Bersalaman Manunggal dalam Kemesraan

Bila kita layangkan pandang sekilas di berbagai lokasi Sinau Bareng dan Majelis Maiyah lainnya maka kita akan melihat berbagai penanda golongan. Tapi semua melebur dalam cinta. Misalnya yang perempuan, ada yang bercadar, ada yang mengenakan jilbab, ada juga yang tidak. Yang laki-laki pun juga beragam background dan identitasnya. Tapi intinya berbagai jenis manusia manunggal dalam kemesraan.

Sangat terasalah cinta itu menyatu lebur manakala selesai acara Mbah Nun menyediakan waktu untuk melayani permintaan bersalaman dari jamaah. Baru saja pada awal Sinau Bareng malam ini Mbah Nun sempat sedikit bercanda soal berbagai macam “aroma” tangan yang datang. Tapi kemudian candaan itu dilanjutkan dengan “tapi semua itu adalah aroma surgawi”. Nuansa surga, kemesraan yang tulus. Penghormatan dan kerinduan bukan pengkultusan apalagi pemitosan sosok. Rasa ingin dekat dari berbagai macam jenis, golongan, dan aroma manusia itu tetap dilayani dengan tulus oleh Mbah Nun. Namun Mbah Nun malam ini juga sempat menekankan “Anda tidak boleh hanya berkumpul karena saya. Anda harus menemukan alasan wa’tashimu bihablillah anda sendiri”.

Buku Cak Nun