Belajar Tadabbur al-Qur’an Kepada Mbah Nun

Marilah kita memperhatikan, bahwa tidak pernah berhenti Mbah Nun mendorong kita untuk terus-menerus men-tadabburi al-Qur’an. Jika kita cermat, kita bisa lihat Mbah Nun selalu memberikan contoh tentang tadabbur al-Qur’an dalam setiap Sinau Bareng. Satu contoh adalah bagaimana Mbah Nun mengelaborasi surat an-Naas yang mengandung ilmu kepemimpinan. Sedemikian rupa elaborasi itu hingga diaplikasikan dalam bentuk workshop dan bahkan belakangan telah mengantarkan pada penemuan wirid (la robba illallah dan metode pengembangan kesadaran rububiyah Allah).

Sisi yang juga kita perlu tangkap adalah bahwa elaborasi-elaborasi itu memperlihatkan bagaimana intensitas kedekatan Mbah Nun kepada al-Qur’an. Dalam bahasa yang lebih kekinian, telah terjadi interaksi intim oleh Mbah Nun terhadap al-Qur’an. Inilah yang kita perlu bercermin dan belajar, sudah seberapa intens kita mengintensifkan diri kita untuk berinteraksi dengan al-Qur’an.

Satu pengalaman saya catat dengan baik. Saat itu siang hari, bahan mengenai acara Sinau Bareng di Campurejo Panceng Gresik barusan beliau terima. Temanya adalah “Menuju Iman yang Berkualitas.” Malam harinya, di atas panggung, Mbah Nun menyampaikan uraian-uraian pemberian landasan dengan mengambil satu ayat dari al-Qur’an yang menjadi pijakan dalam membahas iman. Yaitu surat Ali Imron ayat 186. Dalam pandangan saya, ayat yang dipilih ini tidak umumnya ayat-ayat yang biasa dikutip dalam pembahasan mengenai iman.

What I want to say is perolehan dan pengulasan yang sistematis atas iman dengan berlandaskan ayat ini tidak mungkin lahir jika tidak dari seseorang yang memiliki intensitas interaksi dengan al-Qur’an. Dengan ayat itulah, secara jelas dan komprehensif Mbah Nun memaparkan bahwa iman yang berkualitas adalah yang iman yang diuji. Ayat itu berbicara tentang ujian manusia yaitu ujian harta dan ujian berupa dirinya. Jadi, seorang yang beriman adalah mereka yang telah lulus menjalani ujian.

Lewat Sinau Bareng, Mbah Nun selalu mendorong kita untuk sungguh-sungguh dekat dengan al-Qur’an. Sampai-sampai kita diyakinkan bahwa semesta luas bernama tadabbur al-Qur’an itu akan memberi ruang yang aman dalam kita menyelami al-Qur’an sepanjang kita berniat mencari kebijaksanaan dan kebaikan. Bahkan yang terakhir-terakhir sampai beliau mengatakan al-Qur’an itu untuk kita, bukan untuk Nabi. Nabi hanya perantara atau penyampainya, tetapi yang dituju oleh Allah dengan firman-firman-Nya adalah kita. Per individu. Sehingga tak ada alasan untuk tidak mendekat dan coba mendapatkan makna, petunjuk, dan ilmu dari al-Qur’an.

Dalam kesempatan Mocopat Syafaat 17 Oktober 2019 lalu, misalnya, Mbah Nun kembali mengajak kita untuk membiasakan diri bergaul dan berinteraksi dengan al-Qur’an. “Sebisa-bisanya. Karena tak ada yang bisa benar-benar menafsirkan al-Qur’an. Mufassir pun demikian. Jadi kita semua sama.” Begitu kurang lebih, Mbah Nun memotivasi kita dan meyakinkan kita. Tentu saja itu sama sekali tidak berarti menafikan para mufassir, melainkan untuk mendobrak pagar yang selama ini menghalangi kita untuk meningkatkan interaksi dengan al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an, seperti kata Mbah Nun, itu untuk kita.

Dalam dunia dan disiplin tafsir al-Qur’an telah ada otoritas-otoritas yang mapan, dan itu merupakan bagian dari perkembangan keilmuan Islam itu sendiri, namun hak atau kewajiban individual setiap orang untuk berinteraksi dengan al-Qur’an tidak boleh terhalangi. Tafsir yang telah ada hendaknya diletakkan sebagai membantu dia untuk menyelami al-Qur’an. Di sini, dapat kita ikuti dan catat, bahwa yang dilakukan oleh Mbah Nun adalah membuka perspektif dan cakrawala yang luas mengenai hubungan kita dengan al-Qur’an.

Di antara perspektif dan cakrawala itu misalnya Mbah Nun mengatakan di Mocopat Syafaat kemarin bahwa ayat al-Qur’an itu ada asal-usulnya (sebab turunnya/sababun nuzul), tapi begitu difirmankan ia terbuka untuk terkait dengan hal yang luas yang tidak secara linier berhubungan langsung dengan asal-usul tersebut. Hubungan ayat tersebut dengan kita tercipta kemudian dalam bentuk ilmu, hikmah, dan lain-lain. Dengan prinsip itulah, Mbah Nun mengajak kita untuk menafsirkan dan mentadabburi al-Qur’an.

Sebuah contoh yang sering diberikan Mbah Nun adalah tatkala beliau menghayati ayat pertama surat al-Isra. Subhanalladzi asro bi ‘abdihi lailan minal masjidil harami ilal masjidil aqsa lladzi baarakna haulahu linuriyahu min aayatina. Dengan kekuatan intensitas interaksi dengan al-Qur’an, ayat ini bukan saja memberikan informasi mengenai perjalanan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad, melainkan membuka perolehan pemaknaan yang luas. Bahkan dari satu kata dari ayat tersebut saja Mbah Nun mendapatkan sesuatu. Kata itu adalah lailan. Artinya, malam hari.

Kata lailan sangat mengesankan Mbah Nun dan dirasakan mengandung ilmu. Yaitu, bahwa hidup itu seperti malam hari. Gelap. Karena itu kita harus menyibak kegelapan demi kegelapan. Tak banyak yang diketahui manusia. Itulah situasi lailan. Maka kita harus mengandalkan Allah melalui iman dan tawakkal. Menjalani hidup bagaikan menyusuri gelap malam. Hanya iman dan tawakkal yang menuntun manusia dapat berjalan dengan baik. Itu satu contoh yang kita semua sudah mendengarkan dari Mbah Nun.

Satu contoh lagi yang mungkin teman-teman belum dengar. Sewaktu di rumah transit saat acara Sinau Bareng di Ponpes Darul Falah Ki Ageng Mbodo Tambirejo Toroh Grobogan belum lama ini, bersama Gus Ghufron dll, Mbah Nun beramah tamah dan ngobrol seputar Suwuk (yang menjadi salah satu khasanah yang ingin dilestarikan ponpes ini), dan saya mengingatkan beliau mengenai fenomena yang sering beliau ceritakan yaitu umat dan masyarakat Waliyullah Imam Lapeo di Mandar Sulbar. Para Nelayan di sana, jika berhadapan dengan gelombang besar yang mengancam, mereka langsung teriakkan nama Imam Lapeo, dan tak lama kemudian gelombang besar itu toleran alias tak jadi mengancam mereka.

Saya bertanya kepada Mbah Nun tentang bagaimana atau teori apa yang bisa menjelaskan fenomena tersebut. Mengapa yang disebut Imam Lapeo dan bukan yang lain? Bahkan juga bukan nama-nama yang mungkin lebih besar dari Imam Lapeo? Dll pertanyaan. Dengan cepat Mbah Nun menjawab, “lho itu teori haulahu.” Itu satu kata lain selain lailan, yang ada di ayat pertama surat al-Isra tersebut. Di situ Allah mengisahkan tentang “berkah di sekitarnya.”

Jangan lupa pula, dari ayat pertama surat al-Isra itu juga ada asro yang berarti Allah memperjalankan, dan dengan asro 

Mbah Nun mengisahkan perjalanan beliau dan KiaiKanjeng yang memang tak ada kata lain yang lebih pas dan rendah hati bahwa semua itu adalah diperjalankan oleh Allah.

Itulah beberapa contoh mengenai tadabbur al-Qur’an oleh Mbah Nun yang bila kita boleh menarik satu pemahaman bahwa situasi dasar yang perlu diciptakan di dalam tadabbur tersebut adalah interaksi, kedekatan, dan kecintaan kepada al-Qur’an serta pemahaman mengenai al-Qur’an yang selalu diperbarui. Di Sinau Bareng itu kita mendapatkan pembaruan-pembaruan tersebut. Sekadar cara bagaimana Mbah Nun membahasakan ayat-ayat Allah pun sebenaranya sudah pula turut memperbarui kesadaran kita, seharusnya. Seperti berikut contohnya. Di Mocopat Syafaat kemarin, selepas menyitir surat al-Isra ayat pertama tersebut, beliau menggambarkan ayat-ayat al-Qur’an, “Itu suplai dari Allah. Ayat-ayat itu untuk kita semua.”

Yogyakarta, 1 November 2019

Buku Cak Nun Majalah Sabana