Dukungan Mbah Nun dan Masyarakat kepada KPK, Hari Ini dan Seterusnya

“Malam ini saya bertemu dengan Indonesia yang sejati. Pejuang-pejuang, anak-anak muda KPK yang bertaruh nyawa untuk memperjuangkan keadilan hukum, untuk memperjuangkan kebersihan Negara dari korupsi”, Mbah Nun mengungkapkan kegembiraannya dalam sarasehan budaya KPK tadi malam, 11 April 2019. Kemudian, Mbah Nun mendoakan 3 hal kepada para pegawai KPK agar dianugerahi perlindungan oleh Allah dalam 3 hal; perlindungan ilmu, perlindungan kultural, dan perlindungan spiritual. “Anda ini mendukung KPK untuk hari ini atau seterusnya?”, Mbah Nun melemparkan sebuah pertanyaan kepada jamaah yang hadir dan dijawab dengan serempak: “Seterusnya!”

Hari diselenggarakannya sarasehan budaya ini merupakan tepat 2 tahun peristiwa teror siraman air keras kepada Bang Novel Baswedan. Seperti yang kita ketahui, Bang Novel Baswedan adalah seorang penyidik KPK yang beberapa kali menangani kasus-kasus besar korupsi. Pada sebuah pagi, setelah sholat subuh berjamaah, dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, Bang Novel Baswedan dihadang orang tak dikenal, yang kemudian langsung menyiramkan air keras ke wajahnya. Akibatnya, mata sebelah kiri mengalami buta hampir total, setelah dioperasi hanya mampu melihat sedikit daya pandangnya, sementara mata sebelah kanan pun mengalami pelemahan daya pandang.

Mbah Nun semalam diminta hadir oleh para pegawai KPK untuk hadir dalam sebuah sarasehan yang dihelat di lobby Gedung Merah Putih, di bilangan Kuningan, Jakarta. Selain Bang Novel Baswedan tentunya, semalam hadir juga Najwa Shihab yang turut membacakan catatan Najwa mengenai teror Novel Baswedan. Mbah Nun juga secara khusus menulis sebuah esai; Hutang Sejarah. Esai tersebut semalam dibacakan oleh Wahyu, salah seorang penggiat Kenduri Cinta.

Area Lobi Gedung Merah Putih KPK semalam penuh sesak, bahkan hingga ke jalanan. Di depan gedung, berdiri sebuah panggung yang sejak siang beberapa aktivis kampus dan seniman musik juga turut meramaikan acara ini. Ketika Maiyahan dilangsungkan, tampak beberapa orang naik ke legreng panggung agar bisa melihat dengan jelas siapa-siapa saja yang sedang berbicara di podium.

Persambungan Mbah Nun dengan KPK bukanlah sebuah persambungan yang baru. Sudah sejak lama Mbah Nun memiliki hubungan yang begitu dekat dengan KPK. Pernah di Jogja, bersama KiaiKanjeng, Mbah Nun menyelenggarakan Maiyahan di daerah Taman Siswa yang saat itu KPK sedang diserang isu Cicak vs Buaya. Bahkan, acara malam itu juga dihadiri oleh Kabareskrim dan juga perwakilan dari Indonesian Police Watch. Beberapa tahun kemudian, ketika Pak Busyro Muqoddas menjadi Pimpinan KPK, Mbah Nun diminta untuk memberi pembekalan kepada para calon pegawai KPK. Sekitar 2 tahun yang lalu pula, Mbah Nun pernah dimintai mengisi sarasehan di Gedung Merah Putih ini.

Seperti yang dituliskan oleh Mbah Nun dalam esai “Hutang Sejarah”, melalui tadabbur hukum Islam digambarkan oleh Mbah Nun bahwa kejahatan teror penyiraman air keras kepada Novel Baswedan adalah serupa sebuah hutang yang wajib dibayar lunas oleh pelakunya, fardlu ‘ain. Artinya, para pelakunya sendiri yang harus membayar hutangnya. Sementara bagi para penegak hukum, menurut Mbah Nun, proses penyelesaian kasus ini posisinya adalah fardlu kifayah. Jika ada petugas penegak hukum yang mampu menyelesaikan kasus ini, maka petugas penegak hukum yang lain telah gugur kewajibannya. Sehingga mereka tidak ikut menanggung dosa. Tetapi, jika kasus ini sengaja tidak diselesaikan, maka seluruh aparat penegak hukum menanggung dosanya.

Mbah Nun dengan bijak mengajak kita mengambil sudut pandang melalui khasanah hukum Islam; Fardlu ‘Ain dan Fardlu Kifayah untuk memberikan sebuah pesan kepada para penegak hukum dan juga para pelaku teror terhadap Novel Baswedan yang hingga kini belum terungkap. Namun, jika kita semakin memperluas, maka analogi Mbah Nun ini juga bisa kita berlakukan pada kasus-kasus korupsi yang ditangani salah satunya oleh KPK.

Kita sebagai warga negara Indonesia tidak memiliki kewajiban apa-apa untuk menyelesaikan kasus korupsi, karena berdasarkan undang-undang di Indonesia, KPK adalah salah satu lembaga yang memiliki hak dan kewajiban untuk mengungkap kasus-kasus korupsi. Maka, KPK berposisi sebagai lembaga yang Fardlu Kifayah untuk membereskan persoalan korupsi di Indonesia ini. Dan jika KPK dan lembaga-lembaga penegak hukum lainnya tidak bertugas dengan baik untuk membereskan kasus-kasus korupsi, maka mereka pula yang akan menanggung dosa-dosanya.

Semalam, Mbah Nun mengungkapkan bahwa ketika era Pak Busyro Muqoddas memimpin KPK, Mbah Nun men-support KPK 100%. Beberapa kali Pak Busyro Muqoddas meminta pertimbangan dari Mbah Nun dalam proses penyelesaian kasus korupsi di Indonesia. Juga, Mbah Nun diminta untuk memberi pembekalan kepada para calon pegawai KPK. Dan memang, hubungan dekat Mbah Nun dengan Pak Busyro Muqoddas ini juga merupakan hubungan sahabat yang sudah sangat lama, beliau berdua adalah dua sahabat yang sudah sangat akrab sejak masih bersekolah di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

Maka tentu saja, tidak ada rasa canggung baik dari Mbah Nun sendiri kepada Pak Busyro Muqoddas jika Mbah Nun melihat ada yang tidak beres dengan KPK, maka Mbah Nun akan secara langsung menyampaikan kritik kepada KPK melalui Pak Busyro. Namun, setelah Pak Busyro tidak lagi menjadi Pimpinan KPK, ada kerenggangan hubungan antara Mbah Nun dengan KPK. Mbah Nun sendiri juga mengakui, sempat merasa ragu-ragu dengan KPK pasca kepemimpinan Pak Busyro Muqoddas. Hingga akhirnya, beberapa tahun terakhir, Mbah Nun mengikuti perkembangan KPK, dan semalam Mbah Nun diundang untuk hadir dalam sarasehan budaya yang bertajuk “Dua Tahun Novel Baswedan”.

Bang Novel Baswedan sendiri semalam menceritakan, bahwa serangan kepada para pegawai KPK utamanya para penyidik KPK masih terus terjadi. Bukan hanya Bang Novel saja yang mengalami ancaman, mulai dari pembunuhan, pembakaran rumah dan mobil, serta ancaman-ancaman lainnya. Najwa Shihab pun sempat membacakan data dari ICW, bahwa tercatat ada 115 ancaman yang diterima oleh para pegawai KPK hingga hari ini dan tidak pernah diungkap siapa pelakunya. Maka, teror kepada Novel Baswedan hanyalah satu dari sekian ancaman kepada KPK. “Ini bukan hanya seorang Novel Baswedan. Semua orang, semua masyarakat, semua rakyat Indonesia menjadi korban dari serangan-serangan terhadap pegawai KPK ini. Jangan lihat ini hanya serangan kepada Novel atau kepada KPK saja”, ungkap Najwa Shihab.

“Ketika saya tadi bertemu dan berbicara langsung dengan Bang Novel Baswedan di dalam, saya melihat secara langsung memang beginilah wajah Indonesia”, Mbah Nun mengawali. Mbah Nun sendiri mengakui, setelah Reformasi, tepatnya pada 22 Mei 1998, Mbah Nun memutuskan untuk menarik diri dari hiruk-pikuk politik di Indonesia, dan lebih memilih untuk keliling ke berbagai daerah untuk menghidupkan kembali tradisi sholawatan. Diakui juga oleh Mbah Nun, mungkin ada banyak tulisan, atau juga ucapan yang disampaikan oleh Mbah Nun di setiap Maiyahan yang ternyata tidak bisa dipahami oleh Indonesia. Mbah Nun mengibaratkan bahwa beliau mengalami miss communication dengan Indonesia.

Suasana sarasehan di Lobi Gedung Merah Putih semalam tampak meriah. Mereka yang datang begitu banyak, sehingga area lobi gedung pun tidak sanggup menampung mereka yang datang, banyak dari mereka yang harus berdiri di atas pagar gedung KPK. Sepertinya, panitia juga tidak menduga bahwa massa yang hadir sebegitu banyaknya.

Melalui analogi sepakbola, Mbah Nun menggambarkan bahwa yang seharusnya kita lihat di lapangan sepakbola adalah dua kesebelasan yang bertanding antara kesebelasan anti korupsi melawan kesebelasan korupsi. Ternyata, yang terjadi saat ini adalah di kesebelasan anti korupsi justru terjadi jegal-jegalan hingga upaya untuk berusaha mencetak gol ke gawang sendiri. Bola yang seharusnya dijebloskan ke gawang lawan, justru kini sedang diperebutkan sesama pemain satu kesebelasan anti korupsi. Kalau tidak bisa dijebloskan ke gawang sendiri, setidaknya bola itu sesering mungkin dibuang ke luar lapangan. Mbah Nun mengibaratkan bahwa yang menjadi salah satu persoalan adalah gameplan dari kesebelasan anti korupsi yang harus segera dibenahi.

Dalam sebuah kasus pengaturan skor pertandingan sepakbola saja, ada begitu banyak cara untuk memudahkan proses pengaturan skor. Mulai dari penyuapan kepada beberapa pemain di masing-masing kesebelasan, hingga melibatkan wasit, bahkan official pertandingan. Apalagi dalam pertandingan yang skalanya lebih besar yaitu pertandingan pemberantasan korupsi di Indonesia. Akan lebih banyak lagi mafia-mafia yang ikut bermain untuk “mengatur skor”.

Berbelok sedikit, Mbah Nun menyampaikan bahwa hal yang harus dibuktikan oleh para perangkat politik di Indonesia, utamanya Partai Politik adalah membuktikan bahwa dengan adanya sistem demokrasi yang ada saat ini tidak melahirkan ketegangan sosial, perpecahan persaudaraan, bahkan perceraian antara suami dan istri akibat perbedaan pilihan politik. Partai Politik harus segera membuktikan bahwa dengan iklim demokrasi yang ada saat ini mampu menumbuhkan persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia.

Najwa Shihab memiliki pandangan tersendiri kepada KPK. Menurutnya, KPK adalah lembaga hukum di Indonesia yang paling mudah dicintai oleh publik. Karena memang kinerja KPK sangat nyata dan bisa dilihat buktinya oleh masyarakat. Beberapa survey-survey independen selalu menempatkan KPK sebagai lembaga yang paling baik kinerjanya dibanding dengan lembaga-lembaga lainnya di Indonesia. Menurut Najwa, mustahil teror-teror kepada pegawai KPK tidak berdampak pada suasana kerja para pegawai KPK yang lainnya, pasti ada dampaknya. Namun yang dibutuhkan oleh KPK saat ini adalah dukungan pubik, untuk membuktikan bahwa KPK tidak berjalan sendiri dalam memberantas korupsi di Indonesia. Ada rakyat Indonesia yang juga siap memasang badan untuk turut serta menemani dan melindungi KPK.

Mbah Nun secara eksplisit mengungkapkan kepada semua yang hadir semalam, yang mayoritas adalah anak-anak muda, Mbah Nun berharap bahwa anak-anak muda ini yang kelak menjadi pemimpin di Indonesia, memimpin gerakan Indonesia yang baru, yang melahirkan generasi-generasi yang sejati.

Maiyahan di KPK tadi malam tentu tidak bisa dilaksanakan seperti Maiyahan rutin pada umumnya, seperti di Kenduri Cinta misalnya yang baru selesai hingga jam 4 subuh. Lewat pukul 22:00 WIB, sarasehan di lobby Gedung KPK dipuncaki dengan doa bersama diiringi lantunan ayat kursi yang dibaca bersama-sama, dan juga dengan pekikan keras potongan ayat ke-82 dari surat Yasiin; Kun Fayakun!. (FA)

Buku Cak Nun