‘Ajibah Maiyah di Tengah Turbulance Kemiringan

Masyarakat Maiyah dibukakan pintu ilmu agar belajar kepada situasi turbulance yang nyaris menjungkirbalikkan tatanan kebaikan, kebenaran, keindahan–mulai dari ketidaktepatan penggunaan kata-kata hingga praktik shummun bukmun ‘umyun fahum laa ya’qilun di segala situasi.

Kita didorong masuk ke dalam ruang waktu di mana Masyarakat Maiyah dihadapkan pada desakan dari dalam diri sendiri: apakah akan tetap tegak (i’tidal) menjaga martabat dan harga diri dengan menciptakan ruang kehangatan bebrayan, ataukah “membatalkan puasa” untuk ikut pesta-pora memakan bangkai saudara sendiri?

Tidak heran apabila di setiap Sinau Bareng, di berbagai kota dan daerah, di hadapan ribuan manusia, di bermacam-macam lapisan kelompok dan jamaah, Mbah Nun memastikan keamanan dan kerukunan hidup bersama. Semua itu dimulai, misalnya dengan membuka pintu berpikir, meluaskan perspektif pandangan, membijaksanai keadaan yang diberangkatkan dari kenyataan hidup sehari-hari yang faktual.

Sinau Bareng menawarkan model “people power” yang mengkudeta dan mengevolusi kejumudan cara berpikir, kebekuan arah dialog, kesempitan cara pandang, kepicikan jiwa. Mohon harap diingat juga: setoran kebaikan, proses belajar yang tak kenal finish, persembahan cinta untuk Kanjeng Nabi dibingkai oleh kesadaran yughoyyiruu maa. Sedangkan pelaku perubahan ini adalah Allah Swt.

Dan lihatlah, “people power” itu bertahan hingga lewat tengah malam. Di beberapa tempat bahkan menjelang subuh baru selesai. Anak-anak kecil tidak rewel. Bayi tidur pulas di atas tikar plastik. Hujan yang turun semalam suntuk dinikmati sebagai rahmat Tuhan yang menambah rasa syukur. Sering pula mereka bertahan seakan tidak ingin segera pulang kembali ke rumah masing-masing.

“People power” Sinau Bareng bukan lazimnya gerakan massa seperti yang dipahami kamus politik. Ribuan orang berkumpul tidak untuk show of force, tidak untuk mengutuk dan menjatuhkan lawan, tidak pula untuk merebut kekuasaan lalu mengangkat seseorang menjadi pemimpin. Mereka berduyun-duyun dari pelosok dusun terpencil untuk merasakan, mengalami dan menikmati ‘Ajibah Maiyah, yang mustahil digerakkan kecuali oleh Al-Mughayyir, Sang Maha Penggerak Perubahan.

Amar Maiyah adalah bagian dari “arus utama” perubahan yang dibingkai oleh Cinta Segitiga, dan karena itu pasti tidak akan berani menyalahi kehendak-Nya. Ditempuh dengan cara atau thariqah yang tidak bertujuan untuk menghinakan atau menghancurkan dhalimun–walaupun nafsu untuk mokel kadang menginginkan hal itu terjadi.

Menang tanpa ngasorake atau nglurug tanpa bala dijalani Masyarakat Maiyah dengan cara merapatkan shaf lingkaran, mewiridkan Doa Tahlukah dan Hizb Nashr. Atau ndremimil di sela aktivitas bekerja, membaca kaana zahuuqa. Masyarakat Maiyah adalah rakyat kecil sehingga keamanan keluarga serta keberlangsungan wa laa tansa nashiibaka minaddun-ya adalah prioritas primer.

Yang bisa dilakukan rakyat kecil adalah bersedekah kebaikan sambil memasang kewaspadaan pikiran dan hati di tengah arus kepentingan yang justru menyeret mereka sebagai tumbal. Pada konteks ini Amar Maiyah adalah tonggak untuk gandolan atau sekaligus perahu yang pada kondisi tertentu menampung para penumpang dari banjir bandang yang menghanyutkan pilar martabat dan harga diri kemanusiaan.

Masyarakat Maiyah bukan penghuni salah satu garis dikotomi, bukan penganjur polarisasi, bukan provokator paslon–melainkan pencipta cuaca yang menumbuhkan benih-benih kebaikan untuk kebutuhan masa depan anak cucu. Caranya bagaimana? Dengan melakukan sedekah dalam pengertian dan aksi yang substantif, akurat dan shalih untuk memelihara keseimbangan.

Demikian pula menyikapi polarisasi dan konfrontasi Pilpres 2019, Masyarakat Maiyah berlindung kepada Allah seraya terus menerus mewiridkan Al Qur’an surat Ali Imran ayat 26: “Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Buku Cak Nun