Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4114

Arek-Arek Malang Asrikaton Sinau Bareng

Liputan Singkat Sinau Bareng di Lapangan Desa Asrikaton, Pakis, Malang, Kamis, 26 September 2019

Titik ke-4114 Sinau Bareng berlangsung tadi malam di lapangan desa Asrikaton Pakis kabupaten Malang dan diselenggarakan oleh komunitas Pemuda Jagongan Asrikaton. Seperti di banyak tempat lain, kehadiran Mbah Nun penuh makna terutama bagi teman-teman muda panitia dan jamaah Maiyah di Malang.

Baru saja sejenak duduk lesehan di atas karpet di rumah transit yang berjarak 20 meter dari lapangan, botol-botol air mineral segera mengalir ke depan Mbah Nun. Tidak tua tidak muda semua pada minta doa kepada Mbah Nun. Bahkan terlihat Pak Kapolsek juga minta air suwuk. Demikian pula rekan-rekan Banser. Buat teman-teman panitia, Mbah Nun adalah orangtua yang hadir dan keberadaannya di tengah mereka sungguh berarti.

Ketika tiba di panggung bersama para bapak-bapak narasumber, dan beliau berdiri dan tampak oleh mata semua hadirin dan jamaah yang memadati lapangan, chemistry terasa otomatis langsung terbentuk. Kehadiran Mbah Nun telah mereka nanti. Tidak ada jarak sedikit pun antara Mbah Nun dengan mereka, terutama para generasi muda kera ngalam ini. Mbah Nun menjelma seorang ayah yang dekat di hati mereka.

Sebuah kekosongan di dalam jiwa-jiwa telah terisi oleh kehadiran Mbah Nun, dan sampai beberapa jam ke depan jiwa-jiwa itu akan disentuh dan dipijit oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng dengan serangkaian ilmu, kegembiraan, dan jalinan kedekatan antar hati manusia. Sangat pas ketika di panggung itu Mbah Nun minta salah seorang untuk maju memimpin yel Salam Satu Jiwa Arema. Novia Ayu gadis berjilbab yang duduk tepat di depan panggung segera lompat naik dan dengan cantas memimpin yel Salam Satu Jiwa itu.

Di panggung pula Pak Lurah, Pak Camat, Pak Kapolsek, Pak Danramil, Pak Kiai ketua NU Pakis, perwakilan panitia, dan tokoh masyarakat lain bukan hanya menemani Mbah Nun, namun ikut menyaksikan bagaimana Mbah Nun mengayomi dan menyayangi semua anak-cucunya para generasi muda itu. Beliau-beliau juga mendapat kesempatan di awal untuk menyampaikan apa yang diinginkan dengan Sinau Bareng ini. Satu dapat disebut di sini. Pak Ketua RW mengatakan bahwa dengan Sinau Bareng ini beliau mengajak semua warga untuk rukun dan bersatu. Tema yang diangkat oleh teman-teman penyelenggara sendiri adalah Mimpin Awak Dewe Supoyo Legowo.

Mengembangkan Kesadaran Syahadat

Salah satu ilmu yang disemaikan Mbah Nun adalah perlunya mengembangkan kesadaran syahadat. Benih pengembangan ini sudah ditanam sejak beberapa Sinau Bareng sebelumnya tepatnya saat Sinau Bareng di RS Sakina Idaman Yogyakarta. Saat itu Mbah Nun memperkenalkan komposisi la robba illallah, la malika illallah, dan la ilaha illallah yang diangkat dari surat an-Naas. Core utama ilmunya adalah tentang prinsip kepemimpinan.

Lewat kelompok yang dibentuk dalam setiap Sinau Bareng, wirid dan ilmu pengayoman ini ditanamkan kepada para jamaah. Tak terkecuali tadi malam di lapangan Asrikaton. Hanya saja, pada Sinau Bareng tadi malam Mbah Nun mulai mengembangkan lagi. Para jamaah diajak menyusun dari wirid tadi menjadi dalam bentuk kalimat syahadat: asyhadu alla robba illlah asyhadu alla malika illallah asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.

Buku Cak Nun