memberi mukjizat kepada Nabi Musa AS. Setelah tongkat Beliau dipukulkan, Air Laut Merah pun tersibak ke kiri dan ke kanan, membentuk jalan di antara dinding air yang memberi kesempatan bagi Nabi Musa AS dan pengikutnya melarikan diri. Ketika tentara Fir’aun mengejar, tiba-tiba dinding air laut runtuh dan menenggelamkan mereka.

Itulah kisah tentang perjuangan sekelompok orang tertindas yang bersatu padu berjuang untuk melakukan pembebasan diri mereka. Semangat dan kerja keras mereka telah menciptakan “keajaiban”; sesuatu yang semula tidak mungkin menjadi mungkin dan nyata. Laut persoalan pun terbelah dan kemungkinan pun menjelma, nyata.

Dikisahkan pula bahwa Nabi Muhammad SAW yang memimpin para sahabat dan kaumnya melakukan hijrah untuk membangun masyarakat dan peradaban baru di Madinah, yang merupakan awal dari kemerdekaan mereka. Adapun hijrah Nabi Muhammad SAW dan kaumnya ke Madinah ialah karena Mekah sedang dikuasai kaum kufur Quraisy dan ka’bah dikerumuni oleh terlalu banyak berhala.

Dengan faktor-faktor baru sejarah umat manusia sekarang, sistem nilai kini sudah sama sekali lain. Berhala yang menyelubungi ka’bah ketika itu kini berubah bentuknya, dan kaum kafir quraisy yang menguasai wilayah ka’bah mungkin kini adalah yang disebut “sistem dajjal” dengan beberapa pelakunya : entah berbaju merah, berbaju kuning, berbaju biru, berbaju hijau atau yang lain.

Agama tidak lagi dijadikan metode untuk membuat hati sibuk dan fokus ke Tuhan. Kesibukan keagamaan telah bergeser ke wilayah perdebatan tata cara peribadatan dan segala sesuatu yang bersifat formalistik simbolik. Jangan-jangan ini cara kaum sekuler untuk mencegat manusia agar tidak benar-benar sempat melanjutkan perjalanan keruhaniannya.

Di sisi yang lain dan seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa secara online kita akses. Dunia yang kita tempati saat ini, telah menjadi medan perang yang kasat mata. Medan perang yang ada tapi tak disadari keberadaannya oleh kebanyakan manusia genderang perang telah dipukul dalam medan yang namanya perang pemikiran. Tak heran berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut laksana dari senjata-senjata perengut nyawa. Isu sekularisasi, kapitalisasi, liberalisasi, pluralisasi, dan sebagainya telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran kita. Ia menjadi virus ganas yang sulit terdeteksi. 

Ada ungkapan “Kalau tanah tak bisa lagi menumbuhkan tanaman, harus dibersihkan segala kotoran dan anasir ketidaksehatan tanah itu. Kalau daya upaya tak mencukupi untuk proses pembersihan dan penyehatan, maka dicari kemungkinan untuk menemukan tanah yang lain.”

Eksodus pemikiran menjadi sangat penting mengingat kemungkinan besar pemikiran kita telah terserang virus ganas tersebut. Eksodus masyarakat dari Nar menuju Nur, dari disinformasi menuju informasi, dari tidak paham menjadi paham. Perpindahan dari belum tahu ke tahu, perjalanan dari belum mengerti ke mengerti, itu yang disebut eksodus kualitatif atau siklus trasformasi dari derajat benda ke cahaya, dari kepekatan menuju ketercerahan, disitulah halte-halte hakekat perjumpaan hamba dengan Tuhannya.