Duduk, Diam, Mendengar

“Lik, dewean po?”

“Yess, seperti yang sudah-sudah.”

Sebaris gigi putih menyiratkan kerinduan, meski sering kami bertemu, bergurau. Berebut menyapa adalah biasa.

Sejenak kurapikan napas. Masih saja tak teratur. Entah oleh sebab kegembiraan bersua saudara, entah kehangatan yang menyelinap.

Genggam erat sepotong kertaa bertuliskan angka. Hela napas penanda kegugupan sowanku. Bismillah, semoga Engkau memberiku kekuatan. Pada sejumlah pertanyaan tentang Sang Begawan Umbu Landu Paranggi.

Seperti biasa, aku jauh dari papan penyangga. Selayang pandang kutemukan saudara lama. “Lho, memang ada saudara baru?” “Ada,” kata mata dan kulitku.

Beberapa orang memilih tempat duduk. Beberapa yang lain menulis pada sesuatu dari atas meja.

“Lik, sudah lama?”

Lagi wae, karo sopo?”

Begitulah persaudaraan kami. Mungkin juga yang lainnya, pasti. Toh tempat ini huma, bukan gurun pasir tak berangin. Ia dirindu jiwa-jiwa dan rasa.

Diamku kumulai, kutajamkan telinga sebisanya. Hingga saat itu tiba. Kepingan-kepingan kawruh. Mengisi kebodohanku tentang sastra.

“Hussh, jangan jumawa.” “Dengar, dengar, dengarkan saja.” “Kamu ini siapa kok berani-beraninya membusung dada.” “Diam, dengarkan!,” kata gelas plastik air kemasan.

Sebatang rokok kuhisap pelan penuh tanya. Siapa itu, siapa dia, siapa lagi beliau? “Siapa, siapa, siapa?” Sudah, diam! Dengar, dengar, dengarkan saja.

Kadipiro, Launching Buku Metiyem, 31 Juli 2019

Buku Cak Nun