Atarètan

Mukadimah Damarate Februari 2019

Perreng gala, gala perreng
Oreng bala, bala oreng
-Pepatah Madura-

ATARETAN merupakan bahasa Madura yang berarti “bersaudara”. Definisi dari kata “ataretan” ini bisa dipakai dalam hal cinta, kasih sayang, solidaritas, soliditas, militansi, dedikasi. Ada dua kemudian bagaimana “ataretan” itu tumbuh. Pertama ialah sistem kekeluargaan dan kedua sistem relasi sosial, persahabatan misalnya.

Orang-orang Madura sangat kuat persaudaraannya. Bahkan saking eratnya, teman dan saudara sendiri sudah tidak ada bedanya. Orang-orang Madura suka berkumpul satu sama lain dari golongannya sendiri entah lewat media apa saja. Hal ini menjadi bukti jika mereka memang sangat kompak, tak hanya di tanah sendiri, di rantauan juga bisa melihatnya sendiri betapa mereka memang saling mendukung satu sama lain.Ungkapan “perreng gala, gala perreng; oreng bala, bala oreng” di atas rasanya sangat kompleks menggambarkan bagaimana orang Madura sangat menjaga betul nila-nilai “ataretan”.

Salah satu sampel yang bisa kita ambil adalah sikap gotong royong masyarakat Madura dalam bertetangga yang sangat erat hingga kini. Walaupun, sejatinya, kita tidak akan bisa memungkiri bahwa zaman ini telah memasuki wilayah hidup sendiri-sendiri dalam segala aspeknya. Seperti dalam lirik lagu ”Mon ikhlassa nolonge tatangga, lakar ta’ mennang ka reng Madura.

Soren Kierkagaard mengatakan bahwa, hidup manusia mempunyai tiga taraf, yaitu: estetis, etis dan religius. Dari sudud estetis manusia Madura masa lampau telah mengungkapkan dirinya dengan aneka ragam bentuk kesenian, sastra, musik, tari, ukir dan lain-lainnya dengan mutu yang baik. Dari sudut kehidupan etis, orang Madura selalu menjaga harga diri, giat bekerja, jujur, reseptif terhadap nilai-nilai positif dari luar, tegas dalam membela kebenaran, hormat kepada orang lain (andap asor) dan solidaritasnya tinggi. Sedangkan dari sudut religius, manusia Madura adalah pecinta agama. Ketiga aspek itu menunjukkan sikap hidup yang menuju kemuliaan.

Orang Madura, baik yang tinggal di pulau Madura maupun yang ada di perantauan seyogyanya tidak meninggalkan nilai-nilai untuk menjamin hidup rukun dan damai. Khusus bagi orang Madura yang ada di rantau, ada nasehat dari orang tua-tua: oreng andhi’ tatakrama reya padha bi’ pesse Singgapur ekabalanja’a e dhimma bai paju (Orang punya budi pekerti baik itu seperti dollar Singapura, akan dibelanjakan di mana saja laku). Karena itu setiap orang Madura seyogyanya tetap mengutamakan budi luhur untuk menjalin persaudaraan dan persahabatan dengan siapa saja dan dengan etnik mana saja.

Akhirnya, marilah kita terus berpikir dan bekerja. Berpikir, membaca, menulis, berdiskusi dan berseminar. Tapi tidak cukup itu saja. Manusia Madura harus bekerja, terlibat dan turun tangan untuk menjaga nilai-nilai tradisi luhur yang selama ini sudah terjaga sedemikian kokoh, sataretanan. Salam… (Maniro AF)

Buku Cak Nun