Berproses Bersama Menata Chaos dan Order dalam Simpul Maiyah

Catatan Forum Saling Sambang Simpul Sub-Region 5, Purwokerto 13 Januari 2019

Kegiatan Saling Sambang Simpul putaran pertama di wilayah Sub-Region 5 Juguran Syafaat ketempatan menjadi tuan rumah di Purwokerto. Agenda tersebut merupakan salah satu dari hasil diskusi kelompok pada saat Silatnas Surabaya di akhir tahun lalu. 

Sejak petang hari di Ahad malam, 13 Januari 2019 Penggiat dari empat Simpul Maiyah berkumpul di Suluk Resto, Purwokerto. Hadir malam hari itu yakni dari Simpul Likuran Paseduluran Cilacap, Pasemuan Bebrayan Kebumen, Galuh Kinasih Bumiayu dan Juguran Syafaat.

Kukuh selaku moderator memulai dengan memandu pembacaan Suratul-Fatihah. Seraya mengharap segala kemurahan Gusti Allah agar dilancarkan pertemuan kala itu. Forum yang berlangsung santai dan gayeng itu kemudian dilanjutkan dengan perkenalan singkat dari seluruh yang hadir malam hari itu.

Karyanto dari Juguran Syafaat me-refresh kembali salah satu bahasan dari Silatnas Surabaya yakni mengenai maksud dari dibentuknya pembagian Sub-Region adalah agar setiap Simpul Maiyah yang berdekatan bisa saling silaturrahmi, saling sambang, merajut kebersamaan dengan nilai-nilai Maiyah.

Kalau ada Simpul yang menghadapi kendala, seperti malam hari itu Naji dari Galuh Kinasih menyampaikan keluh kesahnya mengolah poster. Dengan adanya persambungan yang baik di dalam Sub-Region, maka akan dapat saling membantu kendala pembuatan. Sehingga semuanya akan bersama-sama tumbuh menjadi lebih baik.

Saya kemudian turut menyampaikan hasil-hasil kesepakatan yang lahir pada Silatnas Penggiat Maiyah 2018. Saya juga menambahkan bahwa dengan adanya hubungan yang baik di dalam Sub-Region, selain dapat memperbaiki kekurangan satu sama lain, juga untuk dapat memetakan potensi yang ada di wilayah masing-masing dengan lebih baik.

Hilmy dari Juguran Syafaat kemudian menyambung respons agar malam hari itu dimanfaatkan untuk saling sharing potensi dari masing-masing simpul. Misalnya pengalaman Juguran Syafaat dalam olah forum, baik forum rutinan maupun olah berbagai tema workshop yang pernah diadakan.

Andika dari Pasemuan Bebrayan menyampaikan tantangan yang harus dihadapai oleh teman-teman di Cilacap, dari mulai luasan wilayah yang membentang dari Majenang sampai Kroya sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga intensitas berkumpul.

Lalu, Darwis dari Kebumen juga sharing bagaimana keistiqomahan teman-teman di Likuran Paseduluran diperjumpakan dengan ndilalah demi ndilalah, sehingga walaupun pada tahun lalu stamina Penggiat naik turun, tetapi tetap bertahan.

Mas Agus Sukoco juga ikut hadir pada malam hari itu. Ia menarik lebih jauh kesejarahan Penggiat Maiyah. Bahwa berpikir menjadi Penggiat Maiyah jangan berhenti pada rasa terwajibkan oleh adanya rutinan bulanan, poster, mukadimah dan reportase. Tetapi kalau ditarik lagi ke belakang, kewajiban-kewajiban itu muncul sebab kegembiraan karena kita semua telah berkomitmen untuk menghimpun diri dalam ‘keluarga’ dari sesama pejalan Maiyah dari daerah asal yang sama.

Ruh ‘keluarga’ itulah yang harus dijaga oleh tiap Simpul. Mas Agus mengurai hal tersebut sebab merespons yang disampaikan Slamet dari Pasemuan Bebrayan yang merasa betapa beratnya ‘memanggul’ Maiyah. Kalau yang dipanggul kewajiban terasa berat, tetapi kalau yang dipanggul kekeluargaan, mestinya kebahagiaan yang dirasa.

Di tengah-tengah forum kemudian Mas Sabrang yang baru tiba dari Yogyakarta juga turut hadir membersamai. Saya memberikan pengantar dengan merangkum perjalanan diskusi sedari awal petang tadi, di antaranya adalah bagaimana Simpul-Simpul sedang bersemangat untuk menemukan kiblat atau model yang paling sesuai untuk diinspirasi.

Mas Sabrang memberikan apresiasi kepada setiap hasil apapun yang telah dicapai oleh masing-masing Simpul. Apresiasi itu bukan berupa motivasi kosong, melainkan Penggiat diajak untuk memahami apa-apa yang sudah berhasil tertata dari apa-apa yang sebelumnya belum tertata. Kalau dulu sesuatu masih berupa chaos kemudian dengan adanya Simpul kemudian menjadi tertata, menjadi sebuah order maka berarti sudah patut diapresiasi atas apa yang sudah Simpul kerjakan.

Maka, masing-masing Simpul pasti berbeda pencapaiannya. Jadi memang tidak perlu diperbandingkan. Dengan pendekatan chaos dan order ini pula Mas Sabrang mengajak agar kita semua tidak terjebak pada obsesi perjuangan yang berorientasi heroisme semu, agar terlihat wah dan terlihat hebat. Melainkan diidentifikasi betul, chaos apa yang akan ditata menjadi order. Ini sekaligus merespons apa yang disampaikan Darwis mengenai keraguannya atas inisiatif-inisiatif program yang teman-teman buat di Likuran Paseduluran, apakah masih sejalan dengan nilai Maiyah atau tidak, bagaimana kita dapat mengidentifikasi hal tersebut.

Mas Rizky juga menambahkan respons bahwa fondasi nilai di Maiyah adalah kebersamaan. Membuat inisiatif apapun kalau masih terjaga sambung komunikasi dan koordinasinya, maka berarti kita masih bersama-sama menjaga diri di dalam nilai-nilai Maiyah.

Hal-hal yang didiskusikan malam hari itu menjadi panduan bagi Simpul-Simpul untuk menyusun agenda di 2019 ke depan. Afgan dari Galuh Kinasih menyampaikan agar kegiatan Saling Sambang Simpul ini dirawat betul-betul karena akan sangat bermanfaat kedepannya.

Mas Sabrang juga merespons keluhan dari Andika mengenai ketiadaan figur pancer di dalam Simpul yang kerap membuat diskusi menjadi merumit dan berakhir dengan buntu. Mas Sabrang memberikan arahan agar tidak mengeluhkan hal itu, tetapi yang harus dilakukan adalah bagaimana mengolah secara matang perencanaan tema sebelum diskusi. Ini adalah pembelajaran tersendiri yang menarik dalam hal formulasi forum.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 dinihari. Ada dua bahasan yang menurut saya penting dari Mas Sabrang. Ketika Andika bertanya ada atau tidak ekspektasi tertentu dari Simbah terhadap Jamaah Maiyah? Mas Sabrang menyampaikan bahwa Simbah tidak memiliki ekspektasi apapun. Sebab Simbah tidak ingin memanfaatkan Jamaah Maiyah, melainkan yang Simbah inginkan adalah Jamaah Maiyah tumbuh bersama-sama.

Kemudian ketika Andika menyinggung mengenai gagasan kartel ekonomi di dalam Maiyah kenapa hal itu tidak dilaksanakan, Mas Sabrang menyampaikan untuk kita bersama-sama menghargai proses. Kemarin kita menata chaos dan order di internal Simpul. Setelah itu berjalan, kemudian ada yang harus ditata lagi yakni potensi chaos antar Simpul. Prosesnya terus naik satu anak tangga demi satu anak tangga, terus begitu.

Kalau tiba-tiba melompat pada mekanisme ekonomi, belum tentu yang kita hasilkan seperti yang kita inginkan. Sebab kita masih menggunakan tatanan ekonomi yang lama yang sudah ada. Yang sekarang merupakan chaos yang justru semestinya kita benahi malah kita ikuti. Sudah banyak pengalaman kerengan bab ekonomi ini kita jumpai.

Demikianlah pertemuan yang santai dan gayeng tetapi syarat akan muatan makna dan pemahaman yang baru. Tugas selanjutnya adalah menerapkan panduan-panduan tersebut dalam tindakan-tindakan di lapangan. Acara kemudian ditutup oleh Mas Rizky. Dilanjutkan dengan bersalam-salaman, ngobrol santai dan berfoto bebas. (Faturrakhman)

Buku Cak Nun