Al-Qur’an dan Juru Masak Islam

Al-Qur’an itu sebenarnya adalah rahmat Allah yang sangat besar untuk kita ummat Islam. Padahal kalau kita baca surat Ar-Rahman, kita akan menemukan bahwa Al-Qur’an itu sudah “diciptakan” sebelum Allah menciptakan manusia.

Coba kita baca surah Ar-Rahman: Arrahmaan ‘allamal quran khalaqal insan ‘allamahul bayaan. Jadi Arrahman, Allah yang Maha Pengasih. Kemudian, ‘allamal quran. Langsung Allah menyatakan mengajarkan Al-Qur’an, baru setelah itu khalaqal insan. Allah menciptakan manusia. Wa ‘allamahul bayan, dan Allah mengajarkan kepada manusia al-bayan.

Al-bayan itu kemampuan untuk menerima pelajaran, kemampuan untuk memahami, kemampuan untuk menerangkan, kemampuan untuk mengajarkan. Jadi, Al-Qur’an itu sudah “diciptakan” sebelum Allah menciptakan manusia. Oleh karena itu, sebenarnya Al-Qur’an itu seharusnya memperoleh perhatian besar dari umat Islam.

Tapi kita tahu bahwa sebagian besar kita lebih banyak mempelajari agama itu bukan dari sumbernya, tapi sudah olahan para ulama kita. Padahal, ulama itu bermacam-macam. Sehingga ada ungkapan ibaratnya Al-Qur’an itu bahan mentah, kemudian dijualnya di warung-warung, dan  itu setelah melalui proses dimasak oleh juru masak.

Nah, kita memahami Islam itu dari masakan orang lain. Oleh karena itu, kalau sekarang kita mempelajari Al-Qur’an itu karena sedikit banyak kita ingin tahu sebetulnya proses memasaknya itu bagaimana. Supaya kita tidak sekadar pergi ke warung kemudian memilih makanan yang kita suka atau warung itu sendiri punya ciri khas sesuai dengan kecenderungan juru masaknya. Ada yang suka pedas, ada yang tidak.

Buku Cak Nun