Dialog Pastur Bisma dan Basudewa

“…..Tolong Maafkan Aku Basudewa, aku tidak menyadari dengan wujudmu yang sebenarnya, kau memang mampu untuk membunuhku. Namun untuk bisa membunuhku kau sampai bersedia untuk melanggar sumpahmu itu, aku pasti sudah membuat kesalahan yang sangat besar—Apa kesalahanku itu Basudewa? Katakanlah!”

“Kesalahanmu adalah ketidaktahuanmu Bisma! Kau tidak pernah mencoba untuk bisa memahami bentuk sejati dari keadilan—bahkan sampai pada kasih sayang yang ada di seluruh dunia. Sampai keadilan di masyarakat yang saat ini belum lengkap. Tapi kau hanya berfikir tentang keluargamu saja selama ini, Kau tidak pernah berfikir tentang seluruh manusia! Karena itu bahkan pengorbananmupun adalah bentuk dari keegoisanmu!

Aku meninggalkan tahtahku menjadi Raja demi janjiku pada ayahku—aku bersumpah seumur hidup untuk membujang tidak ada motivasi keegoisan di sini!”

“Sumpah untuk terus membujang dan meninggalkan tahta menjadi raja, memang perbuatan yang besar. Tapi kenapa kau tidak memberikan tanggungjawabmu kepada masyarakat Bisma yang agung.”

“Demi menghindari konflik antar bangsa dan menghindarkan perang di Astinapura demi tahta dan demi melindungi Dinasti Kuru dari kesedihan, maka aku terpaksa mengambil sumpah ini Basudewa!”

“Lihatlah di sekelilingmu sekarang Bisma yang agung—apa yang terjadi di Tanah Kuru ini? Sumpah yang telah kau ambil tidak bisa menghindarkan malapetaka ini! Renungkanlah itu Bisma yang agung. Kau menganggap sumpahmu sebagai kewajiban. Jika memang seperti itu tugasmu…lalu mengapa perang besar ini bisa terjadi? Pada kenyataannya—Keadilan bukanlah pikiran yang sederhana, bukan juga sebuah tradisi saja. Keadilan adalah nama dari kehidupan dan kehidupan-pun berubah terus menerus. Perubahan adalah karakter dalam kehidupan dan manusiapun harus bisa menerima perubahan itu sendiri, Kau juga harus menerima perubahan, Bisma yang agung!……”

17 Agustus 2019

Buku Cak Nun