Alami Sendiri Persatuan Ini

Catatan Sinau Bareng CNKK dalam Rangka Hari Jadi Desa Bimomartani, 14 Mei 2019

“Dalam Rangka Hari Jadi Desa Bimomartani Sinau Bareng Nyawiji Demi Ridho Ilahi”. Kalimat tersebut terpampang pada background panggung. Dominan warna hijau dan ada gambar wajah Mbah Nun. Panggung cukup sederhana berdiri di tanah lapang, mungkin sehari-harinya siswa SD bermain-main di sini. Tapi jelas terlihat usaha warga untuk menyambut digelarnya Sinau Bareng di desa mereka pada hari Selasa 14 Mei 2019 Masehi. Rumput-rumput diratakan dan dibersihkan, para hadirin bisa duduk di posisi manapun dengan nyaman di atasnya.

Ba’da tarawih, lantunan sholawat telah bertalu-talu mengalun dari kelompok hadrah yang diisi pemuda-pemuda belia. Syair dan nada shalawat, yang merupakan hasil kreasi dari kejeniusan zaman lampau mengalun penuh cinta dan rindu pada Baginda Rasul Saw.

“Dumateng poro bapa poro ibu kito suwun ampun ten ajeng kamera, niki disyuting!” Seorang pemandu acara dengan kromo inggil memberitahukan sedikit mengarahkan tentu saja. Segerombolan ibu-ibu tampak “siap tempur” sudah membawa tikar sendiri yang langsung digelar. Dari sudut pandang dan lingkar pandang mana saja kita melihat, malam ini yang tampak adalah keindahan, persatuan, kekompakan, kekuatan dan kemandirian. Kalau di negara bernama NKRI yang ada bukannya seperti itu tapi malah kehancuran, pendangkalan, kebodohan, pertengkaran demi kejumudan maka biarlah. Mungkin kita memang berbeda dimensi kesadaran dengan negara tetangga sana itu. NKRI terserah, di Maiyah kami baik-baik saja.

Selepas pengarah acara memberi sambutan pada para hadirin dengan bahasa kromo inggil, yang walau kita tidak paham tapi terasa sangat menghormati, kemudian seorang qori` membacakan surat-surat cinta dari Al-Qur`an. Dan selepasnya dipersilahkanlah jajaran KiaiKanjeng menempati pos masing-masing di atas panggung. Sapaan demi sapaan, candaan kemudian membawa menjadi nomer “Lawang Swarga”. Tak berapa lama menjelma menjadi kesyahduan “Shalawat Badr” demi menyambut hadirnya Mbah Nun. Rindu itu tampak sekali dari tatapan para hadirin yang menyorot mesra ke panggung.

Mbah Nun menyapa hadirin, salam berbalas. Sorotan rindu itu masih menyala. Mbah Nun melantunkan Surah Al-Qashas ayat 5. Ayat yang selama ini hanya diartikan sebagai penghiburan atas Bani Israil yang sedang dalam kekuasaan rezim Firaun. Satu poin yang sangat mengena, Mbah Nun tekankan bahwa setiap mereka yang didhalimi, dimiskinkan, dan dimenderitakan akan mendapat bayaran langsung dari Allah Swt. Sehingga, “Dalam Islam yang kita lawan bukan kemiskinan tapi pemiskinan”. Mbah Nun mengingatkan bahwa musuh kita bukan siapa-siapa di luar diri kita, melainkan diri kita sendiri itulah musuh terhebat. Mbah Nun meminta JM yang hadir berpuasa dulu, artinya keterlibatan dalam proses Sinau Bareng malam ini lebih didahulukan kepada warga asli Bimomartani.

Tak lama Shalawat Nariyah melantun. Persatuan, perdamaian, cinta, kebersamaan. Tak perlu bicara banyak soal itu semua, mari kita alami malam ini. “Malam ini kita cari gembira-gembira saja, karena Islam turun untuk menggembirakan. Basyiran wa nadhiran” ungkap Mbah Nun. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun