Cepu Sinau Bareng Berpikir yang Mengenal Mozaik

Catatan Sinau Bareng Golek Dalan Padhang di Tuk Buntung Cepu Jawa Tengah, 27 April 2019

Habis Sinau Bareng di Jepara, Mbah Nun dan KiaiKanjeng langsung bergerak ke Cepu, sebuah kota yang terletak di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Dan segera kita lihat, lautan manusia tadi malam (Sabtu, 27 April 2019) tumplek di taman Tuk Buntung, salah satu public space di kota Cepu Kabupaten Blora ini. Sangat banyak. Boleh jadi terbanyak dalam pengajian-pengajian yang pernah ada di kota ini.

Tentang orang-orang yang berbondong-bondong membanjiri Sinau Bareng seperti itu, Mbah Nun selalu rendah hati menghindar dari merasa ini terjadi karena faktor Beliau. Ini sepenuhnya “Allah yang menyebabkannya.” Tetapi, tugas kitalah untuk belajar. Mbah Nun memenuhi undangan Sinau Bareng di mana-mana tidak sebagai ustadz atau kyai yang datang dari sebuah organisasi atau kelompok, bahkan sering tidak mau diposisikan sebagai ustadz atau kyai itu sendiri. Mbah Nun datang tanpa identitas apapun. Yang dibawa adalah kedekatan rasa kepada jamaah dan masyarakat, dan satu lagi adalah: kehadiran Beliau sebagai OS pengolah berpikir.

Sinau Bareng di Tuk Buntung ini diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim Golek Dalan Padhang Cepu. Nama majelis tersebut memiliki arti Mencari Jalan Terang. Tentang golek dalan padhang ini, Mbah Nun semalam menjelaskan, “Sebenarnya nggak ada jalan terang. Yang ada adalah hatimu yang terang atau padhang, dan itu yang penting. Sehingga dirimu yang menerangi jalan. Sehingga dengan hatimu yang padhang ini, gelap seperti apapun jalan, tak ada masalah.”

Ini satu cara berpikir yang diambil dari memaknai ayat pertama surat Al-Isra` yang menerangkan perjalanan Isra Nabi Muhammad dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha pada malam hari. Malam hari identik dengan gelap. Gelap adalah ketidaktahuan kita akan banyak hal, terutama sesuatu yang akan terjadi di masa depan, bahkan lima menit di depan kita. Kita menapaki sejarah dalam keadaan yang demikian. Maka dibutuhkan hati yang padhang, supaya kita mampu berjalan dengan baik, tegen, tidak terpeleset-peleset, dan dengan kewaspadaan.

Dari situ bisa dikembangkan lagi, menurut Mbah Nun, yaitu dengan mengidentifikasi apa-apa saja yang petheng (gelap) dalam kehidupan sehari-hari dan apa yang menjadi padhang-nya. Misalnya, lapar sebagai petheng, maka padhang-nya adalah makan. Carilah contoh sebanyak-banyaknya. Ada juga sepertinya yang memasukkan jomblo sebagai petheng. Hehe, Silakan saja. yang terpenting, inilah satu metode sederhana dalam berpikir yang kadang lupa kita terapkan. Kerapnya, kita sejengkal rentang berpikirnya. Dalam Sinau Bareng, Mbah Nun datang membawa OS (Operating System)pengolah berpikir itu.

Dengan cara demikian, tanpa disadari sebenarnya Mbah Nun sedang mengajak kita menaikkan level berpikir kita menuju berpikir yang mengenal lipatan, mozaik, warna, dan proporsi. Di Sinau Bareng tadi malam, satu contoh lagi bisa disebut di sini. Ketika itu Mbah Nun menerangkan bahwa apa yang terjadi pada kita bisa menempati empat kemungkinan posisi di hadapan Allah. Pertama, kita sedang diingatkan oleh Allah. Kedua, diuji. Ketiga, dihukum. Keempat, dibombong.

Mbah Nun mengajak kita untuk belajar mengidentifikasi di mana posisi kita. Jika Allah sedang mengingatkan, maka kita menjadi lebih waspada. Kalau diuji, kita sedang dijanjikan kenaikan kelas, jika kita lulus. Kalau dihukum, maka kita harus segera beristighfar dan memohon ampun. Kalau dibombong, maka kita perlu meningkatkan kewaspadaan, introspeksi, dan bahkan memohon ampun juga.

Kemudian meningkatkan level metode berpikir, Mbah Nun menguraikan, “Atau dalam kejadian yang kita alami itu ada prosentase-prosentase. Ada sekian persen yang berbobot diingatkan, sekian persen diuji, sekian persen dihukum, dst. Proses mempelajari dan mengenali ini juga bisa disebut sebagai golek dalan padhang.”

Demikianlah di atas panggung yang didominasi warna hijau dengan didampingi para pemuka masyarakat, Mbah Nun mengajak para jamaah yang terdiri dari para anak muda, bapak-bapak, ibu-ibu untuk menikmati oleh cara berpikir dengan cara yang sederhana dan direkatkan oleh kedekatan hati satu sama lain serta semua keindahan yang dicipta bersama. Seperti pada Sinau Bareng sebelum-sebelumnya, generasi milenial Cepu juga kebagian mendapatkan workshop dari Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Satu muatan utamanya tentu adalah juga latihan berpikir. Yang di segmen awal, sebelum Mbah Nun melantunkan Tombo Ati, para jamaah dihidang oleh Mbah Nun tiga pertanyaan yang perlu dijawab: Apa yang kita harus ngerti betul, apa yang sebaiknya kita perlu ngerti, dan apa yang tidak sebaiknya kita ngerti.

Pertanyaan-pertanyaan skematis sederhana yang dihadirkan Mbah Nun menggeser posisi kita yang selama ini kerap berpikir dan melihat dunia dengan satu titik, garis, dan jengkal linear belaka. Mbah Nun mengajak kita Sinau model berpikir yang lebih ombo yang mengenal lipatan, mozaik, warna, dan gradasi. Dan kita tahu, metode ini diharapkan dapat memberi bekal buat kita untuk memperbaiki praktik kita menjalankan agama, memahami ajaran, mengerjakan kebudayaan, dan lain sebagainya, kalau-kalau ada yang kurang presisi, kurang bijak, atau terjadi persoalan-persoalan. Dengan pendekatan berpikir tersebut, masalah-masalah yang mungkin timbul dapat dicari solusinya dengan keluasan dan kebijaksanaan.

Pukul 01.00 lebih, Taman Tuk Buntung masih tetap khusyuk suasananya meskipun hujan turun di pertengahan acara tadi, jamaah masih istiqamah menyimak Mbah Nun yang sedang tahap akhir menjawab pertanyaan-pertanyaan jamaah. Sejenak kemudian gerimis turun kembali. Mbah Nun memaknai ini sebagai tanda Allah memuncaki buat pertemuan Sinau Bareng ini dengan barokah-Nya, dan segera saja Mbah Nun mengajak jamaah berdiri, berdo’a, dan mengakhiri Sinau Bareng ini.

Usai berdoa bersama, Mbah Nun melayani salaman para jamaah yang amat panjang. KiaiKanjeng mengiringi dengan nomor-nomor pepujian atau shalawatan. Sebagian jamaah menghambur ke panggung, mendekat ke KiaiKanjeng, ada yang untuk berfoto diri dengan background panggung KiaiKanjeng. Wajah-wajah mereka gembira dan bahagia. Alhamdulillah. (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise