Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4122

Campurejo Sinau Mencapai Iman yang Berkualitas

Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng, Lapangan Singosari Campurejo Panceng Gresik, Senin, 14 Oktober 2019

Campurejo adalah wilayah kabupaten Gresik yang paling utara dan berada di ujung barat berbatasan dengan kabupaten Lamongan. Ia berada di pesisir utara. Ketika akan tiba di lokasi, ketika aroma tambak garam dan tambak ikan kami hirup, rombongan KiaiKanjeng yang dilangsir dengan mobil-mobil panitia sempat melewati desa sebelah yang sudah masuk wilayah kabupaten Lamongan.

Melewati desa tersebut kami sempat berjumpa pemukiman dengan bangunan rumah-rumah tua era Belanda. Kampung-kampung tersebut cukup ramai. Jalan yang tidak terlampau besar membuat kita lebih dekat melihat aktivitas masyarakat di sore hari. Warung atau penjaja makanan di pinggir jalan cukup ramai. Di sini saat-saat sore seperti ini, ibu-ibu sibuk menyiapkan bekal buat para suami yang nanti malamnya akan melaut. Para suami itu bekerja sebagai nelayan.

Memasuki Desa Campurejo pun juga demikian. Desa yang besar dan ramai, dengan penduduknya banyak anak-anak muda. Istilah sekarang, generasi menempati posisi sebagai bonus demografi. Sinau Bareng ini diselenggarakan oleh gabungan komunitas pemuda di sini, terutama dipelopori oleh GrDM (Gresik Death Metal) desa Campurejo. Para pemuda penyuka musik metal. Para nelayan di desa ini juga mendukung acara ini. Demikian pula dengan Kepala Desa yang merespons positif inisiatif para pemuda untuk menggelar Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Lapangan Singosari tempat berlangsung Sinau Bareng ini, yang dikelilingi rumah-rumah warga dan di satu sudutnya terletak Kantor Kepala Desa, sore itu, saat persiapan, menunjukkan bahwa desa ini benar-benar rejo. Menurut Abah Hamim, salah satu sesepuh desa yang juga sahabat lama Mbah Nun semasa blusukan di Eropa pada 1984, desa ini bernama Campurejo dikarenakan penduduknya campuran. Ada yang berasal atau keturunan dari Bawean, Madura, Lamongan, dan Gresik sendiri, sehingga diberi nama Campurejo. “Ahlan wa sahlan Cak Nun untuk datang di kampung saya,” kata Abah Hamim dalam sambutannya.

Pentingnya Ujian, Menguji Diri, dan Riyadhoh

Tema yang diangkat panitia dalam Sinau Bareng ini adalah “Menuju Iman yang Berkualitas.” Mbah Nun sangat serius dengan setiap tema yang diusung oleh para panitia Sinau Bareng, dan kali ini Mbah Nun mengacukan tema tersebut pada surat Ali Imran ayat 186. Ketika tiba di panggung, kemudian duduk bersama Kepala Desa, Ketua Panitia, dan tokoh-tokoh masyarakat seperti para Kyai, Mbah Nun membukakan acara ini salah satunya dengan meminta Mbak Nia melantunkan qira’ah ayat 186 surat Ali Imran tersebut.

Inilah terjemah ayat itu, “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” Mas Islamiyanto diminta membaca terjemahnya secara utuh maupun pada waktunya bagian per bagian manakala bahasan sampai ke bagian tersebut.

Intinya, iman akan meningkat atau berkualitas, manakala ada ujian terlebih dahulu. Ayat ini dengan terang menyebutkan. Manusia akan diuji dengan hartanya dan dirinya. Satu penggal kalimat dari ayat ini saja sudah dapat ditadabburi, karena dari situ pertanyaan dapat dimunculkan. Misalnya, kata Mbah Nun, mengapa yang disebut adalah harta dulu baru kemudian diri. Urutan ini pasti mengandung ilmu atau konsep.

Mbah Nun coba menggali ke jamaah, namun sebagian mungkin belum membayangkan metode pendekatan Mbah Nun atas ayat-ayat al-Qur’an ini. Sembari menunggu respons, Mbah Nun juga sekaligus mengingatkan bahwa dalam banyak ayat, urutan kata dalam al-Qur’an sangat terasa ditata dengan sedemikian rupa sehingga mengisyaratkan kandungan-kandungan ilmu dan konteksnya. Ambil contoh, Sami’un bashir dan bukan sebaliknya adalah isyarat bahwa mendengar itu lebih penting daripada melihat. Telinga (mendengar) sebagai sarana menyerap informasi lebih vital dibanding mata. Sebagai ilustrasi Mbah Nun menyebut, jika dibandingkan antara tunarungu dan tunanetra, tampaknya lebih banyak tunanetra yang sarjana ketimbang yang tunarungu.

Kembali ke harta. Mengapa dalam hal harta manusia diuji dulu? Dalam pandangan Mbah Nun, hal itu disebabkan karena dalam kehidupan sehari-hari yang normal manusia lebih banyak dituntut untuk memberi atau berbagi dengan hartanya. Seberapa ringan dan murah hati dia memberikan hartanya buat orang lain atau kepentingan bersama. Sementara dalam keadaan perang, misalnya, yang diminta terlebih dulu kesiapan ‘diri’ seseorang. Maka ayat tersebut yang berbicara dalam konteks sehari-hari menyebut harta dulu.

Sesudah memahami ujian ini, pada akhir ayat ini Allah mengatakan, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” Karenanya, Mbah Nun berpesan agar kita selalu nyantol kepada Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Itulah takwa. Selain itu, sikap yang berikutnya adalah sabar. Sehingga, jika iman ingin berkualitas, jalannya adalah memperkuat sabar dan takwa dengan jalan menempa diri melalui ujian-ujian.

Buku Cak Nun Majalah Sabana