Cak Nun Mendekonstruksi Epos Mahabarata: Posmodernisme Novel “Arus Bawah”

Pada titimangsa ini kita menengok kajian analitis Marshall Clark yang artikelnya bertajuk ‘Smells of Something like Postmodernism’ Emha Ainun Nadjib’s Rewriting of the Mahabarata terbit di buku Clearing a Space: Postcolonial Readings of Modern Indonesia Literature. Buku ini diterbitkan pada 2002 oleh Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Press. Buah pena Clark menarik diperbincangkan karena ia menelisik novel Cak Nun bertajuk Gerakan Punakawan atawa Arus Bawah (1994) dengan pisau dedah posmodernisme.

Novel Cak Nun ini sebetulnya lahir dari cerita bersambung di Harian berita Buana edisi 28 Januari sampai 31 Maret 1991. Menggunakan tokoh cerita dari Punakawan, Bagong, Petruk, Gareng, dan Semar, Cak Nun membawa narasi pewayangan sedemikian khas: Bagong sebagai sisi lain dari Ismaya Badranaya, Petruk diposisikan sebagai pengamat, Gareng diandaikan sebagai filsuf yang sibuk dengan pikiran reflektifnya sendiri, dan Semar sebagai sang penjaga keseimbangan. Penokohan yang disematkan kepada keempat punakawan ini, bagi pembaca yang familiar dengan pewayangan, niscaya langsung menangkap alur cerita dengan mudah dan lekas.

Masalahnya bermula dari Semar yang tiba-tiba menghilang. Gareng, Sang Pemikir, bingung bukan kepalang. Sementara Petruk tenang dan sekadar senyam-senyum. Peran kepunakawanan mereka di dusun Karang Kedempel belum sepenuhnya selesai. Masalah makin mengerucut manakala tugas itu tak tertunaikan tuntas, sebab Semar sebagai pemimpin hilang ditelan bumi. Cak Nun piawai menganalogikan Karang Kedempel sebagai wujud wilayah bernama Indonesia. Hilangnya Semar menunjukkan absennya kepemimpinan. Kita tahu punakawan itu citra demokrasi di Indonesia.

Lewat novelnya Cak Nun mengkritik kondisi Indonesia kala itu manakala demokrasi mangkat. Praktik demokrasi tergeser oleh feodalisme yang menguat di pemerintahan. Media massa dibungkam total. Beropini tapi berlawanan dengan penguasa dianggap anti Pancasila. Kontrol terhadap rakyat dilakukan sedemikian rupa. Akar rumput dibuat kondisi “massa mengambang”. Kita bisa membaca kondisi ini dari percakapan di antara punakawan yang kritis sekaligus ceplas-ceplos.

Dalam novelnya Cak Nun mencatat, “Kalau Gareng atau Mbilung atau siapa saja melontarkan sesuatu yang bertentangan dengan kemauan Pak Kades, ia akan dituduh Anti-Lima Asas. Itu untuk memalsukan kebenaran di mana Gareng sebenarnya bersikap anti-pendapat Pak Kades” (Nadjib, 1994-116). Kutipan tersebut kemudian diperjelas oleh Clark sebagai berikut.

“Mahabarata as Karang Kedempel’s sole ideological and ethical foundation. According to Semar’s sons, it is the Mahabarata and associated formulations such as Asas Lima (Pancasila), Asas Lima Demokrasi (Pancasila Democracy), along with Kromoisasi (Kromo-ization), that have legetimized the feudalistic attitudes and oppresive social and political machinations of the Mahabarata gods, princes and bureaucrats, at the expense of the vilagers of Karang Kedempel” (hlm. 277).

Akibat kondisi karut-marut itulah Karang Kedempel seperti berada di ujung tanduk. Masyarakat di sana dikondisikan supaya tampil bukan sebagai diri sendiri yang otentik. Mereka dibonsai agar monolitik dan patuh. Hal ini diproyeksikan secara makro supaya stabilitas nasional terjaga—sekalipun kehendak demikian harus mengeluarkan biaya kemanusiaan yang tak murah.

Cak Nun membincang persoalan besar di Indonesia yang dipermisalkan melalui kondisi sosial di Karang Kedempel. Jagat pewayangan didekonstruksi Cak Nun sebagai landasan konseptual untuk menjelaskan kenyataan sosial-politik di Indonesia. Demokrasi ditumbalkan demi kepentingan elit. Potret tersebut dapat ditengok tatkala Semar memilih membisu saat Bambang Ekalaya wafat karena strategi Prabu Kresna dalam skenario Mahabarata. Demikian pula manakala aib Arjuna disensor demi menjaga kehormatan stabilitas negeri.

Membongkar Kemapanan

Clark berargumen kalau Arus Bawah dipertautkan oleh narasi inti atas kegagalan negara dalam menjaga disparitas ekonomi dan keadilan sosial. Melalui dialog antartokoh punakawan di dalamnya, feodalisme yang dipraksiskan serampangan dijungkirbalikkan. Feodalisme Jawa yang menyelinap di pikiran dan tindakan pemerintah dengan ditunjukkan oleh sistem hierarki yang timpang dikritisi punakawan. Para tokoh punakawan menghendaki sistem politik dan sosial yang lebih demokratis.

Persoalan yang menarik selanjutnya, Clark berpendapat kalau Cak Nun melakukan dekonstruksi atas penokohan punakawan. Kecenderungan ini ia sebut sebagai pengembangan atas budaya carangan. Punakawan diposisikan sebagai simbol wong cilik. Sedangan pada epos Mahabarata sendiri tak dikenal tokoh punakawan. Tentu saja terdapat perbedaan antara tokoh punakawan versi carangan yang lazim beredar dalam pewayangan Jawa dan punakawan versi Cak Nun yang telah didialogkan dengan konstruksi narasinya sendiri. Menurut Clark, Cak Nun melakukan eksperimen “de-Mahabarataisasi” melalui novelnya.

Clark menulis, “ … this interrogation, or ‘de-Mahabharata-ization’, would arise the possibility of a post-Mahabharata era, where the clown-servants could use their social and historical links to the people and to the indigenous culture to promote a more democratic political system. Reminding themselves that the Mahabharata ‘grand narrative’ is an imported foreign product, they exhort the other villagers to turn to their own kind, the clown-servants, and to their very own indigenous ‘micronarratives’, the lakon carangan, or ‘branch stories’” (hlm. 277).

Bagi Clark, Semar merupakan ikon posmodern. Cak Nun dengan kredo carangan versinya, sengaja memberi tempat para tokoh dalam novelnya itu untuk berkembang dan berperan secara inkonvensional. Kecenderungan “de-Mahabarataisasi” ini disebut Clark sebagai “a contemporary exemplar of carangan thought” dalam rangka tujuan didaktik (hlm. 278-279). Sebagai contoh, Semar acap kali diekspresikan sebagai hasrat akan kebebasan dan demokrasi. Itu kenapa ia berkebalikan dengan saling-silang epos Mahabarata yang banyak mewacanakan represi politik dan manipulasi kultural.

Cak Nun tak sendiri dalam melakukan eksperimentasi cerita punakawan sebagai wacana tandingan untuk mengkritik Orde Baru. Temuan Clark menunjukkan banyak karya sastra pada awal 90-an yang menarasikan kecenderungan serupa—bahkan memosisikan Semar sebagai tokoh sentral. Antara lain Novel Perang (1990) karya Putu Wijaya, drama Semar Gugat (1995) karya Nano Riantiarno, cerpen Semar Mabuk (1995) karya Danarto, Sembilan Semar (1996) karya Seno Gumira Ajidarma, dan lain sebagainya.

Dalam kacamata Clark, Cak Nun berhasil memproduksi makna dan narasi punakawan di Karang Kedampel yang sesungguhnya merupakan kritik sosialnya buat pemerintah Indonesia waktu itu. Cak Nun bermain dengan perspektif dekonstruktif dengan merayakan budaya carangan sebagai wacana tandingan atas pakem pewayangan, terutama menyodorkan “de-Mahabaratisasi” yang semula epos Mahabarata telah menjadi arus utama. Itu kenapa Clark membubuhkan judul kajiannya itu “Smells of Something like Postmodernism” karena dianggap novelnya mengartikulasikan wacana alternatif sebagai tandingan “narasi besar” ala posmo.

Setidaknya terdapat dua argumen menurut Clark. Pertama, Cak Nun melakukan sintesis sekaligus penyandingan secara kritis dalam rangka merespons kecenderungan hierarkis di dalam jagat pewayangan dan ternyata ditemukan di dunia modern: utamanya diterapkan Orde Baru yang masih mengakomodasi praktik feodal. Cak Nun menitikberatkan pada tradisi, namun pada saat yang sama juga tetap menerima pelbagai kemungkinan posmodernisme.

Kedua, konstruksi novel Arus Bawah banyak mengawinkan sekaligus membenturkan unsur pakem dan carangan secara dialektis. Dua unsur tersebut setarikan napas dengan spirit posmodernisme yang sering dianggap bersitegang antara pemahaman baru dan lama, baik berupa kepentingan ekonomi, sosial, dan budaya.

Senada dengan kondisi itu, Lyotard (1985) mengidentifikasikan kalau posmodernisme mempersoalkan “keraguan terhadap metanaratif” yang menandai era modern dan “modernisme baru” atau disebut “mikronaratif baru” sebagai sesuatu yang terpisah dan otonom. Unsur posmo dalam Arus Bawah memang berusaha mendekonstruksi ortodoksi.

Buku dan Merchandise