Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4104

Dusun Wonogiri Khusyuk Sinau Bareng

(Liputan Sinau Bareng di Gentan, Kranggan, Temanggung, 5 September 2019)

Sinau Bareng tadi malam di depan Mushalla Ki Ahmad Sujak dusun Wonogiri Gentan Kranggan Temanggung berlangsung khusyuk, dan bahkan, menurut Mbah Nun, paling khusyuk di antara rangkaian sepuluh Sinau Bareng sebelumnya. Sudah barang tentu ini bukan penilaian yang mengandaikan seakan ada komite pencatat skor kekhusyukan pada setiap Sinau Bareng dan dari sana diperoleh angka yang paling tinggi. Bukan.

Ini hanyalah ungkapan rasa syukur atas setiap situasi atau “capaian” yang dirasakan dalam Sinau Bareng. Hal itu Mbah Nun ungkapkan karena tampaknya positioning beliau dalam Sinau Bareng sedari awal bukanlah berencana menggapai pencapaian yang bagaimana-bagaimana. Yang beliau lakukan bersama KiaiKanjeng adalah menyiapkan dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada hajat dan topik penyelenggara.

Pada usai acara berlangsungnya Sinau Bareng, kita bisa merasakan suasana apa yang menonjol. Kekhusyukan adalah salah satu suasana. Bahkan pada kata kekhusyukan itu, yang dapat sama-sama kita berikan pada beberapa Sinau Bareng sekalipun, pada masing-masingnya akan kita jumpai jenis rasa atau konteks kekhusyukan yang berbeda-beda. Komposisinya mungkin juga bermacam-macam.

Sebagai contoh, kekhusyukan tidak hanya terasakan pada saat berdoa atau bershalawat. Seperti tadi malam, dua nomor KiaiKanjeng yang dilantunkan yaitu “Sayang Padaku” dan “Tak Kupintakan” pun menghadirkan rasa kekhusyukan hidup. Juga, paparan dua orang teman kita, Irfan Cahyono dan Agung Panuntun, yang menafsirkan dua lirik yang ditulis Mbah Nun tersebut membawa kita pada gambaran laku khusyuk dan keterfokusan kepada Allah.

Irfan men-syarah lirik “Sayang Padaku.” Lewat lirik ini Irfan membawa kita menyelami nisbinya rasa memiliki, sebab yang kita miliki hanyalah pinjaman dari-Nya. Sekiranya seseorang tak memiliki apa-apa, jangan salah dan jangan lupa, masih ada ‘milik’ yang lebih utama yang  bisa dia dapatkan yaitu rasa sayang Allah kepada dia, dan itu mengalahkan semua milik-milik yang ada.

Adapun lirik “Tak Kupintakan” ditafsir oleh Agung untuk mengingatkan sikap hidup para pejalan sunyi. Seorang pejalan sunyi hanya berkonsentrasi berbuat dan nandur, dan bisa jadi jasa-jasa dia pernah diakui. Pejalan sunyi mesti lilo legowo atas semua itu. Pejalan sunyi hanya menanam, menanam, menanam, dan ra pathek’en tidak menjadi atau mendapat apa-apa. Baik Irfan dan Agung membawakan narasi tafsirnya dengan baik, runtut, dan panjang. Ini presentasi yang hasilnya di luar ekspektasi. Mbah Nun mengomentari, “Tak pernah saya bayangkan penafsiran yang sedalam dan seluas ini, dan ini untuk kali pertama lagu-lagu KiaiKanjeng ditafsirkan….”

Kemudian La robba illallah, La malika illallah, dan La ilaha illallah yang dibagi ke dalam tiga kelompok, juga tadi malam mulus dilantunkan oleh mereka dan menghadirkan kekhusyukan ta’aqqud tauihid kepada Allah, terutama kesadaran akan rububiyyah Allah di dalam kehidupan kita. Bawalah dirimu ke Allah dengan mengandalkan rububiyyah-Nya pada saat dirimu berhajat atas sesuatu. Itulah salah satu pelajarannya.

Kemudian lagi ada satu orang kesurupan. Ops! Bukan, bukan kesurupan. Kesurupan adalah istilah yang problematik dan diam-diam mengandung su’udh dhon atau menuduh makhluk lain berlaku jahat pada seseorang. Kawan kita, dalam pandangan saya, sedang berada dalam posisi tinggi kadar kekhusyukannya. Mungkin sejak awal Sinau Bareng tadi malam dia sudah mencerap kekhusyukan, di antaranya dia dan jamaah sedang menikmati dan melantunkan Lir-ilir dan Tombo Ati bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng yang memang khas vibrasi dan atmosfer musikalnya.

Kawan kita sedang dilingkupi lapisan-lapisan kekhusyukan Sinau Bareng yang pada kadar dan momentum dirinya memerlukan sejenak dia untuk mengalami beyond, dan sepanjang saya mampu merasakan, terutama sesudah dia duduk kembali di belakang panggung, tak ada anasir kejahatan sedikit pun terpancar darinya, maupun saat dia dibopong ke belakang sesudah mengalami beyond tersebut. Dia duduk lagi dengan baik untuk mengikuti acara sampai tuntas.

Di belakang panggung, saya duduk berdekatan dengan seorang bocah laki-laki yang masih duduk di kelas 6 SD. Dia mengenakan sarung dan peci layaknya santri, dan katanya memang dia ingin nyantri. Dia mengikuti dengan cara mendengarkan secara saksama apa yang disampaikan Mbah Nun dan narasumber lain sepanjang acara. Anak sekecil itu. Bagi saya itu juga sebuah kekhusyukan yang lain. Meminjam istilah Mbah Nun, anak ini sedang mengisi bahan-bahan ke dalam dirinya untuk nanti pada waktunya dia besar akan loading menjadi munculan yang baik pada dirinya.

Ketika memasuki desa Gentan dan kemudian dusun Wonogiri yang berada di dataran tinggi dengan hawa dinginnya yang membuat para personel KiaiKanjeng pada mengenakan jaket, saya memandang suasana desa yang rapi. Kanan kiri jalan berjajar pagar-pagar yang juga rapi. Di pendopo tempat transit Mbah Nun dan KiaiKanjeng, saya melihat ketawadhukan para panitia dan tuan rumah kepada Mbah Nun. Ini juga sebuah kekhusyukan akhaqiyah yang baik yang menambah daftar kekhusyukan Sinau Bareng tadi malam.

Sinau Bareng ini diselenggarakan untuk memperingati Haul Simbah Ki Ahmad Sujak yang merupakan sesepuh desa Gentan ini sekaligus peresmian mushalla Ki Ahmad Sujak yang baru saja selesai direnovasi. Di pendopo transit Mbah Nun diminta menuliskan pesan atau kalimat disertai nama dan tandatangan beliau yang nanti akan dipahat di keramik atau marmer dan dipasang di mushalla ini. Semoga nanti kalau sudah jadi, kita bisa melihat fotonya.

Tentang mushalla ini, Mas Imam Fatawi mengirimi saya foto padasan tempat wudlu. Artinya, mushalla ini masih mempertahankan bentuk sarana lama yang merupakan artefak yang dapat kita pahami sebagai melestarikan bentuk yang lama. Mengkontinuasi atas tradisi mbah-mbah kita sebelumnya. Ini pun saya melihatnya juga sebagai satu bentuk kekhusyukan tradisi atau budaya.

Kekhusyukan tradisi itu tampak juga pada cara penyajian jajanan atau makanan ringan. Tidak dipakai kotak kertas. Semuanya dihidangkan menggunakan piring atau lodong selayaknya orang di desa punya hajatan. Yang disuguh tidak hanya para narasumber dan KiaiKanjeng, tetapi semua jamaah, setidaknya yang saya lihat di belakang panggung. Dalam bahasa Cak Zakki, ini guyub rukun Sinau Bareng di desa. Kita masih bisa menemukan lebih banyak lagi wujud-wujud kekhusyukan di Sinau Bareng.

Saya pun menikmati dan meresapi semua kekhusyukan itu, terutama saat Mbah Nun melantunkan wirid Wabal.

Buku Cak Nun