Diri yang `Ain dan Kifayah

Pada suatu malam, ketika sedang nyangkruk dan rerembukan santai, terbahaslah suatu tema perbincangan yang bermaksud mengurai lebih jauh atas apa yang menjadi dhawuh Mbah Nun yang termaktub dalam ‘Tajuk’. Tema semakin mengerucut setelah sebelumnya mengembang ke segala arah. Ingatan tetiba melontar jauh pada suatu pelajaran yang sudah diajarkan sejak SD. Yakni tentang dua macam jenis fardhu, fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Fardhu ‘ain: wajib dijalankan bagi kaum muslimin dan muslimat, dan Fardhu kifayah : yang difardhukan kepada seluruh muslimin namun boleh tidak melaksanakan apabila sudah ada sebagian muslimin yang melaksanakan. Fardhu ‘ain contohnya Sholat Jum’at. Dan Fardhu kifayah contohnya adalah Sholat Jenazah. Ini adalah pengetahuan yang sudah diajarkan sejak di Sekolah Dasar. Meskipun demikian perlulah kiranya membuka peluang ada dua macam fardhu ini. Pandangan saya perihal fardhu ‘ain yang sekarang lebih diletakkan pada area jamak nampaknya ada pula yang bersifat personal. Maksudnya setiap orang punya kewajiban sendiri dalam hidupnya sesuai fadhilah yang ia miliki.

Dengan demikian, maka tiap-tiap orang akan punya pangkuan (hijr) konsentrasi yang berkesesuaian dengan kepiawaiannya, yang mana ia meletakkan diri dan menebarkan salam pada area tersebut. Pun tiap-tiap orang akan punya wilayah yang beselaras dengan jiwanya sehingga ia berdiri (maqom) dan menjaga rasa aman di wilayah tersebut. Bukan hanya itu masing-masing akan bertemu dan saling menguatkan, tambal-sulam, dan saling menutupi dengan dasar kesadaran bahwa tiap-tiap orang “tak mampu memikul tanggung jawab oranglain”. “Setiap orang punya tanggung-jawab dan akan dimintai pertanggung-jawabannya”. Dasar yang lain bahwa manusia tak akan dapat sendirian membawakan amanat Tuhan kecuali ia melampaui batas, bodoh dan jahul.

Sedangkan kita semua bisa jadi sepakat bahwa, yang namanya tanggung-jawab itu lebih kepada tuntutan bersinergi pada mekanisme di banyak bidang. Bukan hanya satu bidang saja. Apabila setiap orang memiliki fardhu ‘ain-nya sendiri dalam kehidupan. Maka dia merasa wajib melaksanakan itu sebagai syarat terciptanya kekuatan jemaah yang kuat dan surplus. Jadi fardhu ‘ain bukan hanya tentang fiqih, syariah, kitab. Fardhu ‘ain adalah kewajiban menegakkan pilar tanggungjawab. Bahwa salah satu pilarnya adalah dengan ilmu syariah, memperdalam dan mengkaji kitab-kitab, namun bukan itu satu-satunya jalan ‘Ain. Sehingga: ‘ain seseorang bisa jadi ‘kifayah’ bagi oranglain, dan ‘kifayah’ orang lain menjadi adalah ‘ain bagi dirinya.

Kitab Kehidupan

Setiap orang punya penglihatannya sendiri berkaitan pandangannya atas hamparan kehidupan. Ada yang memandang ketahanan pangan itu penting sehingga ia akan meletakkan hidupnya dengan cara bertani. Fardhu ‘ain dalam kehidupannya adalah bidang pertanian dan ketahanan pangan. Dia ingin saudara-saudaranya tidak terdera lapar dan kekurangan pangan. Ada pula yang memandang bahwa pertahanan keamanan itu penting sehingga ia akan mewajibkan dirinya berperan pada bidang itu. Wilayah pertahanan keamanan merupakan fardhu ‘ain bagi dirinya. Ia tak ingin saudara-saudaranya hidup terancam dan tertindas. Ada lagi yang merasa perlu berperan pada bidang literasi karena merasa informasi selama ini malah sering membuat ricuh dan memporak-porandakan kemanusiaan. Beterbaran berita palsu dan saling mengadu. Sehingga ia akan memperjuangkan diri menebarkan salam pada bidang tersebut. Ia akan berkecimpung dalam dunia literasi dan menjadikan bidang tersebut sebagai fardhu ‘ain baginya. Ia tak rela saudaranya saling bertikai dan memperpanjang kebodohan karena terlalu lugu dalam menyerap informasi.

Dan masih ada peran lain yang membutuhkan ‘makmum’ dan ‘imam’ di bidang-bidang lainnya seperti bidang sains & teknologi, bidang hubungan sosial, sosbud, politik, antropologi, ada bidang navigasi dan perbintangan, ada bidang pengobatan, hingga bidang penempaan bathin. Apabila peletakan fardhu ‘ain itu hanya pada satu bidang saja, maka bidang yang lain yang sudah terlanjur dianggap sebagai kifayah akan terbengkelai dan tak tergarap, ada ‘jenazah’ yang ‘tak disholati’ disitu. Andaikata orang Islam hanya wajib bertingkah laku agamis, yang makna agamis itu adalah memperlihatkan simbol-simbol agama tersemat pada dirinya, maka akan banyak orang Islam justru saling beradu dan mempertandingkan sematan. Beradu mulut terus perihal ibadah sambil tak peduli perihal kesehatan, menelantarkan sawah, membuka gerbang permusuhan, mengabaikan teknologi, menganulir ilmu hubungan sosial secara universal. Banyak yang tak tergarap karena fokus pada satu bidang yang sesungguhnya tak bisa menjawab semua persoalan. Banyak tempat-tempat kosong yang mangkrak. Alih-alih tempat itu lantas diisi dan diperankan oleh pihak lain sehingga merekalah pionir-nya dan kita hanya menjadi pengikutnya.

Padahal apabila setiap orang yang memiliki pandangan dan kecenderungan berbeda dalam kehidupan semestinya itulah rahmat. Apabila Islam ingin tampil sebagai Rahmatan lil ‘alamin maka harus punya pasukan yang lengkap keahlian dan pembidangannya. Memiliki keluarga yang mengampu banyak rahmat (banyak dan aneka bidang ilmu) dan saling berpadu sebagai kumpulan pelaku fardhu ‘ain yang berjamaah dengan salam dan aman. Untuk betegur sapa terhadap rahmat maka perlu menggunakan bahasa rahmat dan mampu memposisikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari rahmat-Nya.

Sehingga bisa tampil dan mewarnai kehidupan dengan semarak dan melaksakan ibadah berjamaah dalam kehidupan secara lebih menggembirakan. Sebagai kaum akan punya mukim, dan dalam sebuah pemukiman akan punya aneka pekerjaan yang tidak semuanya bisa dijawab dengan kitab baku, meskipun kitab baku merupakan karunia pemantik yang memberangkatkan pada pengenalan kitab-kitab lain yang tersembunyi. Ada variasi kitab lain yang menyampaikan ayatnya dengan cara berbeda namun masih mengusung tema yang tetap sama yakni Tauhid.

Keadaan sakitnya seseorang adalah pintu untuk membaca kitab penyembuhan Asy Syifa’. Keadaan perbintangan yang indah adalah pintu dibukanya kitab Al Huda yang berguna untuk lebih memahami arah dan segala rahasia di dalamnya. Adanya keaneka-ragaman adalah pintu untuk membuka kitab Al Mauidhoh, Ar Rahmat. Demikian pula terus pada konsentrasi kegiatan lain, setiap perilaku akan dibarengi dengan petunjuk Tuhan. Sehingga setiap pihak dengan pengamatan, penglihatan, dan pengalamannya membaca kehidupan akan dipandu dengan kitab-kitab Allah yang tidak diletakkan dalam mushaf kitab saja namun juga pada lembaran kehidupan dan keadaan nyata yang ia hadapi. Kegiatan apapun seseorang bisa menjadi bahan petunjuk baginya untuk tampil sebagai manusia yang produktif dan kontributif dalam kehidupan.

Bisa dibayangkan jika segala sepak terjang dan berkegiatan seseorang dalam sebuah pemukiman telah dipandu langsung oleh Tuhan, maka akan berpadu dengan jenis paduan yang menghasilkan madu yang memaniskan kehidupan. Orang yang menggemari wilayah teknologi akan memperhatikan asal-usul, mengamati kandungan kekuatan dan kelemahan suatu unsur, ia akan tak berhenti mengambil pelajaran dan sekaligus enggan berhenti untuk senantiasa mengingat Keagungan Tuhan, ia akan mendapat karunia kitab Adz Dzikr. Yang senang dan takjub pada segala hal yang diturunkan oleh Tuhan dan ditumbuhkan dari bumi dengan kemudian berperan dalam dunia pertanian akan berjumpa lembaran demi lembaran kitab Al Tanzil. Ada pula yang memilih berkontribusi dalam penempaan bathin dimana area ini semakin sepi peminat karena sebagian besar merasa beres dan aman, telah tinggal memetik hasil untuk tampil sebagai bentuk yang paling sempurna dan sudah tidak perlu lagi menempa. Area ini penempaan bathin ini akan dihuni oleh manusia-manusia Kawi/kasepuhan dan karenanya ia akan mengikuti panduan dari kitab Ar Ruh, Al Hikmah. Pada bidang kemananan juga tidak ketinggalan, karena memiliki karakter yang tegas dan bijaksana ia akan memilih menjalani kehidupan dengan panduan dari Kitab Al Hukm, Al Furqon. Dengan demikian, pemukiman suatu kaum itu dibangun oleh orang-orang yang setiap orang mendapat panduan kitab-kitab yang diturunkan Allah langsung dalam dada mereka masing-masing dan setelah setiap pihak rela membuka lembar demi lembarnya maka akan terbaca setahap demi setahap melalui pengalaman riil. Tentunya tidak setiap pengalaman itu langsung jadi, ada proses pemahaman. Pada bagian memahami ini pun manusia tak harus langsung paham, pada genggaman Gusti Allah segala pemahaman, dan Allah pula yang akan memberikan pemahamannya.

Dalam fardhu kifayah. Sebagai contohnya adalah sholat jenazah. Tidak ada rukuk dan tidak ada sujud. Sehingga yang masih hidup seolah harus melanjutkan peran kehidupan yang bersangkutan dengan tetap tegak berdiri apabila ada satu benih yang telah dipanggil kembali kepada ilahi Robbi. Manusia wajib rukuk dan sujud kepada Tuhan, tapi tidak untuk kematian manusia. Semisal seorang yang telah berpulang adalah pihak yang berperan dalam bidang teknologi, maka masyarakat lain yang masih hidup segera mengambil alih peran atau melanjutkan peran. Ini akan lama memperoleh pengganti jika memang tidak pernah ada persiapan sistem regenerasi. Jika terlalu lama terjadi kekosongan maka peran ini akan diambil oleh pihak lain yang tidak lagi punya tanggungan amanat nilai uluhiah yang sama. Oleh sebab itulah perlunya membuat rintisan pewaris ilmu, agar pasukan Rahmatan lil ‘alamin tidak terlalu lama mangalami kekosongan peran ataupun malah njomplang karena tak pernah mengadakan ‘penangkaran generasi’ secara serius.

Ungaran, 02 Oktober 2019/ 02 Shofar 1441 H

Buku Cak Nun