Aku Ingin Mencium Kaki Cak Nun

Apa yang perlu saya banggakan lagi Cak?! Ketika mendengar ceramah-ceramah jenengan, bukan saja kebanggaan ini saja yang hilang, bahkan kehormatan saya pun tercerai berai diberangus keburukan diri yang mulai tampak jelas ketika jenengan berorasi.

Hasanahmu dalam suatu mimbar, seolah tanpa basa basi lagi satu persatu mutiara demi mutiara kata jenengan secara spontan telah membuat cermin besar dan saya terkondisikan untuk bertelanjang. Lantas sombong, iri, dengki dan bualan merasa suci hingga penyakit sebagai pembenci itu pun tampak nyata di sekujur tubuh ini. Ketika itu juga jiwa yang dibaluti rasa malu secara tegas bertanya: “Menungso model opo aku iki Cak?!” (Manusia macam apa aku ini Cak?!).

Betapa jenengan begitu sabar, telaten (komitmen) dan tegas mendidik kami berperang melawan angkaro murkoning pangroso (nafsu sesat yang mengendap di hati). Jenengan semangati kami untuk melibas durjo durjaning berholo murantoto (rasa menuhankan diri yang telah berani-beraninya meniadakan Tuhan yang sejati). Jenengan pacu langkah kaki kami untuk meraih urip mukti tan keno nyilakani (hidup mulia tanpa perlu menghina ataupun merendahkan sesama).

Lantas apa yang pernah kami berikan kepada jenengan selama ini Cak? Setelah jenengan berikan semua ilmu sorga itu secara cuma-cuma?! Kami hanya bisa ngrepoti jenengan, nyulayani paugeran jenengan (ingkar janji terhadap apa yang jenengan ajarkan), nerjang pangribawane jenengan (mencoreng nama baik jenengan). Yang seharusnya jenengan punya hak mutlak sanjang (berkata): kowe-kowe menungso ladak lan kurang ajar (kalian itu hanya manusia angkuh dan tidak punya aturan), namun faktanya jenengan justru semakin membuat penerangan besar-besaran agar kami tidak terjebak dalam kegelapan.

Duh Gusti Pangeran kulo, leresipun Cak Nun meniko jalmo membo dewo, nopo dewo membo jalmo?! (Wahai Tuhanku, sebenarnya Cak Nun ini manusia menjelma Malaikat apa Malaikat menjelma manusia?!).

Duh Cak Nun, jangankan dibilang manusia luhur, diberi pujian sebagai Malaikat saja jenengan gak gumun (tidak mudah tersanjung). Kelas jenengan sudah melewati ambang batas manusia waras, sedangkan kami mau mewaraskan diri saja aras-arasen (malas-malasan).

Kami-kami masih mudah tergiur dibilang manusia baik, sedang jenengan yang menjadi biang kebaikan saja gak mau menonjolkan diri sebagai yang terbaik, ya sudah inilah kami Cak! Kami yang sekali lagi dereng jejeg ngambah pepener (belum sanggup berdiri dalam kebenaran), dereng lulus manjing ing kasunyatan gesang (belum lulus menjadi manusia yang mengemban fakta kehidupan), walau demikian jangan tinggalkan kami Cak. Jangan jenengan acuhkan kami, jangan sampai jenengan tidak menyebut nama-nama kami yang belum waras ini dalam doa dan dzikirmu, jangan Cak. Kami ingin waras, kami ingin jadi manusia yang sebenarnya dan masih berkeinginan memanusiakan manusia sebagaimana yang jenengan ajarkan selama ini.

Demi ALLAH, jenengan harus sehat, jenengan kedah panjang umur, jenengan ampun gerah Cak. Jenengan adalah suri tauladan yang selalu membelajari kami harus menikmati keindahan tanpa perlu ambisius untuk memilikinya. Jenengan perlihatkan kepada kami bahwa tetembungan guyub rukun seduluran selawase iku laku utomo tan ono watese (menebar perdamaian dan kerukunan antar anak manusia adalah amal ibadah yang tidak bisa dibatasi pahalanya).

Cak, ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk jenengan. Tapi saya akan terus mengucapkan rasa terima kasih itu kagem (untuk) jenengan yang saya kemas dalam doa-doa. Pangapunten Cak, jika ALLAH mengijinkan gedibal cangkrukan ini akan mencium kaki jenengan pada saat kita dipertemukan.

Salam rindu dan cinta kagem panjenengan selalu Cak Nun….
Sri Narendra

#Srinarendrakalaseba
#Kidungwahyukolosebo

Buku Cak Nun