Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4108

Ayat-Ayat Rencana Tuhan yang Bercinta Tanpa Difirmankan

Liputan Sinau Bareng BKKBN bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng di Alun-alun Ngawi Jawa Timur, Senin 16 September 2019

Sinau Bareng, Konseling Yang Tidak Menuhankan Konseling

Mbah Nun meminta tiga kelompok yang akan mempresentasikan hasil temuan mereka dari diskusi malam hari ini di Sinau Bareng dengan tiga kata tersebut. Tepatnya, Mbah Nun berkata “Tolong paparkan dengan sesingkat mungkin, sesubstansial mungkin dan seintim mungkin.” Tiga kata itu rasanya sangat menantang, bagaimana pertanyaan-pertanyaan mengenai tujuan berkeluarga dan apa saja hal yang selalu harus ada di keluarga dijelaskan dengan singkat? Singkat tapi substansif? Substansif tapi intim? Saya senyum-senyum sendiri di tengah Alun-Alun Ngawi, pada Sinau Bareng ke 4108 ini pada 16 September 2019 M. Ini seperti Mbah Nun sedang mendidik kita kalau kapan-kapan harus presentasi di sidang-sidang kelas internasional. Setahu saya, presentasi di wilayah semacam itu hanya diberi waktu yang sangat singkat mungkin tidak sampai 15 menit, maka ketepatan menemukan kalimat yang singkat, substantif dan meneyentuh dengan intim sangat perlu.

“Aslinya manusia tidak butuh apa-apa untuk bahagia. Begitu Anda putuskan bahagaia maka bahagaia. Tidak perlu konseling macam-macam ini-itu.” Ini kutipan yang bisa dikatakan bilhal, saya kutip secara impresi dari kalimat Mbah Nun. Saya sedang terkesan sampai lupa mencatat kata per kata. Begini, saya selalu dapat wacana dari istri saya bahwa Sinau Bareng ini semacam konseling psikologi. Tapi apakah kalimat Mbah Nun itu membuat praktik konseling terasa mentah? Rasanya tidak, karena sebenarnya konseling yang tepat adalah konseling yang berani memutus ketergantungan individu pada konselor. Tujuan akhir dari konseling psikologi adalah kesembuhan, kepulihan dan kebahagiaan yang datang dari dalam diri individu itu sendiri bukan dari faktor eksternal lagi.

Tapi pada praktiknya tidak jarang memang, ada kenikmatan dari rasa dibutuhkan sehingga orang diyakinkan untuk harus selalu konseling. Maka kita perlu waspada yang presisi di sini. Ada hal-hal di dunia ini, yang dia perlu berjuang agar dirinya tidak perlu ada. Komisi Pemberantasan Korupsi sebaiknya bekerja agar dia tidak perlu ada, ketika kelak sudah tidak ada korupsi dan bahkan orang tidak tau apa itu korupsi (bukan karena dilemahkan atau dihancurkan seperti sekarang). Iya itu utopis, tapi utopia juga perlu sesekali. Saya sedikit teringat pernah menonton wawancara Dalai Lama. Beliau yang diyakini oleh ummat Buddis Tibet sebagai kelahiran Sang Suci ditanya, apakah kelak setelah beliau mati masih akan terlahir kembali dan Dalai Lama tersenyum sambil mengatakan itu semua tergantung apakah dunia masih membutuhkannya. Kalau dunia tidak membutuhkan untuk apa terlahir? Saya bukan penganut Buddhism tapi saya senang sekali jawaban itu. Itu jawaban dari orang yang sudah selesai dengan capaian atau pengakuan. Bahwa ada sudut pandang lain dari sisi geopolitik internasional Tiongkok vs US-Tibet, ya itu lain kali saja kita bahas. Politik ya begitu-begitu saja.

Thoriqot dan Tujuan Berkeluarga

Seorang peserta diskusi di panggung mengatakan bahwa tujuan berkeluarga adalah untuk memiliki keturunan. Saya sempat berpikir, masa sih? Saya belum berketurunan dan jujur saja belakangan makin menikmati ini. Tapi mungkin mengatakan hal serupa pada orang lain bisa mengakibatkan hal yang kurang enak, terutama pada masyarakat kita. Soal keturunan ini lebih banyak dituntut pada perempuan, tapi ketika bayi lahir yang dapat kebanggaan justru lelaki. Hal semacam ini agak perlu kebijaksaanan sendiri untuk dibahas dengan bahasa yang pas agar tidak terdengar menuntut.

Untung kemudian alasan keduanya sangat baik, berkeluarga menurut Mas ini adalah untuk mengikuti tradisi sunnah Rasulullah SAW. Itu bisa saya terima. Sebab kalau ukurannya adalah untuk punya keturunan, itu berarti saya dan istri termasuk yang gagal? Walau gagal juga tidak apa dengan standard masyarakat komunal yang konsentrasi hidupnya adalah berkembang-biak sebanyak mungkin ini. Di sinilah, pada konteks masyarakat komunal inilah mungkin BKKBN memiliki tantangan yang besar dan itulah kenapa mereka membutuhkan mekanisme Sinau Bareng. Karena di Sinau Bareng kita mendengar dari berbagai suara yang berbeda, kita jadi paham apa yang perlu dibenahi.

“Yang paling urgen bagi seluruh bangsa ini dari presiden sampai tukang becak adalah sinau,” ucap Mbah Nun. Dan memang, kita rasanya masih perlu lebih banyak mengurai satu demi satu permasalahan. Persoalan kekeluargaan, perencanaan rumah tangga, pendidikan seksual serta kesehatan reproduksi masih sering bercampur mitos-mitos yang berbahaya atas nama kesakralan leluhur dan tradisi. Leluhur kita mulia tapi kan mungkin ada salah-salahnya juga. Biasa, manusia.

Rencana Tuhan dan Kejutan-Kejutan-Nya

Suasana malam ini menyenangkan, bulan hampir penuh di atas langit Ngawi dan tampak lingkaran berpendar di sekelilingnya. Saya sempat mampir ke Pojok Ilmu dan melihat Mas Wahid melayani penjual bersama seorang Mbak yang saya tidak tahu namanya. Mas Galih mengajak gabung ke lingkaran kecil di sebelah sana, tapi saya sungkan. Saya tidak pandai bergaul sepertinya. Saya lanjut jalan-jalan. Alun-alun Merdeka Ngawi sudah penuh oleh manusia yang hadir. Ada yang bahkan mengajak serombongan mungkin keluarganya mendirikan tenda di tengah jamaah. Apakah ini biasa dalam tradisi pengajian? Saya kurang tahu. Tapi yang menyenangkan di Sinau Bareng memang adalah kejutan-kejutan kecil semacam ini, hal-hal tidak terduga yang mengasyikkan. Maiyah tidak pernah berhenti memberi kejutan, penuh kemungkinan bukan sekadar kepastian. Cuma kalau membuat tenda semacam ini dilakukan oleh seratusan orang saja di Sinau Bareng, mungkin akan terjadi kerepotan sendiri.

Kenapa banyak kejutan? Mungkin karena di sini orang sangat setia pada rencana Allah. Mereka belajar menggali apa yang Allah agendakan dan rencanakan atas diri mereka sendiri. “Kalau Terencana Semua Lebih Mudah,” tajuk acara malam hari ini dan ini dielaborasi oleh Mbah Nun bahwa sebelum kita semua berrencana, Allah punya rencana-Nya sendiri yang kita masih berusaha mencoba cari tahu. Dari situ Mbah Nun memberikan perspektif baru, bahwa sifat Rahmat Allah adalah diberikan bagi semua makhluk terlepas dari kebaikan maupun keburukan yang dilakukannya. Tapi barokah adalah hanya bagi mereka yang bersetia pada jalur rencana Allah. Dan yakinlah, rencana tuhan selalu penuh kejutan.

Buku Cak Nun