Bilis Bellas

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya” (QS. Az-Zalzalah: 7)

Adalah sejumput kisah dari seorang Nabi dan Rasul dengan segala keistimewaan dan perjuangan ketauhidannya Nabi Ibrahim AS yang di jatuhi hukuman mati oleh raja Namrud dengan membakarnya hidup-hidup, hari sudah di tetapkan kayu bakar sudah di siapkan kabar tentang akan di bakarnya Nabi Ibrahim AS telah tersebar ke seluruh kota.

Ketika keangkuhan raja Namrud pada puncaknya melihat kayu bakar sudah di susun mengelilingi sebuah tiang yang di gunakan mengikat Nabi Ibrahim AS pada hari pembakaran, di lain sudut kota seekor semut yang mendengar bahwa Nabi Ibrahim AS akan di bakar dalam hitungan menit membuat bejana dari kayu dan bergegas menuju danau untuk mengambil air kemudian meletakkan bejana berisi air tersebut di atas punggungnya dan berjalan menyusuri keramaian kaki-kaki manusia.

Api sudah di nyalakan asap membubung tinggi seperti hendak mencakar langit melihat itu semut semakin mempercepat langkahnya hingga di persimpangan jalan semut tersebut bertemu seekor burung gagak yang mempertanyakan tindakannya, gagak mempertanyakan tindakan irasional semut untuk memadamkan kobaran api yang sangat besar hanya dengan air dari bejana yang ia bawa. Semut menghentikan langkahnya dan berkata: “Saya tahu bahwa air yang saya bawa tak kan cukup untuk memadamkan kobaran api itu, saya hanya ingin memastikan disisi bagian mana saya berdiri dan saya tidak ingin membiasakan diri dalam ketidakpedulian apalagi untuk kekasih alam semesta”. Semut meneruskan langkahnya dan semakin dekat dengan api saat itulah Sang Maha Kasih datang untuk sang kekasih.

“Hai Api, dinginlah dan selamatkan Ibrahim” (Q.S. Al-anbiya: 69)

Sekarang mari kita bercermin.

“Bagaimana akar menopang pokok kayu
Dan pokok kayu merangkul ranting
Ranting memegangi dedaun
Dan dedaun melapangkan diri untuk ditinggali serat.”

Akhir-akhir ini kebencian melaju lebih cepat dari kepedulian tak jarang orang-orang menginjak kepala orang lain untuk menggapai tujuannya melemahkan orang lain agar terlihat kuat menjegal kaki orang lain agar menjadi satu satunya orang yang berjalan, seperti inikah manusia?

Dari arah mana kita akan memulai kepedulian? dari diri kita sendiri! bukan tentang siapa kita atau seberapa besar kebaikan yang kita lakukan tapi bagimana kita melakukannya lagi, lagi dan lagi. “Kita tak mampu melakukan hal-hal yang besar, hanya hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”—Donna Wick. Dan ingatlah di setiap kepedulian yang kita lakukan akan selalu ada gagak-gagak seperti dalam kisah di atas. Kita hanya perlu melakukan apa yang di lakukan Bilis (semut) yang Bellâs (pengasih), terus saja berjalan dan tak usah memaksa agar mereka mengerti apalagi membenci.

Kepedulian itu erat sekali kaitannya dengan cinta dan cinta erat sekali kaitannya dengan Tuhan, harusnya manusia yang bertuhan memiliki kepedulian.

Sekali lagi, mulai dari diri sendiri. (N. Djenar)

Buku Cak Nun