Amar Maiyah dan Lima Pilar Jalan Kenabian

Tulisan ini saya buat untuk mengamini doa teman-teman yang melingkar dalam Majelis Amar Maiyah. Simpul Maiyah yang tersebar di berbagai kota dan daerah membaca Doa Tahlukah dan Hizb Nashr mulai akhir bulan April hingga awal bulan Mei 2019.

Adakah situasi yang mendesak bahkan genting sehingga mereka mengambil waktu khusus untuk berdoa bersama? Apakah Amar Maiyah terkait dengan situasi eker-ekeran hasil Pemilu 2019? Tidak perlu didramatisir atau diseram-seramkan. Indonesia akan baik-baik saja dan semoga baik-baik saja. Minimal, kita semua semakin kebal oleh pengkhianatan, kecewa, kecelek: harapan dan cita-cita yang belum atau tidak tercapai adalah makanan sehari-hari.

Amar Maiyah bisa dihubungkan dengan situasi aktual saat ini, yang bersentuhan langsung dengan nasib masa depan kita, baik sebagai individu, keluarga, anggota masyarakat dan penduduk suatu bangsa. Masyarakat Maiyah menunaikan Amar Maiyah karena didorong oleh rasa welas kepada sesama, sebagai sesama madhlum, seraya mewaspadai potensi dholim pada diri, lingkaran atau kelompok masing-masing. Dibahan-bakari oleh sikap keyakinan bahwa Pihak yang sanggup menyelenggarakan perubahan adalah Tuhan sendiri.

Yang kita upayakan hingga hari ini adalah conditioning: yughoyyiruu maa bi anfusihim. Setor kebaikan demi kebaikan semoga Tuhan tidak tega dengan nasib umat kekasih Muhammad Saw.

Maka, Doa Tahlukah “bekerja” ke dalam dan keluar. Ia tidak hanya memohon “kutukan” agar para dhalim, pencoleng, pencuri, manipulator, pengadu domba, tukang serakah, penelikung suara rakyat dipercepat kehancuran mereka. Itu doa juga bekerja ke dalam: men-tahlukah sisi gelap perilaku kita sendiri sebagai bagian dari kaum yang Allah enggan merubah nasib mereka: laa yughoyyiru bi qoumin.

Demikian pula getaran Hizb Nashr yang dahsyat–selain pasti bekerja keluar, ia juga merasuk ke dalam. Tidak terutama untuk mengusir musuh atau menghancurkannya, lalu ganti kita yang berkuasa dengan kecurangan yang sama. Tidak kita usir para pencuri agar kita bisa ganti mencuri. Tidak kita binasakan para penindas supaya kita bisa leluasa menindas. Tidak kita kubur tukang serakah demi melampiaskan nafsu keserakahan.

Kita mewaspadai itu semua karena an taj’ala makra man makara binaa ‘aaidan ‘alaih tidak bergerak secara linier. Ia bisa berputar lalu menghantam kita. Demikian pula kewaspadaan terhadap wa hufrata man hafara lanaa waaqi’an fiihaa–tiba-tiba kita jumpai kita sendiri yang terpelosok ke dalam lubang itu.

Atas semua kizruh, ruwet, eyel-eyelan, dialektika penindasan dhalim-madhzlum, dalam konteks polarisasi Pilpres yang semakin mengkristal-batu maupun pertarungan perebutan kekuasaan di tingkat RT/RW, Masyarakat Maiyah berposisi sebagai “pasukan perang” yang menyeberangi sungai sambil menahan diri tidak minum airnya sampai klempoken. Melainkan, cukup mencicipinya, sekadar membasahi tenggorokan.

Masyarakat Maiyah memohon kepada Allah agar menurunkan ketetapan tindakan nyata kepada Kaum Dhalimun dan menyelamatkan para Madhlumin. Siapapun pelaku kedhaliman itu, demikian saran Mbah Nun.

Jelas sudah, Masyarakat Maiyah tegak (i’tidal) di tengah peta keadaan yang terbelah oleh arus kepentingan dan hasrat berkuasa yang membabi buta. Tidak menjadi bagian dari praktik tipu daya royokan balung.

Dan hal itu tidak berarti kita diam, cuek, apalagi berpangku tangan. Masyarakat Maiyah siap tandang, menjawab keadaan, “menyeberangi sungai”–seraya menjaga lima pilar jalan kenabian, sebagaimana diungkapkan Syekh Nursamad Kamba, yakni: independen (berdaulat), menyucikan jiwa, bijaksana, jujur, dan cinta kasih.

Jagalan, 28 April 2019

Buku Cak Nun