Berjuang Tak Secengeng Itu

Catatan Silaturoso Sub-Region 4 di Kota Pemalang

Hari Selasa di Pemalang, saat itu pada 5 februari 2019 sepertinya menjadi sebuah cerita yang mengesankan bagi para Pegiat Maiyah di wilayah Pantura, yakni kami yang terkumpul di dalam Sub-Region 4 Simpul Maiyah. Ada nuansa romantisme tersendiri yang terasa kala itu, mulai dari sambutan arsitektur bangunan tua, sapaan cuaca mendung disertai gerimis nan manja serta dari senyum ramah masyarakat di sana. Ponpes Salafiyah Kauman Pemalang menjadi saksi bagi sebuah dimensi baru perjumpaan silaturoso dulur-dulur penggiat dari Maiyah Malam Seninan Kota Pemalang, Tadarus Limalasan Batang, Suluk Pesisiran Pekalongan, Maiyah Kanoman Pemalang Selatan serta Poci Maiyah Tegal.

Seolah mungkin telah termaktub di dalam server agung lauh mahfudz sana, bahwa majma’ al-bahrain dalam kisah-kisah Khidir menjadi isyarah. Ia mengabarkan fakta kepada manusia bahwa pertemuan dua gelombang akan terus terjadi bagi mereka yang jiwanya telah diperjalankan dan dipertemukan oleh Tuhan. Dua gelombang: aql dan rasa, gerak dan wacana, budaya dan peradaban, sesepuh dan pemuda, bahkan antara masa lalu dan masa kini. Semoga Allah perkenankan generasi-generasi mutahabbina fillah yang berkumpul hari itu dihadiahi dengan jodohnya sebagai keniscayaan pertemuan dua gelombang untuk menerobos cakrawala masa depan.

Ajaib sekaligus mesra, titik temu Silaturoso Sub Region 4–entah bagaimana–kemudian diadakan di Kota Pemalang. Kota tempat tinggalnya kakang mas ter-mbarep dari lima simpul yang hadir. Kami semua sangat berterima kasih kepada Gus Hamdan dan Mas Pujianto yang rela menjadi tuan rumah berkumpulnya para sedulur-sedulur ini. Syukur atas segala ramah-tamahnya, dan terutama syukur telah memberikan inspirasi serta semangat baru untuk terus menebar kebaikan kepada siapa saja.

Mas Muhib dari Suluk Pesisiran menceritakan bahwa Malam Senenan Pemalang sudah ada sejak 2006. “Saat itu saya masih SMA dan masih suka tawuran”, ujarnya. Kala itu Maiyah Malam Seninan telah aktif mengayomi masyarakat dengan kegiatan ngaji sekaligus bagi-bagi nasi bungkus kepada masyarakat sekitar.

Secara formal, acara silaturoso ini merupakan salah satu hasil dari mufakat Silatnas Penggiat Maiyah di Surabaya pada Desember 2018 lalu. Acara dimulai Pukul 09.00 hingga Pukul 16.00 WIP (Waktu Indonesia Bagian Pemalang). Kami semua tidak ingin menjadikan kumpulan ini hanya sebagai ajang formalitas atau seremonial yang usai tanpa atsar. Semangat baru yang lahir menjadi harapan baru ditengah absurdnya keadaan zaman harus bisa Kami jadikan modal.

Diawali dengan pembukaan, Gus Hamdan selaku pengasuh Pondok dan Pengasuh Maiyah Malam Seniman Pemalang memberi sambutan, Beliau mengemukakan bahwa, “Peran maiyah di tengah-tengah masyarakat luas harus menjadi penengah dan tidak bisa berpihak antara satu dengan lainnya. Dalam kegiatan silaturoso ini kami sangat mengapresiasi besar, semoga kegiatan seperti ini tidak hanya satu kali ini saja melainkan terus secara intens dijalankan.”

Pernyataan itu menjadi pengingat tersendiri bagi para pegiat atas dinamika tumbuh-kembang lingkaran-lingkaran Maiyah di banyak daerah. Acap kali muncul perbedaan-perbedaan atas tafsirannya tentang apa itu Maiyah, muncul kecanggungan atas pemaknaan dan implementasi antara posisi Penggiat dan jama’ah. Bahkan muncul gesekan-gesekan di mana satu orang penuh semangat menggebu-gebu tetapi hanya asal berlari tanpa arah, sedangkan lainnya menginginkan pelan tapi pasti padahal dibelakang sudah dikejar-kejar babi.

Kok babi? Ya, mungkin karena tahun ini juga dikenal demikian oleh sauadara-saudara kita yang hari itu juga sedang merayakan hari rayanya. Kang Rifki dari Maiyah Kanoman mengingatkan salah satu wejangan Simbah bahwa hewan telah lebih dahulu diciptakan sebelum manusia, termasuk babi. Jadi, kalau ketemu babi di hutan kita cukup persilahkan saja dengan santun sambil berkata, “Monggo, Kang”, candanya memecah suasana.

Permasalah-permasalahan Simpul menjadi tadabbur tersendiri yang memang nikmat untuk dirasani. Mas Poy dari Suluk Pesisiran juga menyampaikan bahwa itu semua sangat lumrah dan wajar. Insya Allah sambil terus sinau dan seiring mengalirnya waktu masing-masing Simpul akan menemukan solusinya tersendiri. Kang Lu’ay juga turut merespon dengan perumpamaan-perumpamaan absurdnya, dikatakan, “Banyak orang telah sepakat bahwa Maiyah adalah oase di tengah gersangnya zaman. Namun, bagaimana menikmati oase tersebut jelas akan sangat berbeda-beda karena keluasan pengalaman dan khasanah kebijaksanaan sangat berperan penting disitu. Ada yang penuh syukur tawadlu’ mengambil segelas atau sebotol untuk diteguk pelan-pelan sambil mengucap tahmid dan tasbih, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau juga malah ada yang langsung nyemplung berenang di tengah oase sambil ‘haha-hihi’. Atau malah dipojokan sana bisa juga ada yang sambil umbah-umbah dengan wajah bahagia menyapa si Tawadlu’ dengan sapaan ‘SEHAAAAT LUUUUR?’”

Ada beberapa pokok pikiran yang dihasilkan dari pertemuan riang nan hangat hari itu. Mas Hamam membacakannya di akhir acara. Pokok pikiran tersebut, yakni: Pertama, Fastabiqul Khoirot yakni dengan saling menginspirasi dalam kebaikan khususnya upaya dalam pengembangan tradisi dokumentasi dan arsip di masing-masing simpul. Kedua, Tawashou bis Shobr dalam bentuk menjaga kepedulian/nasihat tentang kesabaran diantaranya melalui kegiatan Silaturroso tetap berjalan dan bergilir.

Ketiga, Ibda binnafsiy yakni setiap Penggiat diupayakan siap dan berkenan menjadi narasumber di simpul lainnya. Dan keempat, Ta’awun dalam bentuk mengadakan berbagai jenis workshop.

Dengan berbagai macam cerita dan canda, sampailah di penghujung waktu. Tidak ada pesta yang tak usai. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan. Sebagaimana Rummi menyatakan bahwa cinta mampu menyatukan sesuatu yang terpisah, dan karena cinta pula sesuatu yang menyatu rela berpisah untuk menjaga keseimbangan dan menemukan keutuhannya, seperti ibu dengan anak yang dikandungnya, atau matahari dengan planet-planet yang mengitarinya.

Pesan bijak Mas Eko dari Suluk Pesisiran yang diulang beberapa kali sepanjang acara patut untuk kami pegang teguh, yakni bahwa untuk tetap menjaga kekerabatan ini hendaknya terus menjaga satu sama lain untuk terus saling sambung do’a. Mas Eko menyampaikan bahwa jarak mungkin bisa jauh terpaut tapi semua hidup sejatinya ada di dalam aliran waktu yang sama, di dalam lintas zaman yang sama pula.

Kang Lu’ay memuncaki dengan mengajak semua yang hadir silaturoso kepada Kanjeng Rosul. Dilantunkanlah Sholawat Alfu Salam sebagaimana pada saat Simbah menghadiahkan dengan kedalaman batin Beliau kepada Mbah Kakung Mustofa Bisri di Milad-nya tempo lalu.

Petikan sambutan penutup dari Gus Hamdan ini kemudian menjadi sangu untuk masing-masing pulang ke kampung halamannya, “Kita terus tumbuh, toriqoh kita adalah istiqomah, semua upaya ini tidak lain adalah perwujudan khoirunnas ‘anfauhum linnas. Lakukan yang terbaik untuk diri kita, sehingga kita juga diizinkan oleh Allah untuk semoga mampu bersedakah lebih banyak kepada masyarakat. Adapun tentang segala persoalan dan permasalahan yang ada, anggaplah sebagai dinamika, anggaplah sebagai urun secuil kita untuk layak diakui sebagai umat Kanjeng Nabi, tak perlu cemas dan ragu, berjuang tidak secengeng itu.”

Usai Gus Hamdan memimpin doa penutup, cindera mata dari Maiyah Malam Seninan Pemalang kepada perwakilan masing-masing simpul kemudian dihadiahkan. Sungguh indahnya kebersamaan begitu terasa. Di antara peserta ada yang pamit pulang, tetapi beberapa nampak masih betah ingin bertahan. Sedulur Maiyah Malam Seninan sigap membereskan tempat yang telah digunakan.

Ternyata masih ada kejutan ketika dikira sudah tidak ada lagi bahasan, seluruh Penggiat diajak oleh Gus Hamdan untuk menyalami Ummi beliau di ndalem-nya. Semua pegiat turun dari aula lantai dua menuju ndalem. Terlihat Ummi duduk di kursi roda dengan sorot mata teduh dan senyum bersahaja.

Majma al-bahrain mencapai puncaknya, tidak hanya sekedar pemuda dengan tetua, ini lebih dari itu, ini tentang keterhubungan dan ketersambungan antara masa silam dengan masa depan yang dirajut oleh masa kini. Ini tentang dua gelombang dari seluruh hilir menuju samudera. Dengan lamat-lamat suara segar Ummi dengan yuswa 73 tahun tersebut terdengar ketika kami bersalaman.“Semoga Allah memberkahi umur kalian”, ucap Beliau. [] (Muh. Fathul Bari Lu’ay/Hamam)

Buku Cak Nun