Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4108

Ayat-Ayat Rencana Tuhan yang Bercinta Tanpa Difirmankan

Liputan Sinau Bareng BKKBN bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng di Alun-alun Ngawi Jawa Timur, Senin 16 September 2019

Evolusi Kesadaran Pernikahan

Pada satu sisi pandang feminis yang agak ekstrem, konsep pernikahan disebut sebagai produk patriarkhis. Pelembagaan hak milik karena sifat maskulin yang selalu ingin menaklukkan, memiiki, mengklaim dan menundukkan. Karenanya, sekali lagi dari sudut pandang ini, keturunan selalu diaku dari jalur laki-laki. Padahal apa sih kerja lelaki dalam mereproduksi? Hanya menyemprotkan beberapa cairan setelah itu sudah. Sementara wanita yang kemudian mengandung berbulan-bulan, melahirkan di gerbang kematian dan kehidupan. Itu bisa saja benar, tapi terlanjurnya kita mengenal lembaga pernikahan sama seperti kita terlanjur mengenal konsep negara. Kita hidup di masa terlanjur-terlanjur memang.

Dolanan dengan mengenalkan triple wirid “laa ilaaha illallah”, “laa robba illallah” serta “laa malika illallah” dilakukan dengan dibimbing oleh Mas Doni dan Mas Jijid. Wiridan ini mengajak kita mengenal Allah sebagai Ilah yang tak terdefinisikan, sebagai Malik yang maskulin menundukkan dan sebagai Rabb yang feminin, merawat dan mengayomi. Di tengah dolanan itu Mbah Nun sempat menyampaikan “Keluarga yang ideal adalah yang tidak menggunakan kekuasaan dan kekuatan tapi mengedepankan kasih sayang”. Bagi saya ini adalah pendidikan gender terbaik. Bahwa berkeluarga adalah memanifestasikan cinta kasih, ber-thoriqot untuk kembali kepada-Nya.

Sex Education Sinau Bareng, Perombakan Manusia Istana Gender

Pemahaman gender kita masih sering bermasalah. Konsep perempuan melayani laki-laki, walau tidak selalu buruk, tapi selalu melahirkan istana-istana kuasa laki-laki atas perempuan. Seolah kepuasan laki-laki harus selalu dikedepankan sementara perempuan harus terus mengalah, mengabaikan dirinya. Praktik marital-rape terhitung tinggi, perkosaan dalam rumah tangga, pemaksaan untuk berhubungan seks ketika perempuan tidak siap. Walau dalam pernikahan itu tetaplah perkosaan. Dan legitimasi dari kitab-kitab agama yang kebanyakan diproduksi oleh lelaki juga, yang justru mengatur-atur hubungan suami-istri tidak selalu punya kesiapan untuk membongkar manusia istana gender maskulin ini. Berapa banyak kitab atau naskah kuno kita yang membahas seks, yang mau membahas wajib atau tidakkah suami memuaskan istrinya? Tidak akan lahir revolusi dari lelaki yang tidak pandai bercinta, bukan?

Untuk hal ini saya bisa cukup narsis kebudayaan, dalam kitab Assikalaibineng, semacam kitab seks bagi suku Bugis dicantumkan bahwa justru kepuasan perempuan harus didahulukan. Lelaki tidak boleh berhenti bekerja sampai istrinya merasa cukup baru dia boleh memuaskan dirinya. Sampai situ tugas lelaki juga tidak selesai karena dia harus memberikan pelukan yang menenangkan. Saya bisa bilang, kesadaran semacam ini tidak banyak dalam naskah-naskah kuno. Rasanya menyebalkan sekali setiap membaca dalil betapa seorang istri dikutuk malaikat apabila menolak suaminya berhubungan. Malaikatnya kok iseng main kutuk?

Tentu saja naskah Assikalaibineng ini juga punya hal-hal (yang saya anggap) mistis di dalamnya, seperti penentuan waktu senggama agar mendapat keturunan semacam ini-itu. Tapi malam di Ngawi, Mbah Nun menjelaskan hal yang membuat saya merasa ada rasionalnya juga kitab Bugis ini. Bahwa kondisi psikologis, kondisi alam akan berpengaruh pada kualitas produki dan reproduksi yang dihasilkan. Kesadarannya ternyata seperti Kamaratih dan Kamanjaya dalam pewayangan, bahwa yang bercinta bukan hanya lelaki dan perempuan itu tapi melibatkan seluruh unsur semesta. Romantis. Seperti malam yang indah ini.

Ayat Tersembunyi Dalam Tolok Ukur Kesehatan Yang Berubah Setiap Zaman

Dari pihak BKKBN kita juga diajak untuk mengenali kesehatan reproduksi. Hal semacam ini juga masih banyak mitos kuno. Hanya karena manusia zaman dahulu bisa melakukannya, bukan berarti sekarang juga baik seperti itu. Mbah Nun menegaskan bahwa memang yang dilakukan oleh BKKBN adalah dalam kurun ukuran kesehatan zaman sekarang. setiap zaman punya ukuran berbeda, kenapa? Karena alam materi juga berubah.

Usia ideal bagi wanita adalah 20 tahun karena pada saat itulah kondisi tubuhnya siap untuk mengalami perubahan-perubahan radikal. Bahwa pada masa lalu, Mbah-mbah kita bisa melakukannya di bawah usia tersebut itu ukuran yang sudah berubah. Kecuali kalau kita bisa merubah semua variabel di semesta ini, mungkinkah? Bisa saja, kalau anda Thanos yang sudah mengkoleksi Infinity Gauntlet. Maaf malah bahas Avengers. Padahal mengoleksi tujuh Dragon Ball saja cukup. Iya, maaf lagi.

Mbah Nun juga bercerita tentang keluarga Mbah Nun sendiri dan lima belas saudara kandung. Tapi Mbah Nun menekankan, “ini jangan dijadikan acuan”. Sekali lagi memang, manusia dan alam materi berubah. Tolok ukur masa lalu bisa saja tidak lagi berlaku. Yang abadi adalah tauhid.

Di Sinau Bareng tampaknya segalanya bisa kita bahas. Dan segalanya berasal dan kembali pada Allah sendiri. Bukankah hanya perempuan yang memiliki rahim? Lelaki butuh jadi nabi untuk mendengar suara Sang Maha Rahim tapi perempuan sudah terinstal rahim dalam tubuhnya maka dia tidak perlu jadi nabi. Kalau perempuan jadi nabi atau jadi wali itu namanya turun pangkat.

Penggalian atas ayat-ayat yang tidak difirmankan, bahwa ada sifat-sifat Allah yang tidak termaktub dalam Asma’ul Husna juga sering kita bahas dalam Sinau Bareng. ayat-ayat itu mugkin adalah rencana-rencana Sang Maha Perencana sendiri. Dan dalam Sinau Bareng kita berkasih-kasihan, bercintaan mencoba menggapai ayat-ayat itu, dalam masyarakat, alam semesta sampai pada tubuh dan kesehatan reproduksi kita. Wallahu a’lam bisshawab.

Buku dan Merchandise