Black Hole, Kehancuran dan Keselamatan

Angin bertiup berubah haluan, segala denyut nadi manusia, hiruk-pikuk dan pertengkaran atau persatuan berbaur menjadi satu jalinan runyam di pojokan pasar demokrasi. Ruangan-ruangan rumahku, kamar pribadiku yang biasa tenang kini demi kacau, sudut sepi yang biasa kugunakan untuk membaca kata pun terguncang oleh gaduhnya keluarga karena hal-hal yang sebetulnya bukan urusan mereka. Kontestasi ini akhirnya menggedor pintu rapat kesunyianku. Pesta Demokrasi ini merubah air telaga bening yang damai menjadi sedikit mendidih di pinggirannya.

Geliat alam semesta tidak bisa memungkiri kodratnya, putaran bumi, edar mengelingi surya, juga lintasan galaksi membawa kita pada ketakjuban terus-menerus akan sesuatu di atas langit. Sementara di tanah, semua juga bergeser begitu adanya, perubahan-perubahan tak hanya berjalan menyapa jutaan bintang dan meteor di semesta, namun di sini perubahan juga menghiasai dalam kadarnya masing-masing.

Semua bergerak berlawanan, berhadap-hadapan, akhirnya sedikit demi sedikit berhadapan. Seperti lengkapnya sebuah keseimbangan akhirnya dalam bernegara hanya berhenti pada pembedaan-pembedaan, bisa soal ideologi, konsepsi ekonomi, visi-visi yang lain lagi jika diperas hanyalah garis batas jelas antara kejahatan, kemunafikan, penindasan dengan mereka yang mendapat akibat langsung dari hal tersebut. 

Naifnya perbedaan dikotomis ini membawa kita pada persoalan-persoalan kepemimpinan yang selama kita berdiri menjadi negara juga tak kunjung lulus mengurusi strategi pemilihan dan kelayakan harkat menjadi pemimpin. Dalam setiap zaman selalu ada bolong-bolong yang selalu berakibat langsung kepada Rakyat sebagai pemberi kepercayaan.

Bangsa yang terlalu percaya diri tak-berkontinuasi akhirnya sok-sokan meninggalkan konsep kepemimpinan kerajaan-kerajaan, perdikan-perdikan menuju apa yang pada masa kolonial dihembuskan sebagai konsep pemerintahan yang ideal. Meski pada akhirnya bagaimanapun Negeri ini mengedukasi warganegaranya menggunakan sistem demokrasi ini, yang ada akhirnya juga kembali ke bentuk awal mula dari kontinuasi-kontinuasi. Kerajaan.

Kerajaan yang ada sekarang variabelnya jauh lebih banyak tak sekadar tatanan politik kenegaraaan, tapi justru berbentuk kepentingan sistemik misalnya kerajaan politik, kerajaan ekonomi, kerajaan proxy dari penguasaan SDA oleh kerajaan global lain dari utara atau barat. Akhirnya keruwetan demi keruwetan muncul, kegamangan muncul lalu berakibat banyak lagi manusia yang cupet berfikirnya, cetek nuraninya di negeri yang sudah menggumpal ironi.

Kontestasi berjalan dengan gaduh, banyak ruang-ruang yang marah, banyak tanaman saling mengklaim kebenarannya seolah tidak ada celah lain bagi kebenaran lain semakin mengasah pedang menjadi landep, karena manusia menjadi seperti besi yang kaku, angkuh dan bertemu dengan besi lainnya. Banyak analisis kemudian muncul, soal potensi konflik horizontal, soal geramnya masyarakat atas nama dukungan, atau tak pelak di akhirnya juga muncul berbagai macam kecurangan juga sistem-sistem yang kemudian membunuh pelaku, petugas, panitia kontestasi itu sendiri. Pesta itu kemudian menjadi kesedihan. Kesedihan yang disumpal dengan “gelar pahlawan” yang memuakkanku di dalam hutan belantara bernama kota.

Langkahku menyepi menyambangi sungai-sungai jernih yang tak terkontaminasi sampah dan limbah demokrasi. Ada kebahagiaan di sana, dan ada yang lain di sana ketika belantara sudah menjadi ajang perburuan di dalam sungai kedamaian itu terasa, banyak pejalan yang menemukan keseimbangan, juga untuk terus mengasah kewaspadaan. Lalu selebaran disebar, Amar Maiyah. Dua tulisan terbit di salah satu aliran virtual ‘sungai yang jernih’ itu. Memohon batal kehancuran namun background-nya adalah peristiwa alam yang baru pertama kali sepanjang peradaban direkam oleh teknologi. Lingkaran blur berlatar belakang hitam, dan berbentuk seperti lingkaran berwarna oranye. Blackhole.

Seperti jangkep, pertanyaan yang muncul adalah Blackhole itu simbol dari Penghancuran, kehancuran alam semesta itu sendiri, sementara dalam teks yang ditulis adalah memohon batalnya kehancuran (yang berarti juga berkata keselamatan, nashr). Posisi ini yang menurut saya menarik, supaya keselamatan dari kegaduhan ini terselenggara harus ada penghancuran-penghancuran.

Blackhole sepanjang sejarah adalah konsep dalam imajinasi ilmuwan Albert Einstein, sebagai pelengkap teori kekekalan energinya, jika alam semesta yang dihampar ini adalah energi positifnya, misalnya. Blackhole ini adalah energi negatifnya, vacuum cleaner yang bisa menyerap segalanya.

Menarik sekali ketika Tajuk ditulis berlatar peristiwa alam yang baru bisa difoto tanggal 10 April 2019. Penghancuran itu memang bisa diumpakan seperti blackhole, atau dialam semesta ada Supermassive Blackhole yang dalam berbagai analisis medan itulah yang akan menghisap semesta. Lalu apa berita keselamatannya?

Antitesanya ditulis oleh Stephen Hawking dalam konsep Hawking Radiation, di mana blackhole dalam hisapannya akan melepaskan pula radiasi yang akan mengurasi massa dan energi blackhole itu sendiri sampai akhirnya blackhole itu hilang. 

Taddaburnya, saya anggap pembacaan Tahlukah itu adalah permohonan penghancuran, timbulnya blackhole-blackhole di Indonesia dalam berbagai peristiwa baik di ranah politik, sosial, ekonomi, kedaulatan pertahanan dst. Hingga mereka yang turut berperan serta melakukan penghancuran akan hancur oleh blackhole, dan setelah itu radiasi yang ditimbulkan, kemudian memperlemah penghancuran itu sendiri. Pada akhirnya menghasilkan ledakan yang benar-benar baru, harapan-harapan yang baru yang menjawab segala keruwetan negeri yang sudah jauh di atas pemikiran manusia bagaimana mengatasi problem.

Dan Amar Maiyah adalah jalan baru dari segala teori problem solving yang terus mengandalkan ilmu, akal, konsep juga analisis-analisis. Amar Maiyah adalah memohon keterlibatan langsung pemilik semesta dalam menyelesaikan, membalaskan dan merampungi berbagai masalah.

Semoga Bangsa Indonesia terlindung dari segala kehancuran, pencurangan, dan kerusakan yang berjalan sistemik. Lalu sungai jernih akan kembali menawarkan hutan-hutan yang tentram di hijaunya lereng dan hijaunya pegunungunan, serta blackhole akan memberikan keselamatan bagi semesta lewat penghancurannya.

Amin, yaa mujibassailin.

Buku Cak Nun