Berkelok-Kelok Dalam Teknologi Shirothol Mustaqim

Liputan singkat Sarasehan Dies Natalis ke-31 PENS, Surabaya 30 Agustus 2019

“Satu persitiwa harus Anda temukan kemungkinan-kemungkinan sudut pandang yang membuat Anda makin bersyukur dan syukur itu akan membukakan kasyful hijab.”

Mbah Nun mengatakan hal demikian ini tidak dalam sebuah pertemuan kebatinan atau lingkaran tarekat. Mbah Nun membawa bahasan yang sangat tasawuf ini justru dalam Sarasehan di Auditorium Pasca Sarjana Terapan Politeknik Elektronika Negri Surabaya (PENS). Acara ini adalah salah satu rangkaian dalam peringatan Dies Natalis ke-31 PENS dengan mengangkat tema “Peduli Mutu Memacu Inovasi”. Bersama Mbah Nun juga ada Prof. Dr. Mohammad Nuh dan direktur PENS sendiri Dr. Zainal Arief bertindak sebagai moderator.

Sebelum acara dimulai, ruangan auditorium yang megah ini sempat juga dihiasi dengan nomor-nomor KiaiKanjeng, tampak memang ada rindu bersemayam. Speaker ruangan memutar nomor seperti Duh Gusti dan Bangbang Wetan.

Dr. Zainal Arief memberikan pengantar kemudian lanjut berganti peran sebagai moderator. Setelahnya Prof. Mohammad Nuh membabarkan penjelasan yang ilmiah, dengan presentasi melalui power point di layar. Bagaimanapun kepekaan kultural Pak Mohammad Nuh tetap tampak, memungkasi pemaparan beliau dengan kalimat yang menyentuh, “Perguruan tinggi yang baik bukanlah perguruan tinggi yang banyak mobil berjejer di parkirannya. Perguruan tinggi yang baik adalah yang mau memberikan karpet merah bagi anak-anak yang tidak mampu.”

Mbah Nun dipersilakan setelahnya dan langsung membawakan suasana yang cair, mengalir dengan ulang-alik pikiran yang lincah, rasional sampai kepekaan batiniah. Mbah Nun misalnya memaknai tema acara dengan jernih soal “Mutu” diantarkan menuju bahasan mengenai ketepatan mengenal kualitas diri hingga kekhusyukan “Urip itu ndak usah cemas. Asal Anda mengetahui siapa diri Anda, mutu Anda di mana.” Sedangkan soal “inovasi” oleh Mbah Nun diolah menjadi bahasan mengenai bid’ah.

“Inovasi itu bahasa Arabnya adalah bid’ah.” Dalam hidup kita tidak mungkin tidak berbid’ah. Tidak mungkin kita tidak berijtihad, menemukan hal baru, mengolah, dan mengelola. Berinovasi, menemukan presisi persoalan, mengerti aliran-aliran sungai kenyataan dan mengelolanya. Ini diibaratkan oleh Mbah Nun dengan gambaran surga yang konon banyak sungai mengalir di dalamnya dan sungguh bid’ah pemaknaan Mbah Nun bahwa ini bisa saja maksudnya adalah surga diperuntukkan bagi orang yang mampu menampung segala aliran dalam hidup. “Orang hidup ini harus responsif tiap detik. Mampu mengelola dan mengatur aliran tajri min tahtihal anhar karena kita ini khaalidina fiha abada.”

Seperti juga bagaimana Mbah Nun memberi pemaknaan mengenai syariat — thariqat — ma’rifat — hakikat sebagai satu kesatuan kesadaran dan metode menjalani kehidupan agar lebih asyik dan presisi dalam kelokan-kelokan shirothol mustaqim.

Koq shirotol mustaqim berkelok-kelok? Karena pemaknaan yang kita babar ini, mustaqim artinya orang yang menegakkan. Dalam menegakkan, harus ada kelokan-kelokan, ada keliaran imajinasi dan kenakalan dalam artian tertentu. Ini beda dengan pengartian bahwa shirotol mustaqim adalah jalan yang lurus. Semua boleh memaknai dan semua sah, semua adalah aliran dan coba dimuarakan aliran-aliran itu.

Peserta sarasehan yang siang ini memang dibatasi untuk civitas PENS tampak sekali mendapatkan banyak perspektif baru juga dengan tawa-tawa yang membahagiakan. Bahwa dunia ini bulat dan semua tema bisa saling bersambung saling berjodoh-jodohan. “Hidup ini asyik sebenarnya hanya kadang-kadang kita salah cara melihatnya.”

Acara disudahi pada pukul 16.30 WIB. Malam nanti Sinau Bareng digelar di kampus ini juga. Kita perlu bersiap untuk perjamuan cinta yang kudus di Jum’at malam ini.

Buku dan Merchandise