Era Minimalis

Mukadimah SabaMaiya Agustus 2019

Mendengar kata minimal, otak kita akan merespons serta mendefinisikan tentang sesuatu yang kecil atau sedikit. Itu merupakan kebalikan dari ungkapan maksimal yang berkonotasi sesuatu yang besar, banyak atau tinggi. Tolok ukurnya pun nisbi sesuai dengan isi otak masing-masing.

Bahkan di berbagai hal, standar minimal dan maksimal akan selalu muncul membersamai dalam setiap keputusan. Entah itu ekonomi, pendidikan hingga urusan gairah perut maupun hal-hal lain. Hanya saja orientasi minimal-maksimal akan mengerucut ke arah internal atau eksternal secara prinsipil.

Jarak lumrah standar minimal biasanya muncul dan lebih dominan di saat  bersinggungan dengan eksternal, terlebih jika urusan dengan Tuhan. Maka standar minimal akan selalu muncul pertama kali di layar otak kita, baik secara materi maupun non materi.

Era kekinian mesin kalkulator sudah menjadi bagian penting dalam otak kita. Sehingga falsafah kalkulus (itung-tungan) akan menjadi gaya hidup dengan sendirinya. Apa pun akan dihitung dengan keputusan untung-rugi serta modal-laba. Tidak salah jika ada ungkapan “modal sak emprit bathine sak gajah”. Termasuk juga dalam hal yang menjadi kewajiban, kita terbiasa menentukan standar minimal. Sedangkan untuk hak, kita munculkan standar yang maksimal.

Sering dijumpai ketika ada yang menerima kritik atau saran, dengan seloroh yang kurang bertanggung jawab menjawab “ya, itu sudah lumayan, dari pada tidak”. Atau jawaban lain seperti “dari pada dia, hanya melakukan bla bla bla…”. Seolah-olah semua yang dilakukan sudah maksimal atau paling maksimal.

Manusia dengan bahasa obral ataupun diskon mutlak muncul dari kalkulus dengan prinsip laba-rugi, bukan berasal dari pertimbangan nilai kebaikan berbagi. Karena semuanya masih berbicara dagang dengan Tuhan dan agama dijadikan marketing.

Buku Cak Nun