Bermartabat Langsung Pada Allah dan Jadi Wali Nikah Peradaban

“Visi Banjarnegara ini adalah bermartabat dan sejahtera. Berarti harus belajar. Kudu sinau.” Menarik kalau kita coba dalami pesan Mbah Nun yang diucapkan pada peringatan ulang tahun Banjarnegara yang ke-449 di bulan Agustus 2019 M ini. Mbah Nun sangat mengapresiasi bahwa yang utama memang adalah martabat baru kemudian kesejahteraan. Dan untuk mengakkan martabat, kita perlu belajar lebih banyak? Lho apa hubungannya? Mungkin begini, karena dengan lebih banyak mempelajari segala sesuatu kita bisa mengukur kadar diri, menggali potensi fadhilah masing-masing hingga kemudian jadi lebih tangguh di hadapan tantangan-tantangan dunia.

Dan belajar atau Sinau akan lebih efektif dengan kebersamaan dan kegembiraan. Ilmu tidak dituturkan secara dogmatis dan doktriner. Tapi dielaborasi bersama, didiskusikan, sesekali diperdebatkan. Kadang ada anak yang ngeyelan, kadang ada yang suka berceloteh sekenanya dan banyak sekali jenis manusia. Memang Sinau Bareng bukanlah sangkar penjinakan manusia. Dia tempat segala potensi bisa diekspresikan dan ditempa. Kebersamaan ini juga punya kaitan dengan martabat.

Saat kita bebarengan, bersama, sesrawung, kita akan melihat bahwa tipe manusia sangat beragam. Pikiran manusia tidak bisa ditunggalversikan. Maka demikian kita akan presisi dalam membangun harga diri, martabat. Jadi dengan ukuran yang pas, bukan sekadar merasa nyeleneh tapi tak teruji. Bukan sekadar anti-mainstrean asal-asalan. Dan kita perlu punya kemampuan menikahkan perbedaan-perbedaaan.

Martabat ini kemudian ada urusannya dengan kita tidak mudah terbawa jadi massa. Baik massa ormas, parpol, agamawan, suporter atau apapun yang berpotensi membangun kekuatan dengan berdasarkan jumlah ummatan followers. Mbah Nun kembali mengingatkan bahwa selama ini, pola pikir kita masih pola pikir bermadzhab-madzhab fakultatif namun belum pernah mengalir menjadi universalitas Islam. Padahal menurut Mbah Nun, sejatinya semua madzhab dan aliran dalam beragama diniatkan pada awalnya adalah untuk menjadi jalan alternatif satu sama lain. Namun sepeninggal para imam madzhab yang berhati mulia, followers mereka di generasi setelahnya terlanjur nyaman pada lingkaran masing-masing sehingga yang tampak adalah saling mengunggulkan diri sambil menghinakan yang lain. “Kalau pengajian, itu harusnya pengajian Islamiyah yang terjadi selama ini kebanyakan pengajian madzhabiyah”, kata Mbah Nun dan kemudian dilanjutkan dengan mempresisikan apa yang beliau maksud dengan “pengajian islamiyah” adalah di mana dalam acara majelis-majelis keilmuan sang pembabar materi punya keluasan untuk memberi bagaimana dasar pikir, metodologi hingga lelaku di kelompok maupun madzhab selainnya. Kemudian, pilihan akan melaksanakan seperti apa, itu diserahkan pada kedaulatan pikir dan jangkauan pemahaman masing-masing yang hadir.

Namun selama ini yang kita lihat, sangat jarang terjadi seperti ini. Kalaupun ada, tetap dalam rangka ingin mengunggulkan golongan sendiri dari golongan lain. Sebenarnya ini juga adalah persoalan martabat. Sebab ukurannya selalu adalah banyak-banyakan massa, di satu sisi banyak orang yang tidak percaya bahwa ummat adalah manusia yang berpikir. Di satu sisi, banyak yang rela jadi massa ala suporter, asal dapat ngalap barokah sosial. Ini bentuk transaksi sebenarnya, transaksi sosial yang sedikit lebih halus daripada transaksi ekonomi. Keuntungan sosial bisa saja tidak tampak menguntungkan secara ekonomi. Namun bisa malih rupa, keuntungan dalam bentuk samar misalnya dapat pengakuan sebagai bagian dari kelompok, dipandang sebagai murid dari jalur sanad ilmu terpercaya, merasa terterima sebagai murid orang agamawan keramat dan banyak lagi. Ini semua adalah juga persoalan martabat.  Kurang martabat membuat kita merasa butuh massa followers. Kurang martabat pula membuat kita mudah militan pada kelompok tanpa akal panjang. Lack of dignity dalam atmosfer sosial dan sejarah ini yang coba kita cicil jangkepi kembali dalam berbagai majelis Sinau Bareng. Apalagi pada malam yang sangat bermartabat di Banjarnegara ini.

Saking seriusnya soal martabat ini, Mbah Nun memberi penekanan bahwa “akan lebih mudah mendekat pada Allah apabila anda bermartabat”. Terlalu banyak struktur besar maupun kecil, kasar maupun halus yang menggerus martabat kita sebagai manusia. Pada awalnya, nasionalisme adalah urusan martabat juga di hadapan kolonialisme. Namun ketika dia dibekukan jadi struktur negara, dia juga bisa menjadi ancaman pada martabat individu. Mbah Nun memberikan kejelasan misalnya, bahwa “Indonesia ada karena ada kita semua” rasanya ini adalah usaha penyelamatan harkat dan martabat yang lama tergerus dengan jargon-jargon ultra-nasionalis mendekati fasis divmana kita disuruh menyingkirkan agama, kepercayaan, lokalitas demi mati-matiannya nasionalisme harga mati. Nasionalisme dan martabat individu memang sudah lama bercerai, tapi di Sinau Bareng kita nikahkan kembali.

Peradaban pernikahan. Mbah Nun juga sempat uraikan mengenai peradaban pernikahan ini, yakni kemampuan menjadi wali nikah bagi segala yang bertentangan dan berlawanan. Kembali bermartabat, jadi wali nikah dalam peradaban. Jadi wali-wali Allah pada mempelai zaman dan kebudayaan. Dan wali Allah itu, orang yang langsung berhubungan kepada Allah dengan kadar waspada taqwa serta tiada kekhawatiran dan kecemasan dalam dirinya. Martabat semacam itu yang kita bangun di Sinau Bareng. (MZ Fadil)

Buku dan Merchandise