Cinta Yang Mendewasa dan Mendewasakan

Sinau Bareng KiaiKanjeng, Lapangan Margomulyo Seyegan, Jumat, 22 November 2019

Lapangan Margomulyo, Seyegan, Yogyakarta. Sinau Bareng sebentar lagi digelar di sini, di hati manusia-manusia mujahid mujtahid cinta. Penegak kebersamaan dan kemesraan. Malam ini, Jum’at tanggal 22 November 2019M. Para makhluk Allah yang terbuat dari benih-benih cinta datang, hadir, berduyun-duyun, mengalir menuju lokasi Sinau Bareng. Kita Sinau. Kita berbarengan. Kita saling asah kemesraan. Menjadi ruang. Menampung penerimaan. Menjelma kembali jadi cinta.

Apa kebahagiaan utama dari seorang pecinta? Baik seorang tua kepada anaknya, seorang Mbah pada cucunya, atau seorang kekasih pada kekasihnya? Tentu adalah menyaksikan cintanya bertumbuh menjadi dewasa, mandiri dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Pendaran Cinta itu makin dewasa belakangan ini. Lihatlah wajah para hadirin itu yang  memenuhi ruang tanah lapang Margomulyo, pancaran kemandirian dan ketangguhan dilambari keceriaan seolah-olah setiap saat dalam Sinau Bareng ini adalah hari raya cinta.

Seperti yang kita ketahui bersama, Mbah Nun masih berada di Jakarta hari ini. Menemani pemulihan kondisi Mas Rampak pasca operasi kemarin. Syukur alhamdulillah, keadaan semakin membaik. Konsentrasilah dalam Sinau Bareng, konsentrasi dalam bergembira dan menyerap ilmu itu juga konsentrasi bukan?

Malam ini, Sinau Bareng dalam rangka menemani desa Margo Mulyo yang sedang merayakan hari jadi yang ke-73. Kita akan bersama-sama bersilaturrahim, bertamu ke hati masing-masing. KiaiKanjeng dengan personel lengkap. Ada Mas Helmi dari Redaktur Maiyah kita. Ada Pak Kiai Muzammil, yang punya hobi memotong kalimatnya sendiri ditengah berbicara itu, juga memendam cinta yang meledak-ledak. Ada Pak Setheng yang membahana, puitis dan samudera pengalamannya.

Cinta yang dewasa akan mendewasakan. Mendewasa artinya menjadi siap memancar lebih luas, siap berdampingan dengan yang liyan dan siap lebih mandiri. Rumah yang penuh cinta mempersiapkan putra-putrinya hidup sebagai warga desa. Desa cinta mempersiapkan warganya hidup di kota. Kota penuh cinta mempersiapkan manusianya hidup sebagai warga bangsa. Bangsa cinta mempersiapkan manusianya sebagai warga bumi. Bumi yang penuh cinta. Begitu terus, sampai puncaknya cinta yang mendewasa(kan), menjadi begitu mandiri sehingga mampu berdampingan dengan seluruh makhluk di sana. Di kampung halaman cinta.

Hay, itu “Kuncine Lawang Swarga” berkumandang mesra oleh KiaiKanjeng. Mari menjadi cinta yang mandiri dan dewasa bersama-sama. Sinau Bareng malam inipun dimulakan.

Buku dan Merchandise