Di Surga, Ibu Surtinah Bercengkerama dengan Ibunda Halimah

Barangkali tak banyak di antara kita yang mengenal sosok Bu Surtinah, ibunda Pak Toto Rahardjo. Meski demikian, kita semua sebenarnya dapat dan perlu belajar kepada beliau.

Saya sendiri belum pernah berjumpa beliau kecuali satu kali saja yaitu pada waktu Mbah Nun dan KiaiKanjeng hadir ke Lawen di rumah beliau memenuhi undangan Ngaji Bareng memeringati wafatnya suami beliau, Pak Soebarno, alias ayahanda Pak Toto, pada 23 Agustus 2015.

Saat berjumpa itu, saya tak terlalu punya kesempatan untuk menyapa atau mungkin juga keberanian untuk memperkenalkan diri secara langsung selayaknya anak muda kepada orang tua karena waktu itu beliau sedang sibuk menyambut kedatangan para tamu. Meski saat itu beliau sudah sepuh, tetapi jiwa tak bisa diam tak pernah bisa lepas dari diri beliau.

Di luar itu, yang saya miliki hanyalah sedikit serpihan cerita tentang beliau yang pernah saya dengar dari pak Toto langsung maupun dari Mbah Nun. Namun, dari situ saya menangkap suatu gambar dan sifat huhungan antarmanusia yang sangat menarik dan bagus.

Yang saya maksudkan adalah bahwa antara keluarga Pak Toto dan keluarga Mbah Nun terjalin peraudaraan yang sangat erat. Perkenalan Pak Toto dengan Mbah Nun melalui dunia aktivisme sosial pada era 80-an tidak hanya berlangsung di wilayah itu belaka dan atau hanya antara kedua beliau saja. Persahabatan itu meluas yakni dengan menjadikan antara ibunda masing-masing Mbah Nun dan Pak Toto juga tercipta persaudaraan yang juga cukup erat.

Perluasan yang demikian itu dalam penangkapan saya sekaligus menunjukkan bahwa kedua sosok ibu ini sangat perhatian, peduli, dan ngayomi kepada persahabatan anak-anaknya, lebih-lebih persahabatan itu berisi concern kepada berbuat kebaikan bagi kehidupan masyarakat.

Seingat Pak Toto, sudah dua kali Ibunda Halimah pernah datang ke Lawen, pada masa itu. Bahkan Bu Halimah pernah menikahkan orang dari desa Menturo Jombang dengan perempuan dari Lawen, dan Bu Halimah ke sana untuk proses pernikahan tersebut.

Membayangkan Bu Halimah bertandang jauh dari Jombang ke desa lawen Patuguran Banjarnegara yang berada di balik gunung sungguh suatu etos silaturahmi tersendiri. Pak Toto sendiri kemudian juga jadi dekat dengan Ibunda Halimah. Kedekatan itulah yang digambarkan Pak Toto sebagai awalan dalam menulis pandangan dan kesaksiannya tentang Cak Fuad di Buletin Maiyah Jatim edisi Fuadus Sab’ah, yakni ultah Cak Fuad ke-70 pada 2017.

Di situ Pak Toto menulis,“Pada masa di Patangpuluhan dulu, saya banyak berkesempatan ngobrol apa saja dengan Bu Halimah, dari soal politik hingga gerakan perempuan dan tak sedikit Bu Halimah memberikan gambaran bagaimana cara beliau mengasuh putra-putrinya….Beliau dua kali berkunjung ke desa saya, dan sesungguhnya beliau ingin menyaksikan langsung seperti apa dan bagaimana latar belakang masa kecil saya di sana, dan tentu saja dengan begitu beliau juga mengenal Ayah dan Ibu saya….”

Pak Toto tidak saja berkecimpungan dalam dunia yang bersinggungan dengan dunia Mbah Nun, tetapi dengan persahabatan itu menjadi dekat pula dengan saudara-saudara Mbah Nun—dengan kakak maupun adik-adiknya—dan terutama dengan sang Ibu yaitu Ibunda Halimah. Pada sisi Bu Halimah, persambungan ini menjadikan beliau punya sudara yaitu Ibunya Pak Toto. Inilah barangkali satu kisah pertautan yang penuh peraudaraan yang hingga kini tetap terjaga dengan baik.

Di situlah saya memperoleh sepercik kesadaran bahwa walaupun antara Ibunda Halimah dan Ibunda Surtinah mungkin berbeda latar belakang kulturnya, tetapi karena keduanya adalah pribadi-pribadi yang mencurahkan hidupnya untuk mendidik dan menjadi orangtua bagi masyarakatnya, keduanya mudah sekali bertemu dan tersambung, karena gelombang yang sama itu. Hal yang mungkin berbeda di masa kini di mana orang-orang yang kalau benar punya tujuan yang sama tapi kok malah gampang dipancing untuk berantem. Malulah kita kepada Ibunda Halimah dan Ibunda Surtinah.

Di desa Lawen, hidup bersama sang suami yang dipercaya masyarakat menjadi Lurah, menjadikan Ibu Surtinah menyangga dua tugas yang sama-sama tak mudah. Harus mampu menjadi ibu bagi anak-anaknya, mengurus sendiri banyak keperluan sehari-hari mereka karena sang suami waktunya tercurah untuk masyarakat. Apalagi, seperti diceritakan bu Wahya, istri Pak Toto, Pak Soebarno adalah tipikal pemimpin perkerja keras, dan tidak segan-segan ngoprak-ngoprak warganya untuk kerja bareng mewujudkan pembangunan desa yang masih banyak yang harus dicapai seperti membangun jalan, mewujudkan listrik masuk desa Lawen, dan sarana-sarana kehidupan bersama lainnya. Almarhum Pak Seobarno menjadi lurah selama 42 tahun.

Sementara selain sebagai Ibu, beliau Ibu Surtinah cukup aktif memotori berbagai kegiatan di masyarakat desa Lawen. Rumah beliau menjadi pusat kegiatan desa, menjadi pusat kehidupan berdesa. Sama seperti rumah Ibunda Halimah di Menturo, menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan kebudayaan, bahkan seperti bisa kita lihat tetap berlanjut hingga saat ini, dengan semua perkembangannya.

Sore hari kemarin, dalam usia 92 tahun, Ibunda Surtinah dipanggil Allah menghadap ke haribaan-Nya, menyusul almarhum Pak Soebarno yang sudah dua puluhan tahun lebih telah mendahului, dan juga menyusul sahabatnya, Ibunda Halimah. Di Surga, Ibunda Surtinah bertemu Ibunda Halimah, bercengkerama, dan menyaksikan cucu-cucunya, anak-anak JM, yang masih harus terus belajar dan berjuang untuk membangun hidup yang lebih baik. Sugeng kondur, Ibunda Surtinah. Masih terbayang kegembiraan Panjenengan saat Mbah Nun dan KiaiKanjeng bersilaturahmi di rumah Panjenengan. Mbah Nun duduk di sebelah Panjenengan, dan Panjenengan tak bisa menyembunyikan senyum bahagia itu.

Yogyakarta, 22 Juli 2019

Buku Cak Nun