Maiyahan Mbah Nun dan KiaiKanjeng ke-4124

Belajar Tanpa Batas (Tentang) Nasionalisme

Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng, Ponpes Tebuireng Jombang, Jum’at, 1 November 2019

Gedung-gedung berdiri megah. Tampaknya beberapa adalah gedung perkuliahan dan sebagian lainnya adalah gedung asrama dilihat dari ragam jemuran yang bergelayutan di jendela-jendela gedung tersebut. Panggung untuk Sinau Bareng malam ini, Jum’at 1 November 2019 M tampak bersahaja di tengah kepungan gedung-gedung besar raksasa itu. Dilatari apalagi, oleh sebuah bangunan besar menjulang, rupanya dia adalah museum Islam Nusantara. Ini adalah kompleks UNHASY yang mewah. Gedung biarlah, tapi manusianya yang penting. Wajah-wajah sumringah species manusia dengan keragaman bentuk fisiknya mengalir berduyun-duyun ke lapangan di mana Sinau Bareng digelar. Di Pondok Pesantren Tebuireng.

Sinau Bareng malam hari ini dilaksanakan dalam rangka Dies Natalis ke-35 Universitas Terbuka (UT) dan sekaligus juga adalah bentuk kerjasama UT dengan Ponpes Tebuireng. Tema “Belajar Tanpa Batas” dipilih oleh pihak penyelenggara, terpampang jelas di background panggung. Semangat menggali sudah berapi-api sejak awal sekali.

Setelah sebelumnya lantunan kreasi shalawat bertalu-talu tampil di panggung oleh barisan santri-santri. Pukul 20.00 WIB KiaiKanjeng langsung mengisi panggung dan mengajak para hadirin untuk juga bershalawat dengan kualitas musikal yang berkelas. Tidak lama, Shalawat Badar melantun dan Mbah Nun beserta para tokoh pendidik UT di antaranya ada Wakil Rektor II UT Bapak Drs. Moh. Muzammil, M.M, iya nama beliau agak mirip menyerupai Kiai Muzammil yang itu tapi beliau bukan terbilang kelas agamawan keramat. Memang Pak Kiai Muzammil yang Madura juga hadir malam hari ini. Juga ada Gus Kikin, sosok bersahaja yang mewakili sesepuh ponpes Tebuireng. Juga hadir Wakil Gubernur Jawa Timur Mas Emil Dardak.

Belajar Tanpa Batas memang semangat yang sebangun-sejalan dengan spirit Sinau Bareng. Dari awal sangat mula, Mbah Nun mengajak agar semua yang hadir pada malam ini untuk bersedia menyingkap kasyful qulub, agar segala pancaran ilmu mampu teresapi dan dapat teraplikasikan dengan baik dalam ranah kehidupan masing-masing. Dan karena akan belajar tanpa batas, Mbah Nun juga sampaikan “Jadikanlah malam ini malam yang radikal”. Belajar memang harus radikal dan liar sejak dalam pikiran. Akhlak yang perlu ditata dan dipagari. Itu semua bisa kita resapi dalam Sinau Bareng.

Setelah sapaan singkat yang berisi padatan-padatan keilmuan, kemudian dilanjutkan oleh beberapa sambutan. Pertama ada sambutan dari Drs Muhammad Muzammil, MM. Dengan segera Pak Warek II UT ini menyadari kemiripan nama beliau dengan Kiai Madura, eh Kiai Muzammil ternyata karena pak Warek II sering menyimak sajian keilmuan Maiyah dari youtube.

Juga selanjutnya ada Gus Kikin yang dengan sangat berendah hati menyambut para jamaah Maiyah, dari wajah beliau tampak kegembiraan memancar-mancar. Dan last but not least, Mas Emil Dardak juga memberi sambutan yang ringkas padat dan menyenangkan. Mas Emil tampak sangat memahami atmosfer Sinau Bareng dan segera mampu menangkap persambungannya dengan tema “Belajar Tanpa Batas”.

Ayat dari Al Qur’an surah Al Alaq yang berbunyi ‘allamal insaana maalam ya’lam dijadikan lambaran teori dasar mengenai tidak terbatasnya belajar. Kita diajak oleh Mbah Nun untuk menyadari tidak terbatasnya Allah sendiri dan apabila Dia Yang Tidak Terbatas yang mengajari manusia maka tentu tidak berbatas pula kemungkinan dalam keilmuan-keilmuan yang membentang. Dengan menyadari itu, kita justru menyadari betapa tidak berdayanya kita. Betapa kecil dan tidak berdaya sehingga manusia tidak punya alasan rasional untuk bersikap sombong, pongah, dan angkuh hanya karena ilmu yang (dirasa) dimilikinya.

Mbah Nun sangat serius membangun semangat belajar di manapun dan kapanpun. Kyai Muzammil malam itu diminta ikut membabar. Berbagai sudut pandang tema dicari kelengkapan-kelengkapannya. Mbah Nun sempat melempar pertanyaan memancing, bahwa dalam belajar lebih penting mana antara menjawab atau bertanya. Walau awalnya tampak agak ragu, namun kemudian para jamaah kompak menjawab dalam satu koor “Bertanyaa….”

Keseriusan untuk memantik pembelajaran tanpa batas juga bisa kita resapi dari disiapkannya pertanyaan-pertanyaan untuk materi workshop malam hari ini. Materi workshop bahkan sudah ditampilkan terlebih dahulu di web kita ini. Dari soal sejarah ormas NU, ma’na khittah serta persoalan nasionalisme mendapat tempat dalam bahasan workshop. Para hadirin pun bergairah untuk terlibat. Tak jarang terselip canda, kemudian pikiran diuji kembali. Gembira lagi.

Di sekitar lokasi Sinau Bareng suasana semarak, roda jual-beli terus berputar. Jika kita layangkan pandang ke sekeliling, kerap kita dapati keluarga-keluarga kecil datang, menggandeng putra-putri harapan. Di panggung, Kiai Muzammil menjelaskan maa ma’na khiththah NU dari berbagai sisi pandang. Juga versi-versi sejarah mengenai NU yang beliau pahami.

Ilmu sejarah memang bukan ilmu pasti. Ilmu sejarah adalah tentang perspektif dalam memandang data sejarah. Maka sebanyak mungkin versi sebaiknya kita tampung. Di Sinau Bareng, di Maiyah kita selalu belajar menampung tanpa perlu dramatis dengan kebenaran. Salah satu versi sejarah yang disampaikan oleh Kiai Muzammil misalnya mengenai tiga jenis pemberian dari Syaikhona Kholil Bangkalan pada tiga manusia istimewa yakni Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Ahmad Dahlan, serta Mbah Imam Zahid.

Setiap akademisi atau pembelajar biasanya paham bahwa memang butuh kejembaran serta kerendahan hati untuk mampu menampung ragam versi kebenaran yang memang bisa tanpa batas. Kalau ada kebekuan tafsir, itu mestilah akibat kekurang rendah hatian. Salah satu hal yang belakangan ini membeku tafsirnya adalah soalan ideologi bernama nasionalisme. Ketika bahasan menyentuh tema ini, Mbah Nun mengajak kita untuk kembali pada substansi nasionalisme itu sendiri. Bahwa nasionalisme hanyalah sebuah ideologi yang lahir karena adanya batasan-batasan nation. Dan batasan nation itu adalah hasil kesepakatan di antara manusia sendiri. Dia bukan hal yang semula jadi dan pasti akan berlangsung selamanya.

Mbah Nun juga melanjutkan dengan term hakikat, ma’rifat, thariqat dan syariat. Urutan ini memang sengaja dibalik oleh Mbah Nun. Untuk menyampaikan bahwa yang paling utama adalah bagaimana sistem yang diperjuangkan tetap pada kesejatian untuk melayani seluruh makhluk. Hanya tahapan, jalan serta kendaraan menuju main goal hakikat itu yang bisa berbeda-beda. Sebagai salah satu ideologi dari berbagai macam ragam ideologi, nasionalisme perlu menjembar bahwa dia boleh dianut boleh tidak. Dia bukan sesuatu yang final dan utama.

Di tengah dunia yang sedang beku, dingin menusuk serta berbagai wacana sedang riuh oleh glorifikasi heroismenya masing-masing. Diantara pertarungan tafsir agama murni vs delusi budaya murni, fenomena Sinau Bareng seperti malam hari ini adalah sebuah peremuk kebekuan yang jitu. Yang mencairkan, menghangatkan, memeluk menjadikan ilmu dalam sajian tawa yang berbahagia. Menjadikan hati manusia siap atas beragam kemungkinan dan ketidak berbatasan yang melampaui sekat-sekat nasion. Belajar dan bahagia tanpa batas.

Buku Cak Nun Majalah Sabana