Berpikir Panjang

Dalam ketergesa-gesaan tidak ada waktu untuk berpikir. Apalagi berpikir panjang. Ketika mendengar berita, tidak ada waktu untuk tabayyun, guna memastikan benar tidaknya berita itu. Ketika membaca pendapat seseorang, tidak merasa perlu membacanya secara utuh, cukup dengan mengambil potongan atau buntutnya saja, yang berakibat kesalahpahaman.

Ketika menerima postingan berita, opini, gambar, video, tanpa pikir panjang langsung copy paste dan dibagi ke berbagai group WhatsApp, tanpa berpikir apakah itu benar atau dusta, asli atau rekayasa, berguna atau berbahaya, merukunkan atau memecah belah.

Bahkan dalam perkara yang sangat penting, seperti memilih calon presiden–sekedar contoh–banyak orang yang mengambil keputusan tanpa melakukan tafakkur. Padahal akibat dari salah pilih bisa membawa kehancuran bagi negeri ini.

Buku Cak Nun