Berdangdut Tak Harus Tawur

Catatan Sinau Bareng CNKK di Dalegan Panceng Gresik, 21 Juni 2019

Aroma khas pesisir pantai utara sudah mulai tercium tatkala memasuki gapura bertuliskan Desa Dalegan. Akses jalan menuju lokasi acara tak begitu lebar, bergelombang, dan naik turun. Sekian ratus meter sebelum lapangan yang dijadikan sebagai lokasi acara, tampak para panitia yang sedang mengatur lalu lintas dan berjaga di area parkiran.

Selepas Maghrib menjelang Isya’, jamaah mulai berduyun-duyun memadati Lapangan Persada, Dalegan, Panceng, Gresik. Sebagian langsung menuju depan panggung ngapling tempat guna mendapat view yang lebih jelas. Sebagian mampir Pojok Ilmu untuk nyangking kopi, rokok dan merchandise.

Di salah satu sudut lapangan, bapak-bapak anggota Kepolisian, Linmas dan Banser melakukan briefing. Bersiap menjalankan tugas mengawal berlangsungnya Sinau Bareng malam ini.

Lautan manusia tumpah ruah memenuhi lapangan. Ragam usianya khas Maiyah. Dari anak-anak, remaja, hingga orang tua terlihat hadir dengan antusias. Duduk beralaskan rumput lapangan, atau tikar plastik yang dibeli dari pedagang yang lalu lalang.

Kehangatan mereka disempurnakan dengan benderang langit yang sedang terang benderang berhias bulan bungkuk pasca purnama. Di backdrop panggung tertulis “Halal Bi Halal Sebagai Langkah Merawat Sendi-Sendi Persaudaraan”.

Mas Effendi, Sekretaris Panitia menuturkan bahwa Sinau Bareng malam ini benar-benar murni atas inisiatif pemuda atau karangtaruna Dalegan yang tergabung dalam “Garda”, Gerakan Anak Rantau Dalegan. Tiap dua tahun sekali, mereka rutin mengadakan gelaran di lapangan ini. Biasanya mereka menghadirkan orkes musik dangdut. Diakuinya, gelaran itu acap diwarnai aksi tawuran antar penonton, yang tentu saja akibatnya tidak mengundang simpati dari masyarakat umum.

Maka malam ini Garda menempuh jalan berbeda: Ngaji. Ia berharap para pemuda dan masyarakat sekitar Dalegan memperoleh ilmu, kegembiraan, dan mempererat tali paseduluran dengan hadirnya Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Lantunan shalawat menyambut kedatangan Mbah Nun. Jamaah khusyu’ tenggelam dalam balutan cinta kepada Kanjeng Nabi. Membuka forum sinau bareng, Mbah Nun mengajak para jamaah yang hadir untuk melatih ketajaman, keluasan, dan kejernihan berpikir dengan kesadaran pada diri sendiri. Seketika kemesraan dan kegembiraan mengalir begitu deras, menghangatkan dinginnya malam yang semakin meluas.

“Maiyahan ini melatih kepekaan untuk mendengarkan dan melihat apa yang diinginkan oleh Gusti Allah”. Mengingat pada salah satu ayat Al-Qur`an yang berbunyi, inni jaailun fil ardi khalifah. Bahwasanya, kita harus terus berjuang untuk menemukan potensi yang diberikan oleh Allah kepada kita, salah satunya dengan Maiyahan. Di sini kita terus berupaya untuk melatih keseimbangan berpikir dan kejernihan hati untuk bisa dengan mudah menerima petunjuk dari Allah.

Yang harus diutamakan dalam pengajian adalah kegembiraan, tetapi kegembiraan yang disenangi oleh Gusti Allah. Karena, dengan gembira, pori-pori tubuh semakin mudah menerima hidayah. Malam ini jamaah bergembira untuk mencari jati dirinya, mendalam dan meluas dalam paseduluran Al-Mutahabbina Fillah.

“Semua yang datang pada malam ini adalah pengawal pasukan Allah dalam ukhuwah Islamiyyah, Basyariah, dan Wathaniyah”. Kemudian, shalawat Pambuko yang dipandu oleh Mbah Nun, serta diiringi oleh KiaiKanjeng, menjadi pembuka yang selanjutnya disambung jamaah diajak untuk menyanyikan Ya Lal Wathon. Nomor Ya Lal Wathon dibawakan sebagai hasil penjajakan Mbah Nun kepada jamaah kira-kira lagu apa yang mereka inginkan.

Mbah Nun mengajak kepada seluruh jamaah yang hadir, tidak lupa beserta jajaran perangkat desa dan kecamatan untuk berdiskusi membahas beberapa hal yang perlu dibenahi, khususnya di wilayah ini, Desa Dalegan dan sekitarnya, agar kedepannya bisa semakin mempererat persaudaraan demi menjaga keutuhan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Mbah Nun memberi contoh, ada dua orang pengendara sepeda motor yang sedang bertabrakan di suatu pagi hari. Adanya tabrakan berarti terjadi persoalan. tetapi, kita perlu menganalisisnya. Beberapa hal yang perlu dipelajari untuk menemukan siapa yang salah sehingga terjadi tabrakan, apakah perusahan yang memproduksi sepeda motor sehingga kita bisa bilang kalau tak ada pabrik sepeda motor kan tidak akan ada tabrakan, sepeda motornya itu sendiri sehingga kita bisa mengatakan hal yang sama, jalan rayanya, atau pengendara sepeda itu yang tidak hati-hati atau tegen dalam berkendara.

Perlu belajar secara titis, akurat, dan utuh untuk mencari letak permasalahan. Jika dikaitkan dengan pergesekan yang pernah terjadi, misalnya dalam acara orkes atau musik dangdut, maka yang perlu dicari adalah; pertama, musik dangdutnya; kedua, penyanyinya; ketiga, penontonnya atau pihak yang sedang terlibat tawur.

Karena hidup harus seimbang, adakalanya diri dipacu bekerja hingga panas mendera, di sisi lain perlu juga pendinginan agar terjadi keseimbangan. Maka, sebelum diskusi berlanjut, Mbah Nun mengajak beberapa jamaah naik ke panggung untuk bernyanyi.

Musik bergenre dangdut terdengar begitu syahdu, nikmat, dan menambah kehangatan malam ini. Di sela-sela jeda, Mbah Nun juga mengajak jamaah untuk mengambil pembelajaran dari segala sisi, sudut, dan bidang tentang musik, secara luas. Tak masalah berjoget, asalkan menggembirakan dan tidak berujung pada perkelahian.

Dalam hidup ini, kita harus hidup dengan presisi, harus bisa memilah dan memilih antara kelima hukum fiqh (Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram). Lima hukum ini menjadi patokan untuk menjalani laku sehari-hari. Karena musik adalah budaya, dan tidak bisa serta merta masuk kategori pengklasifikasian dari lima hukum tersebut, maka, yang perlu dipelajari kembali adalah bagaimana cara kita mengelola musik tersebut. Apakah untuk kebaikan yang menggembirakan, atau keburukan yang berujung pada kemaksiatan. Karena kita semua dianugerahi akal dan hati, maka teliti sendiri. Dalam segala bidang di kehidupan ini, “Kabeh iku kudu dipikir rek”, pesan Mbah Nun.

Musik dangdut tidaklah haram, asal tidak membikin geram, terutama pada lingkungan sekitar. Maka, malam ini jamaah tenggelam dalam kegembiraan lewat musik dangdut yang menyehatkan. “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terkenal penggembira dan selalu pandai bersyukur,” tutur Mbah Nun, dan memang terbukti adanya, malam ini.

“Endi tawur e, kok gak tawur, jare orkes, kok gak onok tawur e?”, goda Mbah Nun setelah jamaah dimanjakan dengan alunan lagu Gelandangan, Laksmana Raja di Laut, dan Prau Layar. Pertanyaan retoris itu serasa menegaskan bahwa ekspresi kegembiraan secara massal tidaklah membahayakan, asal terukur dan tidak uncontrolled. Bagi panitia, rasa-rasanya ini merupakan tawaran pola pikir baru yang dekonstruktif, sekaligus titis dalam membaca ragam ungkapan budaya di sekitar musik dangdut.

Agar utuh dalam membaca semesta, Mbah Nun mengingatkan jamaah untuk menggunakan penglihatan secara jangkep. “Penglihatan itu terbagi menjadi penglihatan mata, hati, intuisi, dan makrifat”. Tunai dan tuntas rasanya rakaat pertama Sinau Bareng malam ini. Pondasi berpikir yang matang, bulat, dan presisi telah diwedarkan Mbah Nun. Semoga panitia, pemuda, dan segenap warga masyarakat Dalegan dan sekitarnya, awet kemesraannya. (Febrian Kisworo)

Lainnya