Bebaskan Resolusi dari Ilusi Kemalangan Masa Lalu

Catatan Majelis Maiyah Juguran Syafaat, 19 Januari 2019

Resolusi yang Alakadarnya, Sebab Kebanyakan Ilusi

Acara berlanjut dengan suguhan atraksi sulap Mas Kim dari komunitas pesulap Banyumas, “Plat R”. Ini adalah kali pertama Saya bersaksi dari jarak dekat atas adegan ekstrim tanpa melalui layar kaca kecuali Kuda Lumping. Deg-degan luar biasa, takut kalau-kalau Mas Kim mengalami malpraktek terhadap dirinya sendiri.

Suasana tegang dengan iringan dentuman musik jedag-jedug membuat pikiran Saya sontak beralih pada wajah tampan Hirdan Ikhya dan Kang Faisal atas perannya meramu tata sound serta mengatur ruwetnya kabel-kabel ruangan Pendopo Wakil Bupati Banyumas. Cukup piawai mereka kelihatannya, tidak seperti Saya yang hanya paham kabel rem pit “Pederal”.

Puncak keluguan Saya mencapai derajat paling mencengangkan begitu adegan teatrikal kolaborasi Mbah Titut dan Mbah Hadi dipentaskan. Tanpa rencana, tanpa gladi resik tapi mampu membawakan lakon secara luwes dan apik. Lakon tentang kematian tersebut dipentaskan tepat jam 01.36 WIB. Saat dimana para Malaikat Allah SWT turun ke bumi membawa dua buah keranjang, yaitu keranjang ampunan dan rizqi.

Kembali ke Mas Kim sang magician alias pesulap. Sayang sekali Ia buru-buru pulang, padahal Saya ingin sekali menanggap apa sebetulnya rahasia dibalik atraksi-atraksi ilutifnya tadi. Mulai dari mengubah daun jadi uang sampai membersihkan upil dengan bor mesin. Tapi andai tidak buru-buru pulang pun Saya jamin Mas Kim tidak akan membocorkan rahasianya.

Satu hal yang Saya tangkap adalah, bahwa kita jangan terjebak oleh ilusi. Tidak semua yang nampak riil adalah ilusi. Terlebih ilusi-ilusi yang tanpa sadar kita ciptakan sendiri. Misalnya merasa ‘ah, Saya bodoh’, ‘ah ,Saya tidak berbakat’, ‘ah, paling Saya gagal lagi’. Itu seolah riil sekali, karena kejadiannya pernah ada di masa lalu. Padahal. Padahal kalau yang nyata adalah saat ini, bukankah masa lalu sudah menjadi ilusi?

Lalu, kenapa kita harus menyusun target masa depan yang alakadarnya saja sebab pikiran kita dipenuhi ilusi kemalangan, kegagalan, malprestasi dan segala keburukan yang mendera nasib kita di masa lalu?

Ngodor”, Sebuah Adversity Quotient

Mas Akhmad Karim hadir pada episode yang tepat. Seorang anak desa dari pedalaman Wonosobo yang telah berhasil menjadi salah seorang lulusan terbaik di Indiana University, Amerika Serikat. Pengalaman masa lalunya adalah ilusi-ilusi buruk. Bagaimana bisa ia menyusun resolusi untuk diterima SNMPTN di UGM padahal sudah dua tahun dia tidak lolos seleksi ujian masuk perguruan tinggi tersebut. Tapi dia ngodor, pokoknya harus masuk UGM. Meski harus hidup dengan cara yang teramat alakadarnya kala itu, demi bisa bertahan di Jogja.

Kalau menyadari kemalangan hidup adalah riil, bukan ilusi. Harusnya ia downgrade saja itu resolusi dirinya. Kuliah di yang kampus biasa saja kek. Atau balik kampung, bertani juga potensinya besar loh di Wonosobo. Nyatanya Ia kembali ngodor untuk kuliah di luar negeri mengejar program Masternya, meski Bahasa Inggrisnya pas-pasan. Dan betul, Mas Karim berkisah betapa tidak mudah proses yang ia tempuh meskipun sudah menapakkan kaki di negeri Paman Sam kala itu. Matrikulasi Bahasa Inggris pun ia tempuh di sana. Keahlian di luar Bahasa Inggris ia presentasikan dengan apik.

Program Master pun ditempuh. Eh lah, ajaib, dengan IELTS dibawah 6 sekarang bisa diterima program doktoral di salah satu universitas terbaik dunia, Amsterdam University. Itu karena ia berhasil meyakinkan bahwa dirinya bisa menutupi kekurangannya dalam hal bahasa dengan kemampuannya di bidang yang lain. Celah ke-ngodor-an semacam itu mana bisa didapatkan ketika seseorang fokus pada kemalangan masa lalu, bukan pada resolusi masa depan?

Mas Karim menjadi inspirasi untuk kita tidak perlu terjebak oleh pengalaman buruk kemalangan yang sudah kita alami. Oleh kenyataan hidup yang tidak seindah feed Instagram kawan-kawan kita. Nyatanya semua itu kalau kita pandang sebagai ilusi, ya ilusi kok. Dan Mas Karim sudah membuktikan ‘kecerdasan ketahan-malangannya’ alias adversity quotient.

Lainnya

Niteni Awake Dewek

Bulan Resolusi Terendah

Gerakan Politik Resolusi Rendah

Resolusi Ilusi

Buku dan Merchandise