Darurat Akal Tidak Sehat

Mukaddimah Majelis Ilmu Kenduri Cinta, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019

Yang membedakan manusia dengan binatang adalah manusia memiliki akal sementara binatang tidak. Meskipun sama-sama memiliki otak, tetapi binatang tidak memiliki akal. Maka manusia memiliki ide, gagasan, kreativitas, ilham, dan lain sejenis. Akal jelas tidak sama dengan otak. Singkatnya, otak adalah hardware sementara akal adalah software.

Akal adalah potensi rohaniah yang Allah menganugerahkannya kepada manusia. Dan agar akal semakin berfungsi dengan baik, manusia harus melatihnya secara terus-menerus. Jika akal tidak difungsikan, maka akan berakibat pada kebodohan.

Sebenarnya, tidak ada akal tidak sehat. Yang ada adalah mekanisme berpikir yang tidak sehat. Semua manusia sudah paham, bahwa mencuri itu perbuatan buruk. Bahkan, tanpa adanya undang-undang, hingga ayat dari Tuhan pun, secara naluriah manusia sudah memahami bahwa mengambil hak milik orang lain adalah perbuatan tercela.

Tetapi, itulah manusia. Dengan bekal kreativitasnya, manusia kemudian mendayagunakan akalnya. Hanya saja, terkadang mekanisme berpikir manusia tidak sehat. Perbuatan-perbuatan yang awalnya disadari sebagai perbuatan yang tidak baik, yang jauh dari nilai luhur manusia, karena tingkat kreativitas manusia yang begitu bebas dijelajahi, segala hal dimungkinkan untuk diuji coba dan dilakukan. Sebuah perbuatan buruk yang awalnya disadari sebagai perbuatan buruk, menjadi sebuah kebiasaan karena setiap melakukannya ia tidak merasakan akibatnya secara langsung. Contohnya: korupsi.

Justru yang bisa tidak sehat adalah hati. Maka kita mengenal konsep Tombo Ati. Secara naluriah kita memahami bahwa hati adalah unsur dalam diri manusia yang bisa terkontaminasi oleh sakit. Bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah jelas-jelas menyatakan hati itu bisa sakit, bahkan Allah bisa menambahkan sakit dalam hati manusia. Fii qulubihim marodhlun, fazaadahumullahu marodhlo.

Peradaban yang sedang kita hadapi saat ini adalah peradaban yang tidak sungguh-sungguh dalam bertuhan. Tuhan diakui keberadaannya, nama-Nya disebut-sebut, bahkan diteriakkan dimana-mana, tetapi manusia tidak serius menyembah kepada-Nya. Tuhan dipaksa untuk memenuhi keinginan manusia. Lebih parah lagi, Tuhan hanya dianggap sebagai pelengkap penderita.

Sayangnya, manusia juga setengah-setengah dalam menihilkan peran Tuhan. Seharusnya, kalau memang Tuhan tidak sungguh-sungguh diakui keberadaannya, sekalian saja kebebasan mutlak menjadi pijakan hidup manusia untuk melampiaskan nafsu. Kenapa tidak menindas sebanyak mungkin orang? Kenapa tidak mengambil hak orang lain sebanyak-banyaknya? Kenapa tidak memilih berkuasa selama-lamanya? Jika keberadaan Tuhan sudah tidak diakui secara sungguh-sungguh.

Ketika manusia tidak menggunakan potensi-potensi yang dimiliki akal secara seimbang, hanya menggunakannya untuk sekadar bertahan hidup dan meneruskan perkembangbiakan saja, dengan mengabaikan fungsi lain seperti kemampuan untuk pengambilan keputusan, kepribadian, proses intelektual, interaksi dan lain sebagainya, lantas dimana letak perbedaan antara manusia dengan binatang?

Kalau menjumpai ada kran air yang ngocor terbuka sehingga airnya terbuang-buang, reaksi normal adalah berusaha menutup kran. Tidak perlu berpikir panjang, kalau bisa segera. Mungkin sembari kesal dan bertanya siapa orang yang telah membuka kran itu dan tega meninggalkannya. Melihat kerusakan yang ada, manusia tidak berinisiatif untuk memperbaikinya. Kehidupan demokrasi di Indonesia karut-marut tidak karuan, tetapi tidak ada niatan manusia Indonesia untuk memperbaiknya. Karena memang yang menguntungkan adalah hidup dalam sistem ketatanegaraaan yang karut-marut seperti sekarang ini.

Akal sehat akan memberikan konfirmasi bahwa ada keadaan yang tidak beres dengan kondisi yang ada. Tetapi, karena terjadi dismanajemen fungsi akal itu tadi, kebobrokan justru menjadi momen yang menguntungkan. Sehingga sebisa mungkin menghindari adanya perbaikan sistem.

Akan tidak mengherankan apabila kondisi yang terjadi di lingkungan, baik masyarakat, maupun lingkup negara, banyak terjadi tindakan-tindakan yang dirasa tidak sesuai dengan logika, seperti banyak kasus kriminal seperti kekerasan, perampasan hak orang lain, bahkan sampai menghilangkan nyawa.

Persoalannya bukan kita mampu atau tidak, melainkan kita mau atau tidak. Salah satu kekhawatiran yang berlebih dari manusia modern adalah kekhawatiran tidak bisa makan. Manusia berlomba-lomba menumpuk harta demi mencapai jaminan tidak lapar. Apakah salah menjadi orang kaya? Apakah salah menjadi penguasa? Tentu saja tidak. Asalkan yang dijunjung tinggi adalah asas kebermanfaatan bagi sesama manusia dan sesama makhluk hidup. (Redaksi Kenduri Cinta)

Buku dan Merchandise