Al-Hadlil

Beberapa tahun terakhir ini, terutama selama menjalani tugas Maiyah sejak 2006, setiap kali menulis, aku “mengaku” bahwa semua tulisan itu kuperuntukkan bagi anak-anak cucu-cucu Maiyah.

Memang sih benar demikian, hatiku sungguh-sungguh untuk anak-anak cucu-cucuku itu. Tetapi aku tetap seorang manusia di antara semua manusia. Aku tetap makhluk di antara segala makhluk. Aku hamba di antara seluruh hamba Allah SWT.

Maka andaikan aku sebatang pohon yang ditugasi untuk berbuah, maka buahku pastilah kubuka manfaatnya bagi seluruh kemungkinan. Makhluk apapun, manusia siapapun, penghuni semesta sebelah manapun, serta penduduk Negeri dan Negara manapun — kubukakan pintu selebar-lebarnya untuk menikmati buahku.

Apalagi aku dipasang Tuhan lahir di tanah Jawa, menjadi warganegara Indonesia, bagian dari mozaik keluasan dan keagungan Nusantara dari masa silam ke hari depan. Ditanam di lubuknyalah hatiku. Bertapa di dalamnyalah jiwaku.

Beribu-ribu tulisan dan berbagai jenis bebuahan lainnya selama lebih 40 tahun. Aku ditugasi dan diperjalankan terus sampai hari ini, siang malam, sore hingga pagi. Syukur cukup banyak hamba-hamba Allah mengenyam dan mempergizi kehidupannya dalam kesunyian, dengan bebuahan yang kusebar ke segala penjuru.

Namun tahun-tahun terakhir ini aku sangat cemas tumpukan buah-buah dari pepohonanku membusuk. Berhimpun sia-sia. Tercecer-cecer, tergeletak di sana sini, terinjak-injak oleh banyak macam hewan semesta.

Kubikin Seri Reformasi hingga 20, kemudian kuhentikan, karena akan membusuk sesudah kujatuhkan dari tangkainya. Angka 20 itu bukan mistik atau syariat atau matematika semesta, melainkan sekedar momentum kekawatiran diancam oleh pembusukan.

Juga Seri Ramadlan kuhentikan pada 30. Untung sebulan Ramadlan memang 30 hari. Seri Fitri kustop pada 35. Seri #SGKN201901 kubatasi hanya 17. Tapi Aku Mencintaimu 30. Berikutnya seri lain 25. Syarat Presiden NKRI 45 edisi, sama sekali bukan terkait dengan tahun kemerdekaan 1945. Kemudian 39, lantas Kepemimpinan 73 edisi. Dan banyak lagi bebuahan yang tanggal sendiri dari tangkainya.

Setiap kali selalu tidak tuntas, karena begitu buah berpisah dari pohonnya, ia terancam busuk sebelum matang.

Aku dilarang membiarkan kebusukan dan pembusukan terjadi pada bebuahanku. Setiap kemungkinan itu tampak, kudaur ulang bebuahan itu dengan sistem pohon yang baru, kemudian sebagian kupastikan yang kusebarkan adalah bijih-bijihnya. Anak-anak cucu-cucuku sudah mengerti itu sehingga yang mereka himpun adalah bebijian dari langit Allah yang dititipkan untuk bumi.

Kenapa aku sangat takut bebuahanku akan membusuk? 

Pertama karena penduduk Negeri ini, terutama para pemimpinnya di lapisan atas dan menengah, sudah berubah kemakhlukannya menjadi spesies baru yang sanggup hidup di dalam kebusukan. Bahkan sudah sangat pandai menikmati kebusukan. 

Uget-uget, set-set, belatung-belatung, beregenerasi dan meregenerasi di sekitarku dan di seantero Nusantara secara dahsyat dengan deret hitung maupun derat ukur.

Dan kedua, karena kepemimpinan sejarah bangsaku di Nusantara ini sudah terperosok ke lembah Al-Hadlidl, ya mesin berpikirnya, mentalitasnya, jiwa spiritualnya, sampai juga segala urusan hulu hingga hilirnya.

Tinggal sejumlah anak dan cucuku, kunantikan besok pagi zaman sesudah peralihannya yang sedang bergulir.

Yogya, 19 Februari 2019
Emha Ainun Nadjib

Buku Cak Nun