Alumni Perantau Membangun Paseduluran di Kampung Halaman

Catatan Sinau Bareng di Dusun Pejalaran Kendaldoyong Pemalang, 12 Juni 2019

Dalam disiplin Sosiologi merantau merupakan salah satu fenomena sosial budaya dan ekonomi yang dulu mendapat perhatian oleh para sosiolog di Indonesia. Di situ dipahami bahwa merantau adalah pergerakan di mana orang-orang meninggalkan desa atau kampung halaman menuju suatu kota, biasanya kota-kota besar tempat di mana pusaran uang banyak berpusat, untuk mencari mata pencaharian. Baik dengan usaha dagang maupun sebagai pekerja.

Titik tekan rantau ada pada kenyataan bahwa mereka tidak menetap selamanya di tempat rantau itu. Pada waktunya, mereka akan kembali ke kampungnya. Selama masa rantau itulah dia menabung, dan hasil nabungnya digunakan untuk membangun sesuatu di kampung halamannya, entah rumah, atau membiayai hidup keluarga mereka.

Meninggalkan tanah kelahiran untuk mencari penghidupan melalui arus urbanisasi tentu menyisakan rasa rindu kepada kampung halaman itu tempat masa kecil kecil mereka terbentuk. Maka dalam hal ini mudik sangat berarti bagi mereka. Itu pun tak semua bisa pulang setahun sekali, terutama bagi mereka yang bekerja di tempat-tempat yang teramat jauh semisal di lain pulau, atau di luar negeri.

Sementara bagi para perantau yang telah kembali ke desanya, mereka akan punya kesempatan lebih banyak untuk berkiprah di dalam kehidupan sosial di situ. Dan merupakan suatu gagasan yang baik dan bernilai manakala mereka mewujudkan rasa rindu itu, rindu kepada nilai-nilai keguyuban, kerukunan, dan paseduluran melalui Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Itulah yang terjadi tadi malam di Dusun Pejalaran, Kendaldoyong, Pemalang, Jawa Tengah. Yang menyelenggarakan adalah alumni Ikatan Pemuda Perantau Pejalaran Timur (IP3T) atau yang lebih dikenal IPET dan yang sudah 12 tahun berdiri ini. Tema yang diusung adalah Nyambung Paseduluran.

Sangat baik dirasakan tentunya, dan itu tampak dari animo dan antusiasme para masyarakat yang menghadiri Sinau Bareng ini. Membludak, ramai, dan bahkan sebagian berusaha “mencuri” tempat di belakang panggung berjejal di bawah backdrop panggung KiaiKanjeng. Orang merantau tak selalu berkonsentrasi membangun hal-hal yang sifatnya material seperti rumah atau gedung atau membeli alat-alat kehidupan modern, meski hal ini juga penting sebagai sarana kehidupan, namun membangun relasi-relasi sosial, spiritual, dan kultural kiranya tak kalah pentingnya. Ini sekaligus menjadi per yang menawar gilasan laju pembangunan dan industrialisasi agar masyarakat tetap hidup dalam keseimbangan.

Lewat Sinau Bareng itu, nilai-nilai kehidupan yang lebih luas, ilmu, kebaikan, keindahan, kegembiraan, dan ragam metode kehidupan mereka dapatkan sebagai contoh dan inspirasi. Terkhusus topik paseduluran dan kerukunan mereka dalami melalui workshop yang dipandu Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Di antara hamparan jamaah dan masyarakat yang hadir itu, terdapat seseorang yang entah duduk di sebelah mana, yang asli daerah situ juga, yang dulu pernah merantau di Jogja. Tetapi bukan dalam rangka mencari nafkah, meski sempat nyambi jualan, namun untuk menimba ilmu di sebuah pondok pesantren dan kuliah di salah satu kampus.

Selama di Jogja itulah dia juga bagian dari jamaah Mocopat Syafaat. Setelah kembali ke kampungnya di Pemalang, dia mengabdikan hidupnya di tempat itu. Dia punya kerinduan tersendiri, yaitu kerinduan ikut pengajian Mbah Nun yang dulu rutin diikutinya di Mocopat Syafaat. Tadi malam kangen itu terbayar dengan kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Baik hati bukan Sinau Bareng? Kelilingnya Mbah Nun dan KiaiKanjeng dapat sekaligus menjawab rasa kangen para “alumni” Majelis Ilmu Maiyah yang berada di dekat kota di mana Sinau Bareng digelar. Tentu nuansa yang beda rasanya mengikuti secara langsung Sinau Bareng secara muwajjahah dengan mengikuti melalui YouTube, sekalipun menyimak lewat YouTube juga banyak hal bisa didapat.

Itu sebabnya, sepanjang acara tadi malam, dia mencatat poin-poin wawasan dari Mbah Nun, seraya dapat menikmati langsung rasa kedekatan, kekhusyukan, dan kegembiraan yang ditularkan oleh Mbah Nun kepada seluruh hadirin, termasuk para perangkat pemerintahan dan pemuka masyarakat yang menemani di atas panggung.

Karena ini masih dalam suasana Idul Fitri, Mbah Nun sempat menguraikan sejarah dua ungkapan yang lazim digunakan dalam Idul Fitri, yaitu Halal Bihalal dan Minal ‘aidin wal faizin. Halal bihalal adalah ungkapan yang dicetuskan oleh KH Wahab Hasbullah saat Presiden Soekarno berkunjung ke beliau dan meminta saran istilah apa yang cocok untuk digunakan dalam suasana Idul Fitri di Indonesia. Kyai Wahab menyarankan istilah Halal Bihalal tersebut. Jadi ini istilah khas Indonesia yang tak ada di negara-negara lain.

Sementara itu Minal ‘Aidin wal Faizin berasal dari pernyataan Rasulullah usai Perang Badar. Para pejuang Badar yang masih hidup dikatakan oleh Nabi sebagai orang-orang yang kembali dari perang Badar dan mendapatkan berkah bagi keluarga masing-masing. Dalam makna yang luas, orang-orang yang berpuasa dapat dikata usai menjalani “peperangan” melawan hawa nafsu dan karena itu mereka tertransformasi kepada keadaan fitri.

Selain itu yang menarik dari Mbah Nun adalah pengingat dari beliau bahwa asalkan kita pikirannya bener, walaupun kita bukan siapa-siapa, kita bisa saling tersambung dan ketemu. Itulah satu hal dasar yang mendorong kita punya keinginan baik untuk saling berkumpul, bersatu, dan guyub. Itulah sedikit yang dicatat teman alumni Mocopat Syafaat tadi. Masih yang lain tentunya.

Acara Sinau Bareng yang diselenggarakan alumni perantau ini menorehkan satu hal penting, bahwa ukuran sukses bagi perantau bukan semata pada berapa banyak aset material yang telah dimiliki, melainkan berapa besar concern dan kiprah mereka dalam merawat kehidupan sosial, budaya, dan spiritual di dalam masyarakat. Para alumni perantau di Pejalaran telah mengingatkan hal ini dengan baik dengan menghadirkan Mbah Nun dan KiaiKanjeng. (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise