Cak Nun Bagi SAR DIY

Komandan SAR DIY, Brotoseno, mengatakan bahwa kasih sayang dan cinta Cak Nun yang tak henti-hentinya kepada seluruh anggota SAR DIY adalah ‘senjata’ bagi mereka dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Hal itu disampaikan Brotoseno dalam sambutannya pada acara Wirid dan Shalawatan SAR DIY di Rumah Maiyah tadi malam (19/12/2019). Acara ini digelar oleh SAR DIY sebagai ungkapan cinta dan doa kepada Cak Nun yang tak lain adalah Ketua Dewan Syuro SAR DIY agar beliau selalu diberi kesehatan oleh Allah.

Rangkaian doa itu dipimpin oleh KH Fuad Riyadi pengasus Ponpes Roudlotul Fatihah Pleret Bantul yang sekaligus juga ketua Dewan Syuro SAR DIY distrik Bantul. Seluruh anggota SAR DIY yang hadir di Rumah Maiyah mengikuti dengan khusyuk setiap bacaan doa, sekian kali bacaan surat al-Fatihah dan beberapa surat pendek, shalawat, dan doa penutup. Seluruhnya diniatkan memohon kepada Allah agar khususnya Cak Nun diberi kesehatan, demikian juga kepada komandan SAR dan para anggotanya.

Dengan penuh rendah hati Kyai Fuad mengatakan di dalam sambutannya di depan para anggota SAR DIY, “Usia Cak Nun lebih penting ketimbang umur kita. Karena beliau jauh lebih dibutuhkan bagi bangsa ini sebagai Guru Berpikir di Indonesia ini.”

Atas semua doa itu, Cak Nun menyampaikan rasa senang serta terima kasih dan mendoakan balik buat semua anggota SAR DIY, “Saya maturnuwun sudah didoakan, dan itu insyaAllah akan direspons oleh Allah dalam bentuk dikabulkan duluan untuk Anda ketimbang saya, pada semua hal yang baik dari hajat Anda.”

Usai Wirid dan Doa itu, acara dilanjutkan dengan dialog atau bincang-bincang dengan Cak Nun, Komandan Brotoseno, Sabrang MDP, KH. Fuad Riyadi, dan Abdul Halim yang kebetulan menjabat sebagai wakil bupati Bantul. Sementara itu, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Cak Nun untuk melecut para anggota SAR utamanya lapis generasi mudanya.

Mulanya mereka yang duduk depan Cak Nun, diminta membuat satu kalimat yang dimulai dari satu orang yang menyebut satu kata saja, bebas, kemudian disambung sebelahnya dengan satu kata, hingga seterusnya dan pada akhirnya membentuk satu kalimat yang bermakna.

Tidak seketika bisa, sehingga dibutuhkan dua hingga tiga kali diulang. Dalam proses itu, Cak Nun menunjukkan pentingnya punya rentang dan asosiasi ke belakang dan ke depan dari setiap kata yang ada dalam pikiran mereka. “Ini untuk menujukkan seberapa banyak yang kalian ketahui dalam hidup ini.”

Urusan Kebaikan, Jadilah Subjeknya

Lewat simulasi kecil yang dibawakan tadi, Cak Nun menegaskan satu hal, “Itu semua perlu dilakukan karena kalian adalah khalifah, sehingga kalian perlu mengerti banyak, meskipun kegiatan kalian dalam menolong orang sudah jauh lebih dari cukup.”

Simulasi ini juga dijadikan jalan bagi Cak Nun untuk memperkenalkan kepada anak-cucu SAR DIY ini pada dua kosakata yang merupakan dikotomi yang berlangsung di dalam kehidupan yaitu altruis versus selfis. Altruis adalah mau berbagi sama orang lain, sedangkan selfis adalah mementingkan diri sendiri dan tak mau berbagi sama orang lain. “Anda semua, SAR DIY adalah pendekar-pendekar altruis,” kata Cak Nun mencontohkan dan memuji komitmen kemanusiaan mereka.

Anak-anak itu lalu diajak oleh Cak Nun bahwa yang sedang terjadi di dalam masyarakat bukan tidak mungkin adalah kaum selfis yang menunggangi altruisme kehidupan. Tentang altruisme ini, Cak Nun mengingat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Kun madhluman, wa la takun dholiman. (Jadilah orang yang dianiaya, dan jangan jadi orang yang menganiaya).”

Cak Nun melihat pesan Sayyidina Ali ini sebagai satu sikap atau ekspresi yang sangat radikal dalam hal altruisme. Betapa tidak, dalam interpretasi kontekstual Cak Nun, jika harus terjadi hal berkaitan dengan aniaya, kita diajarkan untuk tidak menganiaya orang lain, bahkan sebaliknya harus siap dianiaya. Lebih tegasnya, lebih baik berada pada posisi dianiaya ketimbang menganiaya.

Dari sini, Cak Nun berpesan agar dalam hal-hal kebaikan, para anggota SAR DIY harus menjadi subjek atau pelakunya. Sementara dalam hal-hal yang buruk, kesiapannya adalah siap jika harus menjadi objek, misalnya disalahpahami, disangkaburuki, atau dijelek-jelekkan, dan yang sejenis. Jika mau berhitung posisi ini membawa dua keuntungan: Allah punya alasan untuk berlaku baik kepada kita, dan orang yang bersikap buruk kepada hakikinya punya hutang kepada kita.

Itulah salah satu pembukaan cakrawala berpikir yang diajakkan Cak Nun kepada para anggota SAR DIY. Selain lewat perspektif altruisme vs selfis, Cak Nun juga menyuguhkan dua terminologi: patuh dan bebas. Di sini, anak-anak diajak mengingat-ngingat apa saja dalam hidup ini yang mereka harus patuh, dan mana saja yang mereka bebas (boleh menyusun atau berinisiatif sendiri). Dari soal melaksanakan perintah agama hingga dalam urusan bagaimana kegiatan kemanusiaan dilakukan oleh SAR.

Penggalian contoh bahkan dieksplorasi oleh Cak Nun lewat meminta qari tadi malam membawakan contoh jenis-jenis maqamat dalam melantunkan adzan dan ayat-ayat al-Qur’an. Kemudian dia diminta membawakan dalam jenis nada slendro dan pelog. Ini untuk menunjukkan tentang contoh kebolehan yaitu ternyata banyak dalam wilayah yang kita diberi kebolehan atau kebebasan malah memilih taklid.

Demikianlah beberapa hal yang dilecutkan Cak Nun sebagai Ketua Dewan Syuro SAR DIY kepada para pasukannya. Semuanya berlangsung dalam kesungguhan, namun juga penuh kasih-sayang, kegembiraan, dan kesegaran. Selepas acara, para anggota SAR DIY menyalami penuh takdhim kepada Cak Nun dan para komandan lainnya. Mereka pulang ke tempat masing-masing tetapi sesudah mereka ikut beres-beres sehingga tempat acara kembali bersih dan rapi seperti sebelum acara.

Buku Cak Nun Majalah Sabana