Berita Baik Maiyah dan Rakyat Baik-Baik Saja

Silaturahmi dengan para wartawan media massa, 25 April 2019

“Saya minta maaf kalau jawaban-jawaban saya tidak bisa anda muat, karena media memang butuh pertengkaran kan?” kata-kata Mbah Nun ini diucapkan benar-benar di hadapan para wartawan dari berbagai media massa yang berkumpul di Pendopo Rumah Maiyah menjelang siang. Acara dimulakan pukul 11.00 WIB dan telah rampung  secara cespleng sebelum jam dinding menunjukkan pukul 12.30 WIB. Kalimat itu tidak membuat ketersinggungan, para wartawan justu tertawa mendengarnya. Tampaknya hari ini sedulur-sedulur wartawan mendapat kesempatan menimba ilmu jurnalistik yang baik dari Mbah Nun.

Memang pertanyaan yang diajukan oleh kawan-kawan wartawan kebanyakan, kalau bukan dibilang semua, lebih mengarah pada atmosfer Indonesia pasca Pilpres 2019. Laiknya dan lumrahnya wartawan, beberapa pertanyaan (baiklah, semuanya) terdengar mengandung “giringan” agar Mbah Nun minimal memberi pernyataan-pernyataan tentang situasi politik. Kalau ada kutipan yang bisa diambil untuk menegaskan posisi keberpihakan pada satu kubu, wah itu jelas akan jadi berita. Tapi tentu saja tidak ada.

Mbah Nun tidak terbawa pada arah giringan tersebut, pertanyaan mengenai dugaan kecurangan, situasi perpecahan, KPU yang selalu diserang, keributan, perlunya rekonsiliasi dan lain sebagainya oleh Mbah Nun diambil intisarinya. Sehingga, bila disebut pernyataan juga bisa namun jelas tidak bisa dibuat untuk memperkeruh pertengakaran demi pertengakaran. Jelasnya, Mbah Nun mencontohkan bagaimana agar kita tetap merdeka di hadapan pertanyaan. Maiyah punya banyak berita tapi anda tidak bisa mencari pertengakaran di Maiyah.

Kecuali kalau memang ada pihak yang terbiasa mengutip dengan kesadaran “sop buntut dengan kolestrol jahat dan lemak jenuh bertumpuk-tumpuk” (efeknya asam urat dan stroke), mungkin beberapa kalimat Mbah Nun bisa dimuat untuk clickbait atau demi judul fantastis. Misalnya saja Mbah Nun katakan, “Rakyat tidak butuh Pancasila kok.” Kalimat ini jelas ada terusannya. Bahwa rakyat tidak perlu (diajari) Pancasila karena Pancasila lahir itu digali dari rakyat sendiri. Justru penekanan Mbah Nun adalah, “Para elite yang perlu dikursus Pancasila.” Mbah Nun mengajak semua pihak agar mau berguru pada rakyat. Elite, jajaran birokrasi, menteri, presiden, kelas menengah bahkan media massa. “Kalau anda memang media massa, anda harus belajar massa itu apa. Sekarang kan bukan media massa, ini kan media karepmu,” ucapan Mbah Nun seperti ugly truth bagi kawan-kawan kita yang hadir pagi hari ini.

Karena memang tidak ada masalah apa-apa, kecuali para elite yang sedang bertengkar. Beberapa orang mungkin katut karena tidak punya kebiasaan mandiri dalam berpikir, dan majelis Maiyah di mana-mana membiasakan tradisi berpikir yang mandiri tersebut. Mbah Nun memberi pengayoman dan pengademan hati bahwa selama acara Maiyah dan Sinau Bareng yang berlangsung di ribuan tempat, berjam-jam sampai tengah malam hampir setiap hari tidak ditemukan ada potensi konflik yang besar. ”Mercon-mercon kecil mungkin ada tapi tidak akan sampai sampyuh”.

Rakyat baik-baik saja. Bahkan Mbah Nun bercerita pada Sinau Bareng yang baru saja berlangsung semalam (23/4) di Temanggung, orang-orang ditanya apakah mereka mau atau tidak jadi presiden dan semua (yang berarti ribuan orang) tidak ada yang mau. “Karena menurut mereka orang yang mau jadi presiden adalah orang yang sebodoh-bodohnya orang.” Dari situ kita bisa paham bahwa mayoritas masyarkat kita masih punya akal sehat tidak seperti dua kubu yang sedang memancing-mancing dan menggiring opini ke sana-kemari.  Yang perlu kita lakukan hanya satu menurut Mbah Nun, “Kita sebagai rakyat, kita menjamin bahwa kita tidak bentrok”.

Keresahan akan perdamaian masih menggelayut dan Mbah Nun kembali tegaskan bahwa “syarat untuk damai adalah keadilan”. Bahkan ketika ada pertanyaan mengenai kemungkinan people power, Mbah Nun secara gamblang berujar, “Saya setiap hari people power!” Tapi people power untuk apa? Maiyah itu people power, kalau secara terminologi kita tahu (dan ini juga dijelaskan oleh Mbah Nun) bahwa people power adalah tekanan dari masyarkat kelas bawah pada para elite. Maiyah dalam term ini adalah people power juga, sebuah desakan dan ajakan untuk selalu bergembira, menjaga kerukunan menjadi ruang bagi satu sama lain. Serevolusioner ini apa bukan berita?

Daripada disebut press-confrence, ini lebih tepat disebut silaturrahim bersama para wartawan karena kemudian yang terjadi adalah obrolan-obrolan yang asyik, tidak terlalu penuh unggah-ungguh formalitas dan jauh dari gegap gempita. Dalam nuansa kegembiraan semacam ini, kita bisa melontarkan masukan tanpa takut ada yang tersinggung karena memang semua sedang bergembira. Ketika pada penghujung acara, Mbah Nun balik bertanya apakah semua sudah cukup ditanyakan? Para sedulur wartawan kita malah beberapa menjawab sambil tertawa, “Cukuuuppp… Cukup bingung Cak”. Tampaknya Mbah Nun karena juga memang lama berada di media sebelum menceraikan diri dari dunia media massa, menangkap bahwa saudara-saudara kita akan agak bingung mencari kutipan untuk berita apalagi berita politik.

Dan sebuah pendidikan jurnalisme tiba disajikan, kalimat pada awal tulisan ini dilontarkan dalam peristiwa gembira ini. Dan dilanjutkan dengan ajakan untuk lincah mengambil angle, misal bahwa hal semacam ini juga adalah berita. “Berita semacam ini bisa laku kok Mas. Berita yang menggembirakan, mempersatukan.” Cerita mengenai berbagai forum dan majelis Maiyah di ribuan titik adalah contoh nyata yang diberikan Mbah Nun bahwa yang aslinya dirindukan oleh manusia adalah kebersamaan dan itu juga bisa jadi sajian utama media massa. Bukan melulu konflik tapi juga kegembiraan dan optimisme menatap masa depan.

“Saya selalu merindukan ada jurnalis-jurnalis yang bisa mengkritik jurnalis-jurnalis lama. Kalau anda sekadar ikut senior-senior anda ya ngapain, orang mereka juga sudah punya kontrak sendiri-sendiri kok.” Anehnya kalimat yang ini tiba-tiba membuat tawa para wartawan muda yang datang meledak tiba-tiba, beberapa mengangguk dengan sedikit miris. Mbah Nun sedang mendidik bagaimana agar jurnalis tidak lagi punya konsep delusi sebagai ningratnya informasi, karena jelas tidak apalagi sekarang ini.

Sejak tadi tanya jawab berlangsung, makan siang sudah tersaji. Kegembiraan bersama para wartawan berlanjut dengan menu sekadarnya, bukan menu istana politik yang lebelnya rekonsiliasi tapi bagi-bagi jatah. Sekadar sayur sop, ayam goreng, tahu-tempe dan sambal. Pulang dari sini semoga cakrawala baru jurnalistik telah membuka pada diri para sedulur kita yang datang. Tenang saja, selalu ada berita dan rakyat baik-baik saja. (MZ Fadil)

Buku dan Merchandise