Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke-4107

Desa Mangunjaya Sinau Bareng

Liputan Sinau Bareng Desa Mengunjaya, Mangunjaya, Pangandaran Jawa Barat, 11 September 2019

Menurut salah seorang panitia, sejak kurang lebih tiga tahun silam, Pak Kuwu—sebutan untuk kepala desa di sini—menginisiasi pengajian di desa ini setiap sebulan sekali. Untuk setiap tahunnya, pada bulan Muharram, Ngaji Desa ini dibuat dalam skala lebih besar sehingga menjadi semacam hajatan desa. Masyarakat seluruhnya dilibatkan. Acara digelar di lapangan. Menu acaranya tidak semata pengajian, melainkan menghadirkan kesenian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan karakter budaya dan tradisi desa.

Kali ini, untuk puncak Ngaji Desa tahun ini, Mbah Nun dan KiaiKanjeng mereka undang untuk Sinau Bareng. Mereka persiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Mereka berharap kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng memberi makna yang istimewa. Mereka sendiri juga mengonsep acara secara istimewa. Tatkala Mbah Nun tiba di lapangan dan berjalan menuju panggung, pasukan ibu-ibu menyambut dengan shalawat Badar. Kemudian tiba di panggung didampingi Pak Kuwu, Kapolsek, Danramil, dll, Mbah Nun diajak menikmati persembahan tari topeng Losari. Lampu panggung sengaja digelapkan, agar semua jamaah dan hadirin berfokus kepada tari ini.

Prosesi tari Losari di mana Mbah Nun diminta menyaksikan adalah sebuah proses di mana Mbah Nun diposisikan sebagai orangtua yang diberi kesempatan menyimak profil kebudayaan dan urip-nya tradisi desa ini, dan nanti Mbah Nun diminta mengurai pitutur-pituturnya. Penampilan tari ini berlangsung di stage terpisah dari panggung KiaiKanjeng. Suasana artistik memang menghiasi setiap panggung. Panggung KiaiKanjeng sendiri dilengkapi hiasan bambu yang di sana disebut carangka yang memberikan nuansa etnis Sunda.

“Ini di antara sedikit desa yang bagus. Sebelum acara sudah lengkap pikirannya.” Itulah kesan dan kesaksian Mbah Nun setelah merasakan proses-proses yang telah berlangsung sejak Mbah Nun memasuki desa ini hingga akhir menikmati persembahan tari Losari, Jonjang Paron, maupun dua nomor musik dari stage kesenian dalam puncak Ngaji Desa Mangunjaya. Inilah desa yang berada di salah satu pelosok di wilayah kecamatan Mangunjaya kabupaten Pangandaran Jawa Barat. Secara demografis, posisinya perbatasan dengan Jawa Tengah. Mirip dengan Cirebon. Penduduknya pun terdiri dari dua, ada yang Sunda dan ada yang Jawa. Tentang hal ini, Mbah Nun, mengatakan, “Jangan dikira saya orang Jawa. Iya, saya Jawa, tapi itu unsur saya saja. tapi saya juga Sunda. Coba dipelajari.” Atau Mbah Nun juga mengajak masyarakat untuk meletakkan Sunda dan Jawa dalam relativitas identitas kultural. Di samping itu, dalam konteks keragaman etnik dan kultural ini, Mbah Nun mengajak untuk saling ridlo-biridlo, ikhlas-bilikhlas satu sama lain.

Mbah Nun mengapresiasi bahwa mereka bersyukur atas tanah yang mereka diami, dan itulah masyarakat yang baik. Jangan diubah ini kondisi masyarakat. Begitu pesan beliau.

Desa Adalah Pusat

Kepada masyarakat dan hadirin Mbah Nun juga menggugah kesadaran sosiologis masyarakat di sini. Jika dulu ada dikotomi atau pembagian pusat dan pinggiran, di mana misalnya Jakarta dianggap sebagai pusat, dan daerah-daerah lain sebagai peripheri (pinggiran), maka pembagian seperti itu tidak lagi boleh menguasai bawah sadar masyarakat. Setiap desa adalah pusat. Tak terkecuali desa Mangunjaya ini. Mbah Nun sampaikan Jakarta tak mampu menjadi pusat kebudayaan. Dengan bahasa lain, teori yang membagi wilayah menjadi pusat dan pinggiran sangat tidak relevan dan bias penjajahan. Buktinya, setiap desa mampu menjadi dirinya sendiri dengan kesadaran dan orientasi nilai-nilai yang dianutnya. Ngaji Desa ini adalah salah satu contohnya.

Maka dalam Sinau Bareng dua malam lalu itu, Mbah Nun malah lebih banyak mengeksloprasi misalnya kekayaan permainan anak-anak di wilayah ini. Mbah Nun minta mereka menyebut nama-nama permainan Sunda. Setelah itu satu dua permainan itu beliau minta untuk dimainkan di atas panggung dengan melibatkan beberapa jamaah dan personel KiaiKanjeng. Cing Ciripit adalah salah satunya. Lewat permainan ini, mereka diajak mengingat nilai-nilai sosial yang dikandung permaianan ini, seperti silaturahmi, kerjasama, menyatu, tidak autis, dan berlatih tidak curang. Mbah Nun juga minta dua anak remaja untuk melantunkan al-Qur’an surat an-Naas, dan mereka bisa bawakan dengan baik.

Buku Cak Nun