Bagiku Begini, Bagimu Begitu: Ah, Tak Masalah

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 25 Januari 2019

“Keamanan itu bukan saja masalah fisik, ada pula keamanan berpikir. Selama 25 tahun ini yang dilakukan Cak Nun dengan Maiyahnya adalah ndandani pikir, mengamankan pikir agar tidak kecurian, tidak gampang terseret,” beber Karim dalam Majelis Maiyah Suluk Surakartan di Rumah Maiyah Surakarta.

Karim adalah staf Bappenas yang sedang menempuh studi S3 di Amsterdam dan mengadakan penelitian tentang keamanan.

Bukan institusi keamanan, yang Karim teliti adalah Maiyah. Terdapat temuan ilmiah bahwa Maiyahan menjadi metode ampuh dalam mewujudkan perdamaian dunia. Jama’ah Maiyah, baik secara individu maupun komunal, sempat menjadi juru damai atas konflik yang terjadi di daerah masing-masing.

Uniknya Maiyah, kata Karim malam itu (25/1/19), “Yang dilakukan dalam melakukan pengamanan bukannya menutup pintu, tapi malah membuka pintu.”

Dengan pintu yang terbuka, lanjutnya, “Terjadi saling kenal dan memahami satu sama lain. Segala sesuatu yang diawali dengan mengenali diri dan orang lain akan menciptakan keamanan.”

Perlu diketahui, dan ini yang membuat Maiyah menarik untuk diteliti adalah, ilmu yang dipelajari adalah ilmu kasunyatan. Berbeda dengan metode akademik yang menggunakan pendekatan perumpamaan.

Dijelaskannya di depan hadirin, “Metode akademik menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang menggambarkan kenyataan. Sedangkan Maiyah menggunakan ilmu kasunyatan, langsung mengalami, tanpa teori apa pun, dan selanjutnya menemukan jalannya sendiri. Itulah yang dalam falsafah Jawa dikatakan: ngelmu iku kalakone kanthi laku.”

“Setiap simpul Maiyah,” lanjutnya, “mengangkat tema-tema yang berbeda, yang merupakan respons atas persoalan yang muncul di masyarakat. Dengan diskusi yang menjunjung tinggi kejujuran, terciptalah kesatuan.”

Pria yang telah berkeliling ke sejumlah simpul Maiyah ini pun mengungkap jalan sunyi Mbah Nun. “Itulah yang dilakukan Cak Nun sejak muda dulu. Bagi beliau, sekolah ibarat hanya sebuah kolam kecil. Padahal dirinya butuh lautan. Maka itu beliau terjun ke Malioboro.”

Sebagaimana judul Maiyah edisi perdana di 2019, “Bagiku Begini Bagimu Begitu”, masih kata Karim, Mbah Nun tidak bernasihat agar Jama’ah Maiyah mengikuti dirinya, “Cak Nun meminta kita untuk menjadi diri kita masing-masing. Fokus menekuni bidang yang diilhamkan Tuhan, secara totalitas, dan batasnya adalah mati.”

Setiap insan dicipta oleh Allah Swt sebagai pribadi yang unik. Dan Mbah Nun sangat menyadari hal ini dan membuktikannya dalam kehidupan. Ia adalah penulis yang tidak berguru kepada orang yang menulis, bahkan tidak bicara, Umbu Landu Paranggi. Hasilnya, ia menjadi penulis yang merdeka dan berkarakter. Karya-karya Emha Ainun Nadjib diterbitkan berulang-ulang dari masa ke masa. Karya-karya yang liar itu memuat makna dan pesan yang teramat dalam bagi pembaca yang mampu mencernanya. Karya-karyanya adalah cermin pribadinya. “Yang terbaru adalah pementasan Sengkuni 2019 kemarin. Kalau kita cermati, sosok itu adalah diri beliau sendiri, ” ujar Karim.

Dalam Maiyah, kejujuran merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi. Meneladani Rasulullah Saw yang kejujurannya diakui siapa pun, bahkan musuh pun, dalam Maiyahan, orang Maiyah dilatih untuk berpikir jernih, bersikap jujur. Proses Maiyah adalah proses bercermin untuk mengenal diri sendiri. “Kalau cermin fisik adalah kaca, cermin pribadi adalah orang lain. Seseorang tidak akan mampu mengenali dirinya sendiri tanpa dibantu orang lain,” terang Karim.

Lebih lanjut, setelah sekian waktu meneliti, kandidat Doktor ini menemukan ada lima teori resolusi konflik yang dipraktikkan dalam Maiyah.

Pertama, untuk menyelesaikan suatu persoalan, yang mesti diketahui terlebih dahulu adalah hal yang sudah disepakati menjadi indikator. Karim mencontohkan, guna mengetahui arah hadap sebuah rumah, harus ada sesuatu yang disepakati sebagai indikator muka, misalnya pintu utama. Bila sudah terjadi kesepakatan umum bahwa yang dimaksud muka rumah adalah yang ada pintu utamanya, baru bisa diketahui arah hadapnya.

Yang kedua adalah indikator fungsi. Sesuatu bisa disebut dengan nama tertentu ditilik dari fungsinya. Bila sudah terjadi kesepakatan umum bahwa misalnya, benda yang berfungsi sebagai alat minum yang bentuknya seperti gelas tapi lebih rendah dan ada pegangannya dinamakan cangkir, maka bila terjadi perbedaan pendapat, pihak yang menamai benda itu dengan sebutan lain, harus menerima bahwa itu namanya cangkir, dan mau ngopi bareng dengan semangat keakraban.

Ketiga adalah pendekatan pedagogik. Misalnya guna mengetahui arah hadap sebuah lokomotif yang berhenti di sebuah stasiun yang menghadap ke selatan. Karena lokomotif tersebut memiliki dua muka, akan berpotensi menimbulkan perbedaan pendapat. Yang satu bilang menghadap ke barat, yang lain bilang ke timur. Mungkin malah ada yang berargumen lain lagi. Nah, untuk mengetahui dengan tepat arah hadap lokomotif tersebut, kita perlu bertanya ke pihak stasiun sebagai institusi yang memiliki kewenangan ilmiah tentang perkeretaapian.

Nomor empat adalah indikator simbol. Simbol merupakan sesuatu yang disematkan oleh manusia kepada sesuatu hal/benda sebagai penanda atau bagian dari identitas hal/benda itu. Maka orang bisa mengenal atau mengetahui posisi hal/benda itu melalui simbolnya.

Yang terakhir dan merupakan pendekatan paling ampuh adalah tabula rasa, atau dalam falsafah Jawa, rasa (baca: roso). Rasa itu sifatnya intuitif spiritualistik. Dicontohkan oleh Karim, Mbah Nun menggunakan pendekatan ini pada saat menjelang lengsernya Pak Harto. Saat para aktivis menghujani hujatan kepada Soeharto, ucap Karim, “Cak Nun datang menemani. Sehingga Pak Harto bisa legowo, tidak melampiaskan amarah dengan mengerahkan kekuatan militer yang dikuasainya untuk menghabisi para aktivis itu.”

Dibumbui oleh, Yuli Ardhika, Indra Agusta, Pakdhe Herman, dan teman-teman lainnya, oleh-oleh yang bisa dibawa pulang dari “Bagiku Begini Bagimu Begitu” adalah bahwa masing-masing kita harus belajar mengenali diri sendiri dan orang lain, tetap menjadi diri sendiri dan menekuni passionnya dengan totalitas, dan mengenali orang lain, memahami kesamaan dan perbedaan yang ada, serta selalu menjadi pribadi yang tulus, berpikir jernih dan bersikap jujur, sehingga tidak mudah terseret ke arena pemecahbelahan umat. Dan tentu saja, itu jauh lebih penting dan bermanfaat daripada sibuk ngurus cebong dan kampret. Wallahu a’lam. (Ibudh)

Buku Cak Nun