Bukan Sakaratul Hubb!

Amar Maiyah – Tahlukah dan Hizib Nashr Maneges Qudroh, 25 April 2019

Untuk ngestoake dhawuh atau melaksanakan apa yang menjadi perintah Simbah atas fenomena yang terjadi di Bangsa ini. Do’a untuk membatalkan kehancuran yang mungkin bisa saja terjadi karena kedhaliman yang sudah merabak, atau bahkan kerancuan proses berpikir yang sudah terlalu mengakar dan membutakan hati. Sehingga, bukan tidak mungkin apabila makna akan surat Al-Maidah 54 menjadi sebuah kenyataan. Yang pasti kehancuran adalah salah satu jalan menuju sebuah kelahiran.

Kita (bangsa ini) sudah berada dalam laju menuju ruang kehancuran, terlebih kalau kita cermat niteni tiap jengkal kata yang selalu Simbah sampaikan. Kehancuran ini pun bukan sepatutnya juga dimaknai atas dasar murka Tuhan. Justru, kehancuran disini adalah salah satu bukti nyata jika Tuhan selalu setia bersama bangsa ini, sekalipun mayoritas rakyatnya enggan untuk mengingatNya terkecuali demi laba diri mereka sendiri. Tapi, Maiyah datang membawa persembahan tanpa menuntut apapun kecuali cinta. Simbah pun sudah berulang kali mengatakan jika Maiyah ini salah di pandangan-Mu, mohon untuk segera dibubarkan. Gak ada Maiyah juga gak patheken. Akan tetapi, jika maiyah adalah salah satu wujud cintaMu kepada kami, maka mohon bimbing kami dalam segala kesunyian ini.

Malam itu, 25 April 2019, para Mutahabbina Fillah yang lahir dari rahim Maiyah ini berkumpul di Panti Asuhan Daarus Sundus, Borobudur, Magelang. Untuk menunaikan pembacaan Do’a Tahlukah dan Hizib Nashr. Ini adalah kali ketiga Simpul kami melaksanakan Do’a Tahlukah, setelah sebelumnya tahun 2013 dan tahun 2016 pernah dilakukan di Sawangan, Magelang. Aroma dupa telah tersaji ketika memasuki ruangan pembacaan Do’a mengingat bagi kami Do’a ini sangatlah sakral untuk benar-benar kita mohonkan kepada Allah sebagai buah kasih sayang kami kepada negeri ini.

Tidak bisa kita hanya duduk santai, sekalipun berada dalam lingkar Maiyah. Justru, jika terlibat dalam Maiyah, sudah sewajarnya memiliki kesadaran untuk bersama-sama melakukan tajahud ataupun mujahadah bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Padahal belum datang (cobaan) kepada kalian sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, tidakkah kita sudah merasakan hal sama atau bahkan lebih karena kedhaliman ini bersembunyi di balik topeng orang-orang munafik? Atau kejadian ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan umat terdahulu? Bisakah kita pun merasa bukan orang dhalim disaat kita melafazhkan subhanaka inni kuntu minadh-dhalimin! Wallahu’alam.

Para jamaah yang hadir untuk mengikuti acara khusus ini lebih banyak dari biasanya. Nampak ketulusan dari wajah-wajah mereka untuk turut menyumbangkan do’a demi kemashlahatan ummat di negeri yang selama ini kita rumat bersama dari generasi ke generasi. Tidak ada yang mewajibkan untuk datang dalam acara ini. Penggiat hanya urun buat poster dan menyediakan tempat, masalah ada yang mau ikut membersamai atau tidak itu bukan kuasa kami, kecuali Allah-lah yang pada akhirnya menggerakkan hati kita semua untuk melakukan dhawuh Simbah dan mengumpulkan kita bersama.

Alunan do’a Tahlukah mulai dilantangkan Mas Virdhian, diiringi dengan wirid “Laa Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah” oleh seluruh jamaah dengan intonasi dan nada yang bervariasi. Tetesan air mata yang nampak menggambarkan keintiman suasana. Jangan kira air mata ini adalah tangis mereka, melainkan wujud air mata-Nya.

Ilahana… ilahana… ilahana…” saat itu pula wirid dari jamaah langsung meningkat temponya, menjadi serentak dan semakin lantang, lantang! Seolah mereka mengeluarkan apa yang telah terpendam selama ini. Rasa keinginan yang selalu tertahan akhiranya bisa dilantangkan bersama untuk segera dikabulkan permohonan ini. “Ya Allah, lapangkanlah kepada kami kesabaran, agar kami dapat menepuk dada kami kepada hamba-hamba-Mu yang mencintai kesempitan.” Salah satu makna diantara rangkaian gerbong makna dalam Do’a Tahlukah. Menghantarkan kita dalam kebersamaan Ma’iyyah kami demi keselamatan negeri ini.

Dilanjutkan dengan Pembacaan Hizib Nashr, yang secara tradisi tidak boleh juga sembarangan dibacakan kecuali ada semacam ijazah dari yang memberikannya. Hizib ini dibaca dengan niat untuk membentengi diri, melindungi diri dan memohon perlindungan semata-mata daripada Allah. Bahwa kami bukanlah suatu kekuatan politik, karena kami tidak seperti Indonesia yang seperti ini. Semua dilakukan atas dasar ketulusan dan cinta kami. Yang sebetulnya ketulusan dan cinta kami rasakan ini pun sejatinya bukanlah milik kami.

Sakaratul maut tidak terlalu mengerikan dibandingkan dengan sakaratul hubb. Bagaimana jika rasa cinta ini mati? Selalu terpinggirkan dan terbuang dalam kesunyian di arus zaman yang semakin mengedepankan eksistensi. Kami tidak pernah mengharapkan hal-hal seperti ini menjadi suatu pertanda kehebatan gerakan, kecuali memang sejalan dengan kehendak Allah SWT. Bukankah kita hidup juga karena cinta? Do’a pembatal kehancuran ini seakan mennyiratkan suatu cahaya yang lebih terang. Laksana semburat kecil yang menegaskan bahwa masih ada cinta di dalam kegelapan sekalipun.

Bahkan, tidak hanya di kota kami, bagi seluruh simpul pun demikian. Tak lebih semua ini terlaksana bukan karena takut akan kehancurannya. Tapi penegasan cinta kami, setidaknya kepada Simbah yang telah menyatukan kami semua dalam kegembiraan dan kemerdekaan berfikir. Membukakan jalan untuk lebih intim dalam segitiga cinta Maiyah. Dan setidaknya Maiyah adalah benteng terakhir yang selalu menjaga bara cinta itu tetap menyala dalam bangsa ini tanpa tendensi apapun.

Oleh-oleh ilmu dari Syukuran ‘Ajibah Maiyah sembari bersama-sama menikmati sajian makanan sederhana menjadi penutup acara Amar Maiyah dari Maneges Qudroh malam hari itu. Sudah menjadi kebiasaan walaupun acara telah ditutup lantas tak lekas pulang, masih ada sesi berikutnya yang selalu mengantarkan ‘ingat’ kami sembari menanti fajar. Istajib Lana, Yaa Allah!

Buku Cak Nun