‘Ajibah 3 Tahun Suluk Surakartan

Mukadimah Suluk Surakartan Mei 2019

Di tengah gelombang adu domba dan pecah belah yang terus menerus menggulung kehidupan, perahu maiyah telah memberi arah baru bagaimana kita dalam melalui ganasnya gelombang itu.

Manusia yang semula utuh dengan kemanusiaannya, dipecah untuk sekadar dieksploitasi intelektualnya saja atau spiritualnya saja, lalu keduanya kemudian dibenturkan tanpa ampun. Tapi melalui perahu maiyah, manusia diutuhkan kembali kemanusiaannya.

Di saat manusia berkelompok-kelompok dengan menonjolkan identitas dan saling berlomba mengejar kepentingan pragmatisnya, hingga melahirkan kompetisi dan eksploitasi sesama manusia, maiyah menawarkan arah baru bahwa hidup itu adalah persaudaraan yang dilandasi cinta sejati, saling mengenali dan menerima seutuhnya.

Bermula dari sebuah desa kecil di pedalaman Jombang, spirit cinta itu terus meluas, menyebar, dan mewarnai Nusantara. Terbentuklah lingkaran-lingkaran persaudaraan, membangun perahu-perahu maiyah untuk penyelamatan kehidupan bersama. Dengan semangat cinta dan persaudaraan itu, diharapkan gelombang yang ganas akan dapat dihadapi dan dilewati dengan baik, demi keselamatan anak cucu di masa depan.

Suluk Surakartan, salah satu lingkaran persaudaraan itu kini telah berusia tiga tahun. Usia yang masih terbilang muda, namun dalam perjalanannya telah merajut persaudaraan banyak manusia. Itulah ‘ajibah dari perahu maiyah ini. Semua berkat karunia Allah yang menembus jiwa-jiwa manusia, sehingga mereka mau berkumpul setiap bulan untuk saling rendah hati sinau bareng. Semua menjadi guru bagi sesamanya. Semua menjadi murid yang ngangsu kawruh dari apa yang dipelajari bersama.

Pada usia yang ketiga ini, patutlah kita mengucapkan syukur dan seterusnya tetap menghaturkan syukur atas karunia ini. Semoga apa yang telah berjalan ini terus bisa lestari, dan kita semua bisa mengambil makna dari setiap hal yang digelar di acara sinau bareng ini. Semakin hari semakin dewasa pikiran manusia-manusianya, semakin mandiri dan berdaulat kehidupannya, baik di ekonomi maupun kebudayaannya. Sehingga dengannya, ia menjadi salah satu sebab kebangkitan bangsa ini kelak. (YAP)

Buku Cak Nun