Bahtera Nuh

Mukadimah Damarate April 2019

“Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah mata hati dalam dada” (QS. Al-Hajj:46)

Demi kisah Nuh yang diabadikan Allah dalam Al-Qur`anul-karim! 

Pada rentang usia yang cukup panjang, 950 tahun beliau menempuh kehidupan di muka bumi untuk menyampaikan risalah kebenaran kepada kaumnya. Sayang beribu sayang, orang-orang menyumbat lubang telinganya dengan kedua tangan. Pemberhalaan yang telah dilakukan raja Darmasyil, yang merupakan seorang raja di masa itu, sekaligus penyembah patung kehormatan dalam jubah kekuasaan telah menghasut semua rakyatnya untuk menolak ajakan Nuh yang menyeru untuk kembali kepada jalan yang dirahmati. 

Demi perjuangan Nuh As yang gigih dan tabah!

Pada rentang masa yang sangat panjang itu, ternyata hanya sekitar 70-80 orang yang menerima dan mengimani. Itupun dari kalangan orang-orang miskin. Bahkan, istri dan putranya sendiri yang bernama Kan’an menolaknya dengan mentah-mentah. Gerangan, apa yang sesungguhnya terjadi di masa itu sehingga mereka begitu benci terhadap ajaran yang disampaikan nabi Nuh? Mengapa orang-orang yang secara status sosialnya mapan justru menolak terhadap risalah itu? Adakah ajaran yang dibawa nabi Nuh justru bertentangan dengan kepentingan penguasa  pada saat itu? misalnya, mengarah pada pertentangan ajaran tauhid atau konsep hukum keadilan yang berlaku pada masa itu? Mengapa sampai ada tawaran kepada nabi Nuh dari orang-orang kaya, mereka akan menerima ajarannya jika beliau menolak orang-orang miskin yang sudah beriman itu?

Sebuah tawaran yang aneh, yang mana dengan tawaran tersebut seperti mengisaratkan adanya kesenjangan sosial pada masa itu. Sementara nabi Nuh As tetap teguh, tak sedikitpun hatinya bergeser untuk menerima tawaran mereka. Hingga akhinya beliau mengadu kepada Allah perihal situasi dan kondisi kaumnya yang pengingkarannya sudah sedemikian parah. Kemudian Allah menitahkan kepada nabi Nuh sebagaimana yang termaktub dalam surat Huud ayat 37: “dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan aku perihal orang-orang yang dhalim itu, sesungguhnya mereka nanti akan ditenggelamkan

Demi Nuh As yang akhinya menerima perintah dari Allah untuk membikin bahtera di suatu bukit!

Sebuah bahtera yang terbuat dari kayu jati. Yang akan menyelamatkan orang-orang yang imannya sejati; kokoh dan teguh. Sementara mereka yang membencinya terus mengolok-olok, mencibir bahkan pada suatu saat bahtera itu dijadikan tempat buang air besar oleh mereka yang ingkar. Tapi Allah tetap yang sejati-penguasa masyriq dan magrib, justru akhinya membuat mereka yang membuang kotoran manusia itu memungutnya kembali dari bahtera Nuh. Pasalnya, tumpukan kotoran yang terdapat dalam bantera itu bisa dipergunakan sebagai obat kulit yang sedang dialami oleh mereka yang ingkar dan ngeyel. Alhasil, bahtera itu kembali bersih seperti sediakala. 

Pada waktu yang sudah dijanjikan,datanglah banjir bandang. Bagi orang yang sudah beriman kejadian itu dianggap cobaan, tetapi bagi mereka yang dholim dianggap sebagai bencana dan hukuman. Ke mana mereka yang ingkar dan dusta akan menyelamatkan diri? ketika ketinggian air melebihi puncak gunung yang paling angkuh sekalipun? 

Sementara para pengikut nabi Nuh As sedang menyelamatkan diri ke dalam bahtera yang sudah dipersiapkan sebelum azab datang. Kemudian Allah azza wajalla menyelamatkan nabi Nuh beserta orang-orang yang setia menyertai dengan hati yang setia. Kemudian ketika air surut maka rombongan yang diselamatkan itu melanjutkan kehidupannya kembali.

Nah, sementara kita yang hidup di abad 21 ini betapa ngeri menjadi saksi sejarah manusia yang kini sedang berlangsung; pada suatu realitas yang begitu majmuk, tumpang-tindih, atau bisa juga dikatakan: zaman yang sedang kita hadapi kali ini, merupakan  akumulasi kebobrokan kaum-kaum yang ingkar dari seluruh nabi atau rosul sebelum nabi Muhammad. Saat ini dengan begitu mudahnya, di mana saja bisa kita jumpai formulasi pengingkaran kaum nabi Nuh, pengingkaran kaum ad, pengingkaran kaum tsamud yang dulu mereka telah dibinasakan dengan azab yang pedih. Bahkan, hari ini dengan mudahnya kita menjumpai Fir’aun-Fir’aun baru, Namrud-Namrud baru dalam sejarah kehidupan pada sangitnya zaman abad 21. Betapa orang-orang besar loncat sana-loncat sini untuk berebut meja kekuasaan, melahap manusia lain untuk ambisi kepentingannya, selebihnya laba materi lah yang dicari dan dipertaruhkan pada detak jantungnya, baik siang maupun malam. 

Pada konteks sejarah Bahtera nabi Nuh dalam proses penyelamatan dari banjir bandang, mbah Nun pernah menyampaikan pernyataan, “Kalau nabi Nuh mengulurkan tangannya untuk semua penduduk bumi pada abad 21, mungkin kapal tersebut tidak akan pernah berhenti bergoyang. Tak pernah seimbang. Tak pernah tak limbung. Karena sesungguhnya, masing-masing penumpang tidak sedang menghayati jiwanya bersemayam di atas kapal nabi Nuh, tetapi justru sibuk menaiki kapal nafsunya sendiri.”

Sebegitu sempurnakah krisis kemanusian di abad 21? Sedemikian lengkapkah krisis ahklak, krisis cinta antar sesama manusia di abad 21? Sebegitu tak pentingkah sekian bencana demi bencana alam yang mengingatkan kita hingga hari ini untuk tidak mengekloitasi alam dan penghuninya? Sesungguhnya apa yang telah menjadi obsesi kita, yang terdapat dalam kepala kita, atau mimpi besar orang-orang dalam membangun peradabannya? Sehingga dengan kenyataan yang miris ini mengingatkan kita pada sajak ‘maskumambang’ yang ditulis almarhum WS Rendra, kabut fajar menyusup dengan perlahan/ bunga bintaro berguguran di halaman perpustakaan/di tepi kolam, di dekat rumpun keladi/aku duduk di atas batu melelehkan air mata// cucu-cucuku/zaman macam apa/peradaban macam apa/yang akan kami wariskan kepada kalian.//jiwaku menyanyikan lagu maskumambang/kami angkatan pongah/besar pasak dari tiang.//kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,/karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu/dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini/maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan dan angan-angan// cucu-cucuku/Negara terlanda gelombang zaman edan/cita-cita kebajikan terhempas batu/tetapi aku keras bertahan/mendekap akal sehat dan suara jiwa/biarpun tercampak di selokan zaman//bangsa kita ini /seperti dadu terperangkap dalam kaleng hutang/yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa/tanpa kita bisa melawannya/semuanya terjadi atas nama pembangunan/yang mencontoh tatanan pembangunan di zaman penjajahan/tatanan kenegaraandan tatanan hukum/juga mencontoh tatanan penjajahan/menyebabkan rakyat dan hukum hadir tanpa kedaulatan/yang sah berdaulat hanya pemerintah dan partai politik//O comberan peradaban, O martabat bangsa yang kini compang-camping/Negara gaduh, bangsa rapuh/kekuasaan kekerasan meraja lela/pasar dibakar, kampung dibakar/gubuk-gubuk gelandangan dibongkar/tanpa ada gantinya/semua atas nama takhayyul pembangunan//restoran dibakar, toko dibakar, gereja dibakar,/atas nama semangat agama yang berkobar/apabila agama menjadi lencana politik/maka erosi agama pasti terjadi/karena politik tidak punya kepala, tidak punya telinga, tidak punya hati/ politik hanya mengenal kalah dan menang/kawan dan lawan,/peradaban yang dangkal//meskipun hidup berbangsa perlu politik/tidak bolehmenjamah kemerdekaan iman dan akal/di dalam daulat manusia/namun daulat manusia/dalam kewajaran hidup bersama di dunia/harus menjaga daulat hukum alam,/daulat hukum masyarakat/dan daulat hukum akal sehat//matahari yang merayap naik dari ufuk timur/telah melampaui pohon dinding/udara yang ramah menyapa tubuhku/menyebarkan bau bawang yang digoreng di dapur/berdengung sepasang kumbang yang bersenggama di udara//

Terasa gamblang bagi kita untuk memahami nilai-pesan puisi yang ditulis WS Rendra di atas. Terkait situasi dan kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, ketika menghadapi gelombang globalisasi. Justru terjadi ketidakseimbangan yang akut. Misalnya, ketimpangan antara ilmu dan ahklak, ketimpangan pembangunan yang begitu massif dilakukan dengan kelestarian alamnya, termasuk ketimpangan nilai kebudayaan manusia Nusantara yang sungguh terjajah.

Indonesia sebagai negeri yang kaya raya justru sekarang terasa sangat kentara, jika bangsa kita ini menjadi ladang subur bagi imprealism-kapitalism. Terasa ada kecemasan yang menukik dalam dada, disaat kita dihadapkan dengan pertanyaan, bagaimana nasib anak-cucu ke depan, kalau misalnya kita sudah menutup telinga, menutup mata, bahkan menutup hati terhadap pelajaran sejarah yang pernah terjadi di masa silam? 

Sebagaimana yang pernah terjadi dalam kisah Bahtera nabi Nuh yang diselamatkan Allah dari amuk banjir bandang, juga para kaum yang ingkar itu telah dibinasakan, sungguh telah dibinasakan! tidak cukupkah hal itu semua menjadi ibroh untuk mengevaluasi tindak-tanduk kita selama ini? Sanggupkah kita mempelajari akar pohon sejati dalam bahtera kebudayaan-peradaban Nusantara? Sanggupkah kita tidak men-Kan`an diri terus-menerus untuk tak menolak kearifan-kebijaksanaan mbah-buyut kita sendiri? Ataukah kita akan terus mengadopsi sistem nilai-pengetahuan-politik-sosial warisan kolonial yang telah menjajah fisik-mental kita selama ratusan tahun itu? hingga sekarang ini kita merasa terlunta-lunta, diombang-ambingkan keadaan yang tak kunjung kita pahami? 

Oleh sebab itu, cobalah kita memejamkan mata sejenak, menghirup nafas dalam-dalam, dan mencoba merenungi kejadian demi kejadian yang telah menimpa kita selama ini. Mulai dari bencana alam seperti gempa, banjir, longsor, dan lain-lain.  Termasuk bencana kemanusiaan yang tumbuh dan berkembang di abad ini. Dengan itu semua bahtera Nuh sangat relevan untuk dipelajari kembali, jika gelombang zaman yang kita hadapi sekarang selalu mengombang-ambingkan akal sehat serta hati nurani kita. 

Mari belajar lagi! Mari belajar lagi! (Khalil Tirta)

Buku Cak Nun