Aslinya Kita Tak Mampu Ber-Idul Fitri

Catatan Syawalan Keluarga Besar UNY, 10 Juni 2019

“Kita sedang terjebak pada (pola pikir) fakultatif-fakultatif, karena kita tidak berdiri di (sudut pandang) cakrawala” dan dengan kalimat tersebut yang dimaksud Mbah Nun adalah kesmpitan-kesempitan berpikir yang menjebak manusia terutama manusia negeri ini belakangan pada perkubuan, klasifikasi kelompk yang beku, bahkan pilihan-pilihan politik yang sama semunya.

Keluasan dan kelengkapan pandang serta selalu berusaha menjangkepkan logika, menajamkan rasa adalah syarat mutlak dalam terbangunnya kebersamaan. Kebersamaan itu untuk menyambung silaturrahim. Di situlah letak relevansinya kampus Universitas Negeri Yogyakarta yang sedang mengadakan halal bihalal di antara seluruh karyawan dan civitasnya. Mengundang Mbah Nun pada hari Senin tangga 10 Juni 2019 M ini memang oleh pihak kampus sebagai penyelenggara dipilih tema “Merajut Silaturrahim Untuk Memperkuat Persatuan Menuju UNY Unggul”.

Ini kampus yang entah bagaimana, selalu dikesankan sebagai kampus yang sangat rapi dalam formalitas. Acara hari ini juga sangat terasa disiplin formalnya, dibuka dengan sepasang MC yang berbahasa Indonesia yang baku dan benar. MC mempersilahkan qori` dengan kalimat, “Sebagai pembuka hati, marilah kita bersama-sama menyimak lantunan ayat suci Al-Qur`an…”. Kata-kata “Membuka Hati” tampaknya sangat mengena, kita perlu membuka hati kepada sesama untuk merajut silaturrahim yang belakangan ini sangat banyak koyak. Qori` pun melantunkan surah Ali-‘Imran ayat 133.

Acara kemudian berlanjut dengan sambutan oleh Pak Rektor sebagai shahibul bait wal shahibul hajat. Ternyata Pak Rektor justru sosok yang sangat dinamis, sambutannya terasa sangat santun tapi cair. Memberi sambutan memang skill sendiri, tidak semua orang yang punya posisi sosial bisa melakukannya dengan tepat guna. Kebanyakan jadinya sekedar formalitas, banyak juga yang hanya jadi basa-basi yang kepanjangan tanpa esensi. Tapi sambutan semacam ini perlu untuk memberi lambaran, beber kloso konteks acara sehingga pengisi acara selanjutnya termudahkan. Dan Pak rektor dengan sangat baik, memenuhi kriteria sambutan yang ideal.

Posisi UNY dibabarkan, kondisi terkini serta visi ke depan. UNY sebagaimana kampus lain mesti berada pada atmosfer yang mengompetisikan satu institusi dengan institusi lain, namun menurut Pak Rektor UNY ingin unggul tanpa mengunggul-ungguli. Karena apabila sudah terjebak dalam pola pikir menang-kalah maka silaturrahim akan terancam. Dan itulah kenapa UNY kali ini mengundang Mbah Nun. Juga untuk menghibur hadirin ditampilkan juga dua orang biduan dari mahasiswi UNY sendiri yang sangat santun melantun-lantunkan nada.

Pada kelanjutannya dipersilahkanlah Mbah Nun ke atas panggung ditemani oleh Prof. Suminto A. Sayuti yang merupakan kawan lama Mbah Nun dan sangat lekat dalam ingatan beliau mengenai karya-karya Mbah Nun sejak tahun 1970-an. Beberapa kali dalam penyampaiannya Prof. Sayuti mengutip puisi-puisi Mbah Nun, lengkap dengan informasi judulnya, tahun beredar serta termaktub dalam buku atu media apa. Sampai-sampai Mbah Nun sempat memberi komentar, “Saya bahkan sudah lupa puisi-puisi yang masih diingat oleh Sayuti, untuk itu saya harus berterima kasih.”

Mengawali pembahasan, Mbah Nun melambari dengan cerita Perang Badar untuk kita diajak mengerti asal-muasal istilah demi istilah yang biasa kita dengar. Kalimat “minal a’idin wal fa`idzin” misalnya, kita dajak untuk memahami konteks awalnya. Kalimat ini tidak begitu ada hubungannya dengan Idul Fitri itu sendiri karena ini adalah kalimat yang diambil dari ucapan setelah Perang Badar selesai. “Ada istilah yang dari Allah dan Rasul sendiri dan ada yang berasal dari elaborasi keilmuan setelahnya” dan itu juga tidak apa-apa, itu yang namanya bid’ah.

“Bid’ah dari kata badi’ artinya membuat sesuatu yang baru. Allah sendiri adalah Al-Badi’,” Mbah Nun mengungkapkan, selama ini banyak dari kita salah memahami istilah bid’ah. Tidak melulu soal ibadah mahdlah, yang Mbah Nun berikan sebagai sampel misalnya dari cabe diulek dan dicampur berbagai macam bahan untuk jadi sambal itu adalah bid’ah sendiri, membuat sesuatu yang baru. Artinya dalam mengolah kehidupan keseharian, kita justru harus kreatif mem-bid’ah-i, membuat sesuatu yang baru, mengelola, memproduksi dan mereproduksi. Yang tidak boleh membuat sesuatu yang baru itu hanya dalam wilayah ibadah mahdlah, itu pun kita tidak akan semena-mena memberi cap bid’ah dan kafir apabila orang tertentu punya penafsiran sendiri yang berbeda dari kita.

“Kalau memang kita anti bid’ah ya cabe juga jangan diapa-apain langsung dikremus saja. Biar total ndak bid’ahnya,” canda Mbah Nun disambut tawa menggema oleh para hadirin yang memenuhi gedung auditorium. Banyak dari kita kurang terbiasa membid’ahkan, sehingga apa-apa hanya langsung comot. Bahkan terhadap kitab-kitab masa lampau yang bukan kitab suci pun kita keramatkan sedemikan rupa tanpa kontinuasi capaian keilmuan, bukankah itulah dulu kenapa ahli kitab ditegur?

Sedikit demi sedikit bahasan menjadi semakin dalam. Kisah Perang Badar masih dijadikan lambaran oleh Mbah Nun dan ini bukan untuk memberikan semangat perang karena kita tidak sedang dalam perang. Mbah Nun justru mengambil sisi pandang yang sangat romantis dari perang dahsyat tersebut. Sisi ini adalah sisi kecerdasan komunikasi Baginda Rasul Muhammad Saw. Mbah Nun mengkisahkan, bagaimana perbedaan sistem komunikasi Rasulullah pada para prajurit Badar yang aslinya bukan prajurit betulan juga, yakni dengan menggunakan term “innama tunshoruna wa turhamuna wa turzaquna bidlu’afaikum” yang intinya Rasul memberi keyakinan menggebu-gebu, janji akan kemenangan atas dasar niat membela yang dilemahkan.

Tapi kondisi riilnya sebenarnya tidak memungkinkan untuk menang maka satu pola komunikasi yang mesra juga dibangun kepada Allah. Rosul berdo’a “in lam takun ‘alayya ghadlabun falaa `ubaali.” Rasul memberi kepasrahan seutuh dan sepenuh-penuh pada kehendak Yang Maha Berkehendak.

Dua sisi ini Mbah Nun sampaikan, tidak bisa ditukar. Semua ada konteksnya. Pada sisi ini bisa dikatakan Rasul seperti sedang memfetakompli Gusti Allah. Maka ajakan Mbah Nun seperti juga yang diajak kepada kita bertahun-tahun di berbagai majelis Maiyah adalah mari bermesra-mesraan kepada Gusti Allah. “Kalau anda kepepet, sesekali anda juga bisa memfetakompli Gusti Allah. Tentu dengan adab, akhlaq yang tepat,” ungkap Mbah Nun. Seperti juga ada sambutan dan pembukaan, itu adalah adab. Bukan keharusan tapi kelumrahan. Jangan terlalu kaku tapi tentu sebagai manusia pasti bisa menakar batasan sendiri.

“Hidup kan tidak selalu formalitas-rasional,” tambah Mbah Nun. Logically thinking, aslinya Gusti Allah lebih banyak mesra dan basa-basi kepada manusia. “Aslinya apakah kita ini pantas ber-Idul fitri?” tanya Mbah Nun. Hadirin terdiam, bahasan memang makin dalam secara perenungan. Tapi Allah tidak keberatan kita meraya-rayakannya, padahal apa sesungguhnya yang kita rayakan toh menurut Mbah Nun kalau sekadar tidak makan dari fajar hingga maghrib itu bukan capaian, itu bahkan hewan juga bisa melakukannya. Itu pun kita ini puasanya juga tidak betul-betul menahan diri, sering terjadi malah pengeluaran makan pada bulan puasa malah lebih tinggi daripada hari biasa. Maka pertanyaan “Apakah kita ini pantas ber-Idul fitri” benar-benar sangat mengusik tradisi kita yang omong kosong. Tapi Allah Maha Luas. Keterbatasan kita dipahami, dimaklumi. Allah Maha Luas, kita manusia perlu belajar meluas.

Balakangan ini menurut Mbah Nun yang terjadi adalah manusia kehilangan sudut pandang keluasan dan keutuhan. Bahkan bicara politik hanya kubu fakultas Jokowi dan fakultas Prabowo. Sama-sama terkotakkan dalam kelompok, mendapat legitimasi dari komando wacananya sendiri, merasa benar kubunya dan parahnya lagi merasa selain dirinya adalah ancaman. Kita tidak pernah belajar untuk berdiri di cakrawala keluasan, melainkan nyaman di kubu-kubu kesempitan.

“Kita tidak mampu Idul Fitri aslinya. Karena dia pencapaian. Kalau Idul Adlha itu perjuangannya,” ujar Mbah Nun. Bila kita berpikir secara logis, secara terbatasnya rasio manusia, kita bisa paham betapa banyaknya pemakluman Allah terhadap kita. Kenapa kita sering tidak bisa memaklumi hal-hal kecil dalam hidup? Sering usil dan seolah perlu membenar-benarkan segala hal? Apa yang kita capai pada peradaban ini sebenarnya?

Yang dilakukan oleh Mbah Nun tampaknya justru adalah contoh mengenai keluasan itu sendiri. Walau bisa dilihat sebagai counter wacana dari berbagai tafsir yang sedang beku-bekunya tapi justru bukan itu hal yang utama. Ternyata ini juga adalah bentuk kasih sayang kepada kesempitan-kesempitan dan kedangkalan pikiran yang sedang banyak beredar. Tetapkan dulu, saat kita bicara kesempitan dan kedangkalan, mari kita lebih dulu ingat diri kita daripada orang lain.

“Sejak adanya globalisme manusia berada pada interkonektivitas. Dan sudah hampir mustahil bagi kita untuk tahu presisi dengan benar segalanya, misal Anda beli jilbab kan Anda sudah tidak mungkin menelusuri bahan dasarnya, pemilik modalnya siapa saja dan sebagainya.” Dari kalimat tersebut kita bisa menangkap pesan bahwa kita kalau terjebak pada kesempitan akan terlalu capek dan lelah. Dan pikiran kita akan justru kurang produktif saat menghadapi persoalan-persoalan konkret dan riil yang justru butuh lebih banyak presisi dan ketelitian. Maka belajar keluasan adalah juga untuk mengetuk pintu hati manusia, mengistirahatkan pikirannya dari frustasi dan beban hidup yang sebenarnya adalah pilihan untuk diemban atau diletakkan. Coba diletakkan dulu siapa tahu tidak begitu penting, dan siapa tahu ada yang lebih penting untuk kita sanggah bersama. Mungkin begitu.

Mbah Nun juga sedikit membercandai, “UNY mengundang saya ini ya kesalahan besar. Lha saya ini siapa? Bukan siapa-siapa. Kiai bukan, ulama bukan, ustadz bukan, akademisi bukan. Semuanya bukan.” Malah tampaknya Pak Rektor paling keras tertawanya mendengar hal ini selain juga kemesraan tawa bergemuruh seisi gedung. Tapi Prof Sayuti saat menutup acara menegaskan dengan sedikit serius. “Kalimat ini sudah diucapkan oleh Cak Nun sejak tahun 1976” dan Prof. Sayuti mengutip kembali puisi yang termaktub kalimat “Aku bukan Emha, aku bukan siapa-siapa”.

Ternyata menjelang matahari tegak di atas kepala, namun adzan dzuhur belum juga berkumandang acara telah dirampungkan. Prof. Sayuti memutuskan untuk sesi tanya jawab ditiadakan karena tampaknya selain jiwa yang menjadi luas, perut pun telah kosong. Sementara di luar gedung sajian kambing guling dan berbagai bid’ah kuliner lainnya perlu dituntaskan urusannya.

Buku Cak Nun