Dato’ Baha, Sahabat dari Negeri Jiran

Berawal dari pesan Cak Nun untuk menyambung silatuhami dengan sahabat lama semasa di Iowa. Adalah Dato’ Baharuddin Zainal, atau lebih dikenal dengan nama Dato’ Baha.

Sabtu pagi tadi, sekitar pukul 11 tibalah saya di rumah salah satu putranya di kawasan Shah Alam, Selangor. Rumah yang asri di pemukiman yang tenang. Dato’ sudah menunggu kedatangan kami.

Awal perbincangan melalui persapaan di WA, memang terasa formil apalagi saya baru mengenalnya. Dalam imaji saya, beliau orangnya serius. Kesan itu langsung sirna setelah saya berhasil kopi darat, berjumpa langsung dengan beliau. Beliau sangat ramah, ceria dan masih sigap. Di usia 80 ini beliau masih sanggup “penekan” untuk memetik kelapa pandan di kebunnya.

Cerita ringan nostalgia mengalir. Cerita tentang perjumpaan dengan sang sahabat terkarib dari Indonesia di Iowa dalam rangka menghadiri International Writing Program di University of Iowa tahun 1981. Cak Nun yang masih berusia 28 tahun mewakili Indonesia. Selama beberapa bulan di Iowa itulah keakraban kedua sahabat ini terjalin.

Pengalaman tinggal di Jakarta di awal tahun 70-an untuk kuliah sastra di Universitas Indonesia juga diceritakan dengan semangat. Ingatannya tajam, detail, membawa kami yang mendengarkan terbawa ke suasana Jakarta tempo dulu. Saat itu Jakarta dipimpin oleh Bang Ali Sadikin yang menurut beliau itu adalah masa di mana kebudayaan dan kesenian di beri ruang luas.

Setiap tahun selalu diadakan pekan budaya di mana setiap daerah mengirimkan wakilnya untuk tampil. Bisa dibayangkan betapa meriahnya. Beliaupun sepertinya akrab dengan TIM. Bahkan menurut Ibu Norsiah, istri beliau, hampir setiap minggu beliau berdua berkunjung ke TIM.

Bisa dibayangkan, bagi para seniman saat itu, TIM adalah mal barunya para shopaholic. Ibu Norsiah juga dengan bangga bercerita bahwa masih menyimpan dengan baik lukisan tangan Trisno Sumardjo, seorang sastrawan yang juga pelukis dan penerjemah beberapa karya sastra sastrawan dunia.

Disamping itu, tersebut juga beberapa nama yang tidak asing di telinga, para dosen beliau saat kuliah dan juga kawan-kawan lama seperti HB Jassin, Mochtar Lubis, Rendra, Asya Bahtiar, Umar Kayam, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Soetardji Calzoum dan beberapa nama lainnya. Salah dua dari nama-nama itu langsung mengingatkan saya akan pelajaran Bahasa Indonesia di bangku sekolah dulu.

Beliau juga bercerita tentang kedatangannya di Padhang Mbulan (kaget kan? Saya juga!) tahun 1998. Di sana Dato’ bertemu dengan seorang petinggi militer yang beberapa waktu kemarin punya nomor urut.

Keakraban dengan Cak Nun terjalin terus. Awal tahun 2000 Dato’ Baha berinisiatif mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk tampil di beberapa tempat di Malaysia, salah satunya di Dewan Bahasa Malaysia. Menurutnya dengan budaya dan kesenian manusia bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain. Sepertinya Dato’ menyimpan kerinduan dan keinginan untuk mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng kembali. Semoga gayung bersambut.

Banyak yang diceritakan Dato’ Baha hingga tak terasa hampir 2 jam berlalu. Sudah waktunya kami undur diri untuk perjumpaan-perjumpaan berikutnya. Perjumpaan dengan Sastrawan Negeri Jiran yang bersahaja, polos, otentik, penuh nilai, yang bukan hanya menambah khasanah pengetahuan yang siap untuk diolah tapi juga membuka pintu-pintu sejarah. Bersyukur rasanya diperkenankan untuk bersilaturahim dengan salah satu sahabat Maiyah di negeri Jiran ini.

Putrajaya, 7 September 2019

Buku Cak Nun