Belajar Kepada Monyet, Refleksi Diri, Hingga Tadabbur Al-Kafirun

Catatan Majelis Maiyah Kenduri Cinta ke-198, 15 Februari 2019

Kemesraan, kehangatan kembali menghampiri hati jamaah. Setelah sebulan berpuasa kerinduan, maka tadi jamaah Maiyah melepas rindu, bertegur sapa, belajar dan mengaji bersama dalam Kenduri Cinta, 15 Februari 2019, dengan tema “Nabi Dholim”. Wirid Wabal dilantunkan, terhitung sudah dua tahun rutin menjadi pembuka di Kenduri Cinta. Semua khusyuk, menutup mata sejenak, menundukan kepala. Ada yang berdzikir dengan suara keras, lirih atau diam, jamaah berkontemplasi.

“Nabi Dholim”? Judul yang cukup mengundang kontroversi bagi masyarkat Indonesia. Namun, di Maiyah Kenduri Cinta ini, tema yang menjadi pembahasan utama bukanlah sesuatu yang harus dibedah hingga detail, karena tema yang diangkat merupakan pintu gerbang memasuki penjelajahan ilmu. Seperti yang sudah tertuang di Mukadimah Kenduri Cinta, tema ini hanyalah pemantik untuk mengajak kita semua merefleksikan ke dalam diri kita, bahwa ada sesuatu yang mesti dibenahi dalam diri kita.

Salah satu yang dibahas di sesi prolog adalah memaknai poster Kenduri Cinta, dari dalam gua, terlihat dua orang sedang bercengkerama dengan alam. Tadabbur awal yang dimaknai melalui poster itu adalah, bahwa di zaman yang semakin tidak karuan ini, ada baiknya memang kita mengambil jeda dari keramaian, menepi sejenak, memasuki gua untuk merenung, memahami, memaknai, atau juga mencari sesuatu yang lebih sejati dari dunia yang kita temui hari ini.

Setelah diskusi sesi awal selesai, Palupi membacakan sebuah puisi karyanya. Kemudian, Raras Ocvi salah satu anak didik Beben Jazz tampil bersama adiknya Ranu. Salah satu lagu yang dimainkan adalah lagu karyanya sendiri berjudul “Aurora”. Terinspirasi dari seorang anak disabilitas yang bernama sama, Aurora. Pesan yang disampaikan melalui lagu, bahwa anak-anak spesial ini senantiasa berjuang dan bergembira layaknya anak-anak yang lain.

Mas Donny, salah satu vokalis KiaiKanjeng semalam turut hadir di Kenduri Cinta. Pada jeda sesi awal ini, Mas Donny pun berduet dengan Raras membawakan lagu, “We’re in Heaven” dan “More Than Words”. Suasana Kenduri Cinta pun semakin hangat, meskipun angin berhembus cukup kencang, sehingga hawa dingin pun terasa.

Kesadaran mengakui kesalahan

Doa Nabi Yunus, saat di dalam perut ikan paus “la ilaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadhdholimin” dilafalkan Mas Ali, mengawali pembahasan. Nabi Yunus, pernah merasa dirinya dhalim, sehingga beliau berdoa demikian. Bahkan seorang Nabi pun menyadari bahwa dirinya dhalim, sehingga bertaubat. Lalu bagaimana dengan kita?  Apakah kita pernah menyadari bahwa diri kita dhalim? Doa yang diucapkan oleh Nabi Yunus itu adalah ungkapan kerendahan hati seorang Nabi yang notabene juga adalah manusia biasa yang menyadari masih banyak kekurangan. 

Jamaah terus berdatangan. Pelataran sudah penuh sesak jamaah yang duduk, sedang yang lain berdiri, setia berdiri, dan berusaha nyempil cari tempat duduk. Keistimewaan di setiap Maiyahan, mampu membuat seseorang berdiri berjam-jam tanpa lelah, di mana biasanya kita berdiri sebentar saja sudah letih. Tapi tidak ketika kita Maiyahan, seperti ada energi ekstra yang muncul dalam diri kita, berdiri berjam-jam pun tidak terasa. Bagi masyarakat yang awam dengan Maiyah, mungkin tidak merasakan keajaiban itu, namun kita di Maiyah selalu merasakan demikian, seperti ada tenaga tambahan yang membuat kita kuat untuk bertahan, berdiri, duduk, menekun, menyimak paparan-paparan ilmu, fokus berjam-jam lamanya.

Semalam, turut hadir Rizki Dwi Rahmawan, salah satu penggiat simpul Maiyah Juguran Syafaat, yang juga adalah salah satu Koordinator Simpul Maiyah. Rizky menyampaikan bahwa kecenderungan masyarakat Indonesia hari ini begitu inferior di tengah potensi ilmiah yang tinggi. Belajar, meneliti, berinovasi, tidak harus dengan hal-hal besar yang mesiah. Sains sederhana dan tepat guna adalah kekuatan ilmiah terbesar kita yang patut ditonjolkan. Rizky menyampaikan, setiap penggiat simpul Maiyah di berbagai tempat berusaha untuk melakuan Research and Development, meskipun skalanya tidak sebesar R&D yang hari-hari ini dibicarakan oleh banyak orang. Namun, kekuatan orang Maiyah untuk istiqomah menjadi landasan utama, sekecil apapun riset yang dilakukan, bagaimana kemudian diimplementasikan, setidaknya ada sekitar 60 titik simpul Maiyah yang bisa menjadi laboratorium ilmu. Dari 60 titik itu saja jika kita mampu memaksimalkan potensi yang ada, sudah sangat baik.

Buku Cak Nun